Di Mana Allah Ketika Tidur Tak Kunjung Datang?

Saya menatap jam, ini sudah pukul 3 pagi. Jika saya tertidur sekarang, saya masih bisa mendapatkan waktu tidur tiga jam. Malam hari biasanya akan dipenuhi perhitungan-perhitungan sederhana semacam ini ketika Anda mengalami insomnia.

Insomnia telah menjadi teman tetap saya sejak sekolah menengah. Ada masa-masa yang lebih buruk daripada masa-masa lainnya, tetapi masa terburuk dalam hidup saya dimulai tak lama setelah ulang tahun pertama putri saya, ketika kedua kakak laki-lakinya sudah berusia tiga dan empat tahun. Malam itu saya tidur seperti biasa, tetapi dua jam kemudian saya terbangun dan tidak pernah bisa tidur kembali. Saya mulai melewatkan semalam penuh tanpa tidur, kadang-kadang sampai tiga kali dalam seminggu. Saya berharap para dokter dapat menyembuhkan saya, tetapi ketika berminggu-minggu berubah menjadi berbulan-bulan dan berbulan-bulan menjadi bertahun-tahun, saya menyadari bahwa ini bukanlah suatu keadaan yang akan berlangsung dalam  jangka pendek.

Sulit untuk menggambarkan betapa putus asanya perasaan saya ketika saya masih terjaga pada pukul 4 pagi, 5 pagi, dan kemudian pukul 6 pagi ketika alarm berbunyi, hari secara resmi akan dimulai. Ada banyak malam saya berputus asa. Namun kemudian, perlahan-lahan, seiring berjalannya waktu, sesuatu yang mengejutkan terjadi, Allah melatih saya, sebagaimana Dia telah melatih banyak anak- anak-Nya yang lain, untuk “merangkul badai gelombang yang melemparkan saya kepada Batu Zaman.”[1]

 

Letakkan Tangan Anda di Atas Mulut

Saya beralih kepada kitab Mazmur, merasa memiliki hubungan tertentu dengan mereka yang berseru kepada Allah lama setelah matahari terbenam. Saya berharap Allah juga akan memberi saya “nyanyian pada malam hari” (Mazmur 77:7). Saya berusaha untuk “mengingat Dia di tempat tidurku dan merenungkan Dia sepanjang kawal malam” (Mazmur 63:7). Meskipun tangan saya “terulur terus-menerus,” memohon kelegaan kepada Allah, seolah-olah Allah membuat “kelopak mataku terbuka,” sehingga saya tidak mendapatkan tidur yang sangat saya rindukan (Mazmur 77:3, 4). “Mengapa Engkau melupakan aku?” saya berseru bersama pemazmur (Mazmur 42:10). Apakah telah “diutup-Nyakah rahmat-Nya?” (Mazmur 77:10). Sulit untuk percaya bahwa Allah menyimpan air mata saya dalam kirbat-Nya (Mazmur 56:9)

Berulang kali saya memohon kepada Allah agar menolong saya agar dapat tertidur. Saya menuduh Dia tidak menyediakan kebutuhan saya sebagaimana yang telah Dia janjikan; kemudian saya dengan setengah hati bertobat dari tuduhan-tuduhan saya yang keliru dan mengingatkan diri sendiri bahwa mungkin saya akan berpikir lebih masuk akal pada siang hari. Ada hikmat dalam mengalihkan perhatian ketika Anda tidak dapat mengatasi jenis gelombang yang berbeda, yakni gelombang “keraguan yang semakin besar” dan “keluhan pemberontakan.” Saya belajar untuk bangun dan melakukan sesuatu yang lain sampai saya dapat mengumpulkan kembali pemikiran yang lebih kudus.

Salah satu pengalihan perhatian yang paling berkesan adalah sebuah podcast yang menampilkan seorang pria Inggris dari Liverpool yang membacakan bagian-bagian dari Alkitab versi King James. Saya mendengarkannya dengan penuh harapan, barangkali saya bisa segera tertidur mendengar suara serak dari dialek orang Liverpool itu. Namun, sebagian besar waktu saya justru mendapati diri saya terlibat secara mental. Kata-katanya begitu indah. (Selain itu, Apa itu “sackbut”? pikir saya. “Ensample”? “Lucre”?) Dalam masa yang membingungkan itu, Allah melatih saya untuk menenangkan dan mendiamkan jiwa saya dengan mendengarkan kebenaran, bukan merenungkan ketakutan dan keraguan saya (Mazmur 131:2). Saya belajar untuk “menutup mulut ku dengan tangan” dan membiarkan Allah mengajar saya (Ayub 40:4). Lagi pula, saya sering kali terlalu lelah untuk berdebat.

 

Allah Memperindah Masa-masa Sulit dengan Rahmat-Nya

Allah memberikan pelajaran-pelajaran lain kepada saya dalam melewati masa sulit selama dua tahun ini. Saya belajar bahwa Dia berkenan menyertai masa-masa penuh ujian ini dengan anugerah-anugerah yang dirancang secara istimewa. Dia memberikan begitu banyak kasih karunia yang secara khusus bertujuan untuk menguatkan semangat saya: sahabat-sahabat terkasih, buku-buku yang baik, hari-hari yang cerah, seorang suami yang dapat membuat saya tertawa (di samping kelebihan lain yang dia miliki), seorang putri kecil yang memberikan pelukan terbaik, mertua yang mau membawa anak-anak keluar selama beberapa jam, anak-anak yang mudah tidur siang, seorang dokter baru yang benar-benar mendengarkan, beberapa jawaban medis, dan beberapa kesempatan tak terduga untuk mengajarkan Alkitab yang membawa saya semakin dalam kepada firman (hal ini merupakan pengalaman yang sangat tepat dan saya perlukan). Saya menemukan bahwa Allah begitu personal dalam memberikan anugerah-Nya sebagaimana Dia juga hadir dalam masa sulit yang saya alami.

 

Bapa yang Baik Mendisiplin Anak-anak-Nya

Mungkin pemberian terbaik yang diberikan kepada saya dalam masa ini adalah teguran yang sangat saya perlukan. Kekurangan tidur bisa merampas energi yang diperlukan agar seseorang tidak mudah kehilangan kesabaran. Allah memakai insomnia untuk melunakkan ketidaksabaran, kemarahan, dan sikap ingin mengatur hidup saya sendiri. Hal itu juga membuat saya kekurangan tenaga untuk mengucapkan kata-kata keras dan menegur, dan juga banyak kata lainnya; bagaimanapun, orang yang lelah bukanlah orang yang paling pandai dalam mengungkapkan pikirannya. Kelelahan memperlambat saya, mengajar saya untuk menjadi lebih memperhatikan dan lebih suka merenung.

Bukankah memang seperti itulah Bapa surgawi kita, melakukan bagi kita apa yang tidak dapat atau tidak mau kita lakukan bagi diri kita sendiri? Karena Dia mengasihi saya, Dia tidak ragu melakukan apa yang diperlukan untuk mengikis bagian-bagian keras dan mati dalam hati saya. Dia merendahkan dan menundukkan saya, dan saya menjadi lebih baik karenanya. Saya mulai berharap bahwa masa disiplin yang menyakitkan ini pada akhirnya akan menghasilkan tuaian kebenaran yang telah dijanjikan (Ibrani 12:7–11).

 

Anugerah-Nya Cukup

Ketika Paulus berdoa memohon kelegaan dari duri dalam dagingnya, Allah menjawab, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Korintus 12:9). Saya telah mendengar dan bahkan mengutip ayat ini berkali-kali sebelumnya, tetapi insomnia mengajarkan saya maknanya. Saya ingin ayat itu berarti bahwa Allah memberikan anugerah yang berlimpah, bahkan berlebihan, dalam kelemahan, anugerah yang secara ajaib menyediakan energi yang tidak terbatas dan pikiran yang jernih bahkan setelah tiga puluh jam terjaga. Itu merupakan perluasan makna yang cukup jauh untuk kata cukup, tetapi meskipun saat itu saya sangat lelah, saya masih optimistis.

Ketika kenyataan mulai bisa saya terima, saya belajar bahwa “cukup” berarti Allah memberikan apa yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan baik yang ada di hadapan saya. Itu adalah situasi “manna untuk hari ini”; saya belajar bergantung pada anugerah-Nya dari masa ke masa (Keluaran 16:4–5). Dan setiap waktu, Dia mencukupi kebutuhan saya. Anak-anak berpakaian, diberi makan, dikasihi, dan ditidurkan pada malam hari. Rumah itu masih berdiri. Kamar mandi dalam keadaan bersih. Saya telah menyusun sebuah materi untuk konferensi perempuan di gereja. Dan saya tidak dapat menjelaskan bagaimana semua itu bisa terlaksana. Puji Tuhan! Sekali lagi, Dia menepati janji-Nya.

 

Orang Lain Juga Membutuhkan Anugerah

Seiring waktu, saya menjadi lebih baik dalam berdoa pada malam hari dan ini ternyata membantu untuk berhenti terlalu banyak memikirkan diri sendiri. Mengasihani diri sendiri merupakan ancaman nyata terhadap kebajikan. Saya belajar bahwa jika Allah “memperhatikan aku,” dan jika pikiran-pikiran-Nya itu jumlahnya tidak terhitung, mungkin saya dapat menyisihkan beberapa pikiran saya sendiri untuk orang lain (Mazmur 40:18; 139:17–18). Saya mulai memikirkan semua orang lain yang juga terjaga pada malam hari. Ada begitu banyak: orang tua yang memiliki bayi yang baru lahir, para janda yang berdukacita, mereka yang terus-menerus dilanda kecemasan, orang-orang yang sakit parah dan menderita penyakit kronis, pasien pasca operasi, mereka yang bekerja pada shift malam, para tunawisma, dan orang-orang yang berpindah dari satu bar ke bar lainnya, mengejar kebahagiaan sesaat jauh hingga larut malam. Betapa kita semua sangat membutuhkan anugerah Allah! Ketika Allah menghadirkan orang-orang ini dalam pikiran saya, saya berdoa bagi mereka, dengan segenap hati percaya bahwa jika Dia telah mendorong saya untuk berdoa, Dia telah siap untuk bekerja.

 

Kecuplah Gelombang Itu

Jika Anda sedang berada dalam masa tanpa tidur yang serupa, inilah nasihat terbaik saya: Jangan melawan gelombang yang dimaksudkan untuk melemparkan Anda kepada sang Batu Karang. Anda tidak dapat menahan napas dan menyelam ke bawah gelombang sampai gelombang itu berlalu. Anda tidak dapat menahan diri melawan kekuatannya. Itu adalah tangan Allah yang baik, yang menahan Anda pada Batu Karang. Meskipun itu akan menyakiti Anda, itu tidak akan menghancurkan Anda. Hal itu mungkin terasa seperti hal yang tidak baik, tetapi rasa sakit itu berada dalam kendali Allah, dibatasi, dijaga, dan dikerahkan secara tepat hanya untuk tujuan-tujuan-Nya yang baik dan maksud kebapaan-Nya bagi hidup Anda.

Jadi, ketika Anda telah kehabisan kata-kata, letakkan tangan Anda di atas mulut dan dengarkan. Seraplah firman seperti orang-orang Israel yang kehausan meminum air dari batu di padang gurun. Jika Anda tidak dapat menenangkan pikiran untuk membaca Alkitab, dengarkanlah firman-Nya. “Itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu” (Amsal 3:8). Kemudian, pandanglah ke atas dan lihatlah ke sekeliling Anda. Perhatikan berbagai anugerah yang dirancang secara khusus yang menyertai masalah tersebut dan bersyukurlah kepada Allah atas masing-masing pemberian itu dengan menyebutkannya satu per satu. Renungkan bagaimana Allah sedang membentuk Anda kembali melalui pencobaan itu, mengubah Anda dari gambar Adam menjadi serupa dengan Anak-Nya yang terkasih. Terimalah dengan penuh syukur anugerah yang cukup yang Dia berikan seperti obat melalui pipet, setetes demi setetes dan hanya ketika diperlukan. Perhatikan banyak orang lain yang sedang berusaha bertahan di tengah gelombang yang pecah dan berdoalah bagi mereka.

 

Lakukanlah semua hal ini sambil berpegang pada Batu Karang rohani Anda, yaitu Yesus, yang Dia sendiri mengenal dukacita ini dan siap menolong Anda pada saat Anda membutuhkan (Yesaya 53:3). Dia yang tidak membiarkan Petrus tenggelam di bawah gelombang, tidak akan membiarkan Anda tergelincir ke dalam amukan badai.

 

Dinisbatkan/ Dikaitkan kepada Charles H. Spurgeon, tetapi kemungkinan merupakan variasi dari sebuah kutipan dari khotbahnya pada tahun 1874 yang berjudul “Sin and Grace.”

Charisse Compton adalah seorang koordinator di Seminary Wives Institute dan dosen paruh waktu untuk mengajar Grammar and Composition di Bethlehem College and Seminary, tempat suaminya, Jared, juga mengajar. Mereka memiliki tiga orang anak dan merupakan jemaat The North Church di Mounds View, Minnesota, yang juga tempat Charisse melayani sebagai penulis dan pengajar studi Alkitab perempuan.

Tags :

Langganan Dapatkan Berita Terbaru

Jangan lewatkan artikel, renungan yang mendalam, berpusat pada Injil, dan meninggikan Kristus. Kami hadirkan panduan untuk hidup Kristen Anda setiap minggu.

Layanan Pelanggan

Ikuti Kami

Dapatkan informasi terbaru dari Living Word melalui media sosial kami. Klik icon yang ada dibawah ini

Copyright ©Living Word (PT Berita Baik Indonesia). All Rights Reserved

Eksplorasi konten lain dari Living Word

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca