Artikel ini mengandung spoiler, tentang akhir film dan tentang akhir zaman. Yang pertama mungkin bisa merusak kejutan Anda; yang kedua mungkin bisa menyelamatkan jiwa Anda. Tulisan ini bukanlah ulasan film atau penceritaan ulang kisah epik, namun sebuah eksplorasi mengenai bagaimana adegan klimaks dalam kisah epik Homer mengantisipasi akhir sejarah yang mengejutkan dalam kedatangan Kristus yang nyata. Apa yang bergema dalam satu kisah epik itu pada akhirnya adalah apa yang akan terjadi dalam kisah epik yang lain.
Dalam versi terbaru The Odyssey, salah satu sutradara yang paling sukses dalam generasi kita bekerja sama dengan jajaran pemeran papan atas, dengan anggaran sebesar PDB sebuah negara kecil untuk membawa kita ke laut Mediterania, mengikuti perjalanan pulang Odysseus setelah Perang Troya (perang yang terkenal dengan kuda kayu raksasa). Setelah menyinggung dewa Poseidon, dia mengarungi berbagai badai dan menghadapi musuh-musuh yang kejam, semuanya demi kembali ke rumah kepada istrinya yang setia menunggu dan kerajaannya di Ithaka.
Seperti bukunya, film ini penuh dengan kekerasan (rated R) dan tidak cocok untuk anak-anak maupun sebagian orang dewasa. Selain itu, para puris yang membaca kembali puisi epik tersebut untuk menyegarkan pengetahuan mereka tentang Peradaban Barat pasti akan menemukan berbagai perbedaan yang menimbulkan kekecewaan. Ada pula yang tidak terkesan dengan seorang aktris transgender yang memerankan prajurit pria. Sebagian lagi enggan menonton adaptasi epik Yunani ini karena menampilkan beberapa aktor dan aktris keturunan Afrika, India, dan Asia. Ada yang tidak bisa mengabaikan kekurangan-kekurangan ini, dan di tengah industri hiburan yang yang dipenuhi dengan agenda progresif, kelelahan semacam itu bisa dimaklumi.
Lanjut berlayar.
Kembalinya Odysseus
Adegan klimaksnya, sebagaimana diketahui oleh para pembaca Homeros, adalah adegan yang paling berdarah.
Odysseus, setelah dua puluh tahun pergi, kembali ke tanah airnya seorang diri. Kapalnya telah hancur dan prajurit-prajuritnya telah tewas, dibunuh dengan berbagai cara yang hanya dapat diceritakan oleh sebuah kisah epik Yunani. Namun penderitaan belum berakhir. Dia telah berperang selama sepuluh tahun, diombang-ambingkan oleh dewa laut yang murka, menghadapi raksasa, penyihir, siren, dan dewi-dewi lainnya yang bertekad agar dia tidak pernah pulang. Namun masih ada setidaknya seratus persoalan lagi di rumahnya. Memakan makanannya. Menggoda para pelayan perempuannya. Memburu istrinya. Bersekongkol melawan anaknya.
Para pelamar mengerumuni Penelope, mempelainya, seperti lalat pada daging mentah. Mereka saling bersaing untuk merebutkan tangan sang ratu. Sekutu-sekutu Odysseus kini tinggal sedikit di kerajaan itu, karena ia dianggap sudah mati. Putranya masih muda dan menjadi sasaran empuk. Para pelamar yang tamak, ambisius, dan sombong itu bagaikan pasukan kecil yang bertekad agar salah satu dari mereka naik takhta. Bahkan Odysseus yang perkasa pun tidak bisa begitu saja masuk ke rumahnya dan merebut kembali istananya. Istananya kini dipenuhi orang-orang berbahaya yang mengantri untuk memperoleh mahkota.
Penelope setuju telah setuju untuk menikahi salah seorang dari mereka setelah kain kafan yang ditenunnya selesai. Dia menenunnya pada siang hari dan diam-diam menguraikannya kembali pada malam hari. Dia tetap menunggu, masih berharap suaminya akan pulang.
Menyamar sebagai seorang pengemis, Odysseus akhirnya memasuki istananya sendiri dan mengamati keadaan. Dia bersabar. Dia mengambil waktu untuk mengintai, sebagaimana seorang jenderal memetakan wilayah musuh. Beberapa pelamar menghina dia, mengejek dia, dan merendahkan dia karena menganggapnya hanya seorang tua yang lemah dan tidak berdaya. Dia mempertaruhkan nyawanya di medan perang negeri asing untuk melindungi orang-orang seperti mereka—dia benar-benar pergi ke Hades dan kembali—dan ini balasan yang dia terima? Para pelamar menyembelih ternaknya demi mengenyangkan perut mereka sendiri; orang-orang mengawasi setiap gerak-gerik istrinya? Orang-orang yang tidak tahu terima kasih ini telah mencemari para pelayan perempuannya; tumor-tumor ini ingin membunuh anaknya yang terkasih.
Namun semuanya berubah ketika tantangan untuk memperebutkan tangan Penelope dimulai.
Odysseus memiliki busur yang hanya bisa direntangkan olehnya. Penelope berkata bahwa siapapun yang dapat memasang busur itu dan memanahkan anak panah menembus deretan kapak hingga mengenai sasaran akan menjadi suaminya. Setiap pria mencoba, tetapi gagal. Sebuah suara lemah mengusulkan agar dia mencobanya. Dengan nada mengejek, para pelamar menyerahkan busur besar itu kepada pengemis tua yang mereka hina.
Yang mengejutkan semua orang, ia merentangkan busur itu dan mengenai sasaran. Yang lebih memancing amarah mereka, ia lalu berbalik dan melepaskan anak panah lain, membunuh pemimpin utama para pelamar. Homer menulis bahwa pada awal pembantaian itu, “pembunuhan adalah hal terakhir yang terlintas di benak para pelamar: siapa yang mengira bahwa satu musuh di tengah kerumunan pesta itu, betapapun besar kekuatannya, akan mendatangkan maut?” (22. 11-14).
Mereka mengira pengemis tua itu pasti telah membunuh pemimpin para pelamar secara tidak sengaja. Kerumunan itu menjadi gempar. “Hai orang asing,” kata merek yang masih hidup, “memanah manusia akan membuatmu kehilangan nyawamu!
Permainanmu sudah selesai—engkau, engkau telah melepaskan anak panahmu yang terakhir! Engkau tidak akan lolos dari kematian sendiri! Engkau telah membunuh orang terbaik di Ithaka—pangeran kami yang mulia! Burung nasar akan memakan mayatmu!” (22.27-31). Mereka “buta terhadap kenyataan bahwa leher mereka sendiri sudah terjerat tali gantungan, kebinasaan mereka sudah pasti” (22.33-34).
Kemudian sebuah suara berbicara seolah dari liang kubur. “Hai anjing-anjing!” kata orang asing itu. “Kalian tidak pernah membayangkan aku akan kembali dari Troya—begitu yakin diri sehingga kalian menguras habis rumahku, memperkosa para pelayan perempuanku, meminang istriku di belakangku semetara aku masih hidup. Tidak ada rasa takut kepada para dewa yang menguasai langit, tidak ada rasa takut bahwa suatu hari nanti balas dendam manusia akan datang—kini leher kalian semua sudah terjerat tali gantungan—kebinasaan kalian telah dipastikan!” Ketika dia mengatakan itu, “ketakutan mencekam mereka semua” (22.36-43).
Pintu-pintu terkunci. Sebagian besar senjata telah disingkirkan. Pembalasan pun dimulai, Sebagai memohon nyawa mereka berdasarkan perbuatan baik yang pernah mereka lakukan, namun tetap mati. Sebagian lain, yang pernah berbuat baik kepada putranya, dibiarkan hidup. Sisanya melarikan diri atau melawan. Setelah pergulatan hebat, sebagian besar dari 108 pelamar itu tergeletak terbunuh dan berlutut menyerah.
Kedatangan Kembali Kristus
Menyaksikan adegan ini dimainkan di layar lebar menimbulkan rasa takjub, bagaikan gelombang samudera, yang menyapu para penonton. Jelas terlihat penonton senang menyaksikan orang-orang sombong itu, dengan janggut yang ternoda anggur milik orang lain dan kuku yang panjang, kotor oleh daging milik orang lain, akhirnya dikalahkan. Orang-orang jahat itu menerima apa yang pantas mereka dapatkan, sekalipun dengan cara yang sadis.
Saat itulah saya tersadar: Kebanyakan orang yang merasakan pembalasan itu tidak menyadari bahwa mereka sendiri sedang menantikan penghakiman yang jauh lebih pada akhir zaman. Merekalah para pelamar itu, yang berpesta dengan roti dan anggur miliki Sang Tuan, bersikap acuh tak acuh (bahkan memusuhi) anak-Nya, dan diperbudak oleh hawa nafsu mereka. Mereka tidak memuliakan Allah ataupun mengucap syukur kepada-Nya. Mereka menghirup udara-Nya, hidup di tanah-Nya, tidur dengan para pelayan-Nya yang memberontak—tidak ada rasa takut akan Allah di depan mata mereka.
Mereka berpura-pura tidak mempunyai raja selain diri mereka sendiri karena Raja yang sejati berada di negeri yang jauh, bahkan dianggap sudah mati. Entah selama dua puluh tahun ataupun dua ribu tahun, para pelamar yang tidak setia ini memakan makanan-Nya, meminum minuman-Nya, sambil bertanya dalam kemabukan mereka, “Dimanakah janji tentang kedatangan-Nya itu?: (2 Petrus 3:4, TB).
Sejarah, bahkan sekarang, sedang melaju menuju pasa terakhir ketika mempelai-Nya akan dibebaskan, kerajaan dipulihkan,dan orang-orang fasik dibunuh oleh Sang Raja dengan kematian yang kekal. Akankah adegan itu dikategorikan 17+ karena tingkat kekerasannya?
Raja ini, satu-satunya yang layak mengambil gulungan kitab dan membuka meterai-meterainya, akan menyatakan diri-Nya dalam kemuliaan pada saat orang-orang congkak sama sekali tidak memikirkan kematian. Jubah lusuh seorang Galilea yang dahulu tidak mempunyai tempat tinggal akan ditanggalkan, bersama dengan alas kakinya yang compang-camping. Semua orang akan melihat apa yang dilihat Yohanes:
Lalu aku melihat langit terbuka: sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama: “Yang Setia dan Yang Benar”, Ia menghakimi dan berperang dengan adil. Dan mata-Nya bagaikan nyala api dan di atas kepala-Nya terdapat banyak mahkota dan pada-Nya ada tertulis suatu nama yang tidak diketahui seorang pun, kecuali Ia sendiri. Dan ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: “Firma Allah.” Dan semua pasukan yang di sorga mengikuti Dia; mreka menunggang kuda putih dan memakai lenan halu yang putih berih. Dan dari mulut-Nya keluarlah sebilah pedang tajam yang akan memukul segala bangsa. Dan Ia akan menggembalakan mereka dengan gada besi dan Ia akan memeras anggur dalam kilangan anggur, yaitu kegeraman murka Alah yang Mahakuasa. Dan pada jubah-Nya dan paha-Nya tertulis suatu nama, yaitu: “Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan.”
(Wahyu 19:11-16, TB)
“Anjing-anjing,” demikian suara keadilan berseru, “apakah kalian mengira bahwa Aku tidak akan kembali? Kalian telah menghamburkan milik-Ku, memaksa para pelayan perempuan-Ku tidur dengan kalian, dan meminang istri-Ku dibelakangku sementara aku masih hidup. Kalian tidak takut kepada Allah maupun manusia, dan sekarang kalian akan binasa.”
Dengan penuh kengerian, orang-ornag jahat yang menolak pemerintahan-Nya akan mengakui kesalahan mereka, tetapi mencoba menyuap-Nya dengan perbuatan-perbuatan baik atau melarikan diri dari murka-Nya. Namun, “mereka pasti tidak akan luput” (1 Tesalonika 5:3, TB). Sebagian akan berseru kepada gunung-gunung agar menimpa mereka daripada harus menghadapi murka Sang Raja yang benar (Wahyu 6:16, TB). Gunung-gunung tidak akan menuruti mereka. Orang-orang fasik akan tanpa senjata. Tersingkap Gemetar.
Sang raja yang sah akan memiliki busur keadilan-Nya, yang hanya bisa direntangkan dan dilepaskan oleh-Nya seorang. Setiap lutut akan bertelut. Setiap tindakan pengkhianatan akan diumumkan. Eksekusi pun akan dimulai.
Kilangan besar murka Allah akan diinjak—darah akan mengalir setinggi kekang kuda, sejauh bermil-mil (Wahyu 14:20). Para pelamar kecil takhta-Nya, para pemberontak terhadap kuasa-Nya, akan dikumpulkan dan dilemparkan—sambil meronta dan menjerit—ke dalam lautan api. “Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya, dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa” (Wahyu 14:11, TB). Suara yang akan terus terdengar dari mereka hanyalah ratapan dan kertakan gigi. Dan semua orang kudus serta para malaikat akan merayakan kedatangan kembali Sang Raja dan kemenangan-Nya yang terakhir atas orang-orang fasik.
Maukah Anda Berbalik?
Sungguh mengerikan menyaksikan orang mati di layar. Namun jika kita saja merasa ngeri menyaksikan pembalasan pura-pura dari satu orang yang murka, bagaimana jadinya ketika kita harus menghindari murka Allah yang Mahakuasa yang benar dalam kenyataan? Dan jika kita masih dapat melihat secercah keadilan dalma pembalasan manusia yang tidak sempura, alasan apa yang dapat kita kemukakkan ketika penghakiman yang sempurna turun untuk membalas kepada orang-orang fasik sesuai dengan yang pantas mereka terima?
Murka Allah sedang datang. Seorang yang jauh lebih agung daripada Odysseus sedang dalam perjalanan. Ia hanya menunggu untuk memberi waktu bagi para pengkhianat agar berlutut dan diselamatkan. Ia akan datang lebih cepat dari yang Andra kira. Bahkan sekarang pun dia sedang mengawasi. Larilah dari murka Allah dengan memohon belas kasihan-Nya sekarang juga. Ia akan mengampuni semua orang yang berbalik dari dosa dan percaya kepada perdamaian yang telah dia kerjakan. Ia memiliki bekas-bekas luka kemuliaan dari kemenangan-Nya yang bessar di kayu salib, tempat kasih dan belas kasihan-Nya tercurah melalui darah-Nya sendiri. Mengapa Anda harus binasa ketika Raja seperti itu menawarkan pengampunan penuh atas seluruh kejahatan Anda dan pendamaian yang sempurna dengan diri-Nya di dalam kerjaan-Nya? Hari ini adalah hari keselamatan—Anda tidak dijanjikan hari yang lain. “Ciumlah kaki Anak itu, supaya dia jangan murka dan kamu binasa di jalan, sebab mudah menyala murka-Nya. Berbahagialah semua orang yang berlindung pada-Nya!” (Mazmur 2:12, TB).
Greg Morse adalah penulis staf di Desiring God dan lulusan Bethlehem College and Seminary. Ia dan istrinya, Abigail, tinggal di Saint Paul bersama seorang putra dan tiga putri mereka. Baca lebih lanjut tentang Greg.






