Abstrak: Dave Kiehn menelusuri pola para ayah yang tidak setia di seluruh Perjanjian Lama, menyoroti ciri-ciri dari orang-orang ini, termasuk sikap pasif, memanjakan, keberpihakan, keduniawian, mudah teralihkan, rasa tidak aman, kompromi, dan tidak berpikir panjang. Contoh-contoh negatif ini tidak hanya berfungsi sebagai peringatan, tetapi juga mengingatkan kita akan ketidakmampuan kita dan kebutuhan kita akan anugerah Allah. Melalui iman kepada Kristus, orang-orang Kristen memiliki Bapa surgawi yang sempurna dan baik dalam segala sesuatu yang Dia lakukan.
Kitab Suci tidak menyanjung para ayah. Sebaliknya, Kitab Suci menyingkapkan kegagalan mereka. Berulang kali, Alkitab menempatkan di hadapan kita orang-orang yang dipilih oleh Allah, dipakai oleh Allah, bahkan dipuji oleh Allah, namun yang gagal secara menyedihkan dalam rumah tangga mereka. Kisah-kisah ini ditulis, sebagaimana rasul Paulus mengingatkan kita, “untuk menjadi peringatan bagi kita” (1 Korintus 10:11).
Pelajaran ini sangat penting, khususnya bagi para pendeta, karena tanggung jawab mereka sebagai ayah bukanlah perkara yang sepenuhnya bersifat pribadi. Allah mengaitkan kredibilitas kepemimpinan rohani dengan pengelolaan rumah tangga. “Jikalau seseorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?” (1 Timotius 3:5). Rumah adalah tempat pembuktian kesetiaan pastoral, bukan sekadar catatan kaki baginya.
Pada zaman ketika keberhasilan pelayanan sering diukur berdasarkan visibilitas, pertumbuhan, atau pengaruh, Kitab Suci menegaskan ukuran yang berbeda: tidak kurang dari kesetiaan dalam pekerjaan biasa dan tersembunyi dalam menggembalakan anak-anak sendiri. Pola berulang tentang para ayah yang buruk dalam Alkitab berfungsi sebagai tanda peringatan, yang menyoroti cara-cara berbahaya yang membuat seorang pria menyimpang dari kepemimpinan yang setia. Para gembala sering kali menyimpang dari teladan yang saleh melalui sikap diam, memanjakan, kompromi, atau pengabaian.
Pembahasan berikut ini bukanlah sebuah daftar lengkap mengenai figur ayah yang buruk, melainkan serangkaian pola alkitabiah yang terus berulang yang kita temukan pada diri mereka. Pola-pola ini muncul di berbagai generasi dan konteks, dan tetap sangat relevan secara menyakitkan bagi para pendeta masa kini. Dengan memperhatikannya secara saksama, para gembala dapat belajar bukan hanya bagaimana menghindari kehancuran, tetapi juga bagaimana memimpin dengan kerendahan hati, kejelasan, dan pengharapan Injil.
Ayah yang Pasif: Adam dan Dosa Berdiam Diri
Ayah pertama dalam Kitab Suci menetapkan pola bagi banyak orang yang mengikutinya. Kegagalan Adam di taman bukan sekadar ketidaktaatan; itu adalah ketidaktaatan melalui pengabaian tanggung jawab. Kejadian 3 menggambarkan Adam berdiri bersama Hawa ketika ular mempertanyakan Firman Allah. Adam mendengar penyimpangan itu. Dia melihat pencobaan tersebut terjadi. Dan dia tidak mengatakan apa-apa.
Diamnya Adam bukanlah sesuatu yang netral. Itu adalah dosa. Adam telah diberi tanggung jawab untuk menjaga istrinya, Hawa, bersama dengan taman itu, dan memimpinnya dalam menaati perintah Allah.Sebaliknya, ia justru menarik diri dan membiarkan istrinya rentan terhadap tipu daya si jahat. Ketika dosa masuk ke dalam dunia, dosa tidak datang melalui kekerasan, melainkan melalui kebohongan yang dibiarkan tanpa perlawanan. Sikap pasif Adam membukakan pintu bagi dosa untuk masuk dan bersarang di dalamnya.
Paulus menafsirkan kejatuhan manusia melalui kegagalan Adam dalam kepemimpinannya. Dosa dan maut masuk melalui satu orang, bukan karena Hawa berdosa lebih dahulu, melainkan karena Adam gagal bertindak sebagai kepala perjanjian (Roma 5:12–19). Sikap diam Adam terbukti membawa malapetaka.
Bagi para pendeta, pola ini seharusnya terasa sangat tidak nyaman karena begitu familiar. Kepasifan sering menyamar sebagai usaha menjaga perdamaian atau kesabaran. Namun, menolak untuk memimpin juga merupakan suatu bentuk kepemimpinan: kepemimpinan yang menuntun pada kejatuhan. Para ayah yang menghindari pengajaran, koreksi, dan inisiatif rohani akan melatih anak-anak mereka untuk hanyut menjauh dari Batu Karang, bukannya berdiri di atas-Nya.
Di dalam gereja, kepemimpinan yang pasif menghasilkan murid-murid yang pasif. Ketika para pendeta ragu untuk berbicara dengan jelas mengenai dosa, jemaat belajar bahwa Firman Allah bersifat opsional. Ketika para ayah tetap diam secara rohani di rumah, anak-anak belajar bahwa iman hanya berlaku di gereja, tetapi bukan di meja makan. Diam tidak melindungi siapa pun.Kisah Adam menjadi peringatan bagi para gembala bahwa kepemimpinan yang tidak dijalankan adalah kepemimpinan yang gagal.
Ayah yang Memanjakan: Eli dan Keengganan untuk Mendisiplinkan
Eli tahu bahwa anak-anaknya bejat. Kitab Suci dengan jelas memberitahu kita bahwa Hofni dan Pinehas menyalahgunakan jabatan mereka sebagai imam, mengeksploitasi para penyembah, dan memperlakukan persembahan kepada Tuhan dengan penghinaan (1 Samuel 2:12–17). Memang benar, Eli menegur mereka sebatas lisan. Namun ia tidak pernah mendisiplinkan mereka—tampaknya karena Eli sendiri turut andil dalam menikmati hasil dosa kerakusan anak-anaknya. Allah berkata kepada Eli, “Mengapa engkau memandang dengan loba kepada korban sembelihan-Ku dan korban sajian-Ku, yang telah Kuperintahkan, dan mengapa engkau menghormati anak-anakmu lebih dari pada-Ku, sambil kamu menggemukkan dirimu dengan bagian yang terbaik dari setiap korban sajian umat-Ku Israel?” (1 Samuel 2:29).
Tuduhan Allah terhadap Eli mengenai hal-hal ini sungguh mengerikan: “Sebab telah Kuberitahukan kepadanya, bahwa Aku akan menghukum keluarganya untuk selamanya … yakni bahwa anak-anaknya telah menghujat Allah, tetapi ia tidak memarahi mereka!” (1 Samuel 3:13). Eli menghormati anak-anaknya lebih dari Tuhan, bukan karena ia secara terang-terangan menyatakan hal itu, melainkan melalui ketiadaan tindakannya.
Pola ini muncul setiap kali para ayah mengira bahwa afeksi sama dengan kasih. Eli mengasihi anak-anaknya, tetapi dia mengasihi mereka dengan cara yang salah. Dia lebih takut pada keretakan hubungan daripada penghakiman ilahi. Dia lebih memilih kedamaian jangka pendek daripada kesetiaan jangka panjang.
Para pendeta masa kini menghadapi pencobaan yang sama. Disiplin itu mahal. Konfrontasi merenggangkan hubungan. Koreksi berisiko disalahpahami. Namun, Kitab Suci jelas: kasih tanpa disiplin bukanlah kasih sama sekali. Menolak menahan dosa berarti turut mengambil bagian di dalamnya. “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” (Yakobus 4:17).
Di dalam keluarga, seorang ayah yang terlalu memanjakan sedang membentuk anak-anak yang percaya bahwa semua batasan selalu bisa dikompromikan. Di dalam gereja,para gembala yang terlalu memanjakan akan mendapati jemaatnya perlahan-lahan terseret ke dalam kekacauan dan kebingungan pengajaran. Allah tidak menghakimi Eli hanya karena dosa anak-anaknya, tetapi juga karena kegagalannya untuk bertindak sebagai seorang ayah. Para gembala harus mengingat bahwa kekudusan yang dipelihara hari ini mencegah kehancuran di kemudian hari, baik di dalam rumah maupun di dalam gereja.
Ayah yang Berpihak: Ishak dan Yakub
Hanya sedikit dosa yang memecah keluarga dengan begitu diam-diam dan terus-menerus seperti pilih kasih. Ishak memihak Esau. Yakub memihak Yusuf. Dalam kedua kasus tersebut, hasilnya adalah perpecahan, tipu daya, dan kebencian yang mendalam. Pilih kasih Ishak berakar pada selera. “Ishak sayang kepada Esau, sebab ia suka makan daging buruan, tetapi Ribka kasih kepada Yakub” (Kejadian 25:28). Kasih sayang mereka yang terbagi meracuni rumah tangga itu.
Yakub, yang dibentuk oleh lingkungan ini, mengulangi pola tersebut. Dia mengenakan jubah khusus kepada Yusuf dan secara terbuka lebih menyukainya daripada saudara-saudaranya (Kejadian 37:3–4). Hasilnya dapat diperkirakan. Kecemburuan berkembang. Kebencian bertumbuh. Pengkhianatan pun menyusul.
Pilih kasih mengajarkan kepada anak-anak bahwa kasih harus diperebutkan—pemenanglah yang memperoleh hadiahnya. Hal itu menciptakan pemenang dan pecundang dalam satu rumah tangga. Dan hal itu memutarbalikkan karakter Allah, yang tidak memandang muka.
Para pendeta tidak kebal terhadap hal ini. Pilih kasih dapat muncul dalam bentuk yang lebih halus, seperti perhatian yang tidak seimbang, pujian yang tidak proporsional, atau keterlibatan emosional yang lebih besar kepada seorang anak dibandingkan anak yang lain. Di dalam gereja, hal ini muncul ketika para pemimpin memberikan perlakuan istimewa kepada keluarga, donatur, atau pribadi-pribadi tertentu.
Keberpihakan merusak kepercayaan. Hal itu melatih orang untuk berusaha mendapatkan penerimaan daripada beristirahat dalam anugerah. Para ayah dan pendeta yang setia harus mencerminkan kasih Allah yang tidak memihak, yang dengan bebas dan konsisten menunjukkan kebaikan.
Ayah yang Berkompromi: Lot dan Kedekatan dengan Dunia
Kisah Lot merupakan peringatan tentang bahaya kompromi yang berlangsung perlahan. Dia tidak bangun pada suatu hari dengan niat untuk kehilangan keluarganya. Dia hanya memilih apa yang tampak menguntungkan. Dia melayangkan pandangannya, melihat dataran yang subur, dan mendirikan kemahnya dekat Sodom (Kejadian 13:10–12).
Kedekatan akhirnya menjadi partisipasi, dan partisipasi menjadi sesuatu yang dianggap normal. Pada Kejadian 19, Lot tinggal di dalam pintu gerbang kota. Keluarganya telah menyerap nilai-nilai Sodom. Menantu-menantunya menganggap peringatan ilahi sebagai lelucon. Istrinya menoleh ke belakang, menolak perkataan malaikat. Anak-anak perempuannya membawa cara hidup Sodom bersama mereka bahkan setelah mereka melarikan diri.
Kompromi Lot tidak berhenti sebagai persoalan pribadi. Kompromi itu membentuk rumah tangganya. Para ayah mengajar melalui apa yang mereka toleransi. Anak-anak tidak hanya belajar dari apa yang diajarkan kepada mereka, tetapi juga dari apa yang dikejar, dimaklumi, atau diabaikan oleh orang tua mereka.
Para pendeta menghadapi tekanan terus-menerus untuk melunakkan keyakinan demi relevansi atau kenyamanan. Namun, kekudusan terkikis secara perlahan, bukan secara tiba-tiba. Ketika para pemimpin menormalisasi keduniawian, mereka mengajarkan kompromi kepada anak-anak dan jemaat mereka. Gereja tidak membutuhkan para ayah yang menarik diri dari dunia, melainkan para ayah yang menolak untuk dibentuk oleh dunia.
Ayah yang Teralihkan: Samuel dan Kelalaian karena Kesibukan
Samuel menjadi peringatan yang menyadarkan kita bahwa kesetiaan di ranah publik tidak menjamin kepedulian di ranah privat. Kitab Suci tidak memberikan petunjuk bahwa Samuel rusak secara moral atau berkompromi secara doktrinal. Dia adalah seorang nabi yang setia. Namun, anak-anaknya “tidak hidup seperti ayahnya” dan justru mengejar keuntungan yang tidak jujur (1 Samuel 8:3).
Teks tersebut mengisyaratkan adanya kelalaian. “[Samuel] Dari tahun ke tahun ia berkeliling ke Betel, Gilgal dan Mizpa, dan memerintah atas orang Israel di segala tempat itu, lalu ia kembali ke Rama, sebab di sanalah rumahnya dan di sanalah ia memerintah atas orang Israel; dan di sana ia mendirikan mezbah bagi Tuhan.” (1 Samuel 7:16–17). Panggilannya di hadapan umum mengalahkan pelayanan pribadinya untuk memuridkan orang-orang di rumahnya sendiri. Hasilnya sangat menghancurkan, bukan hanya bagi keluarganya tetapi juga bagi Israel, yang menuntut seorang raja sebagai tanggapan terhadap kegagalan anak-anaknya.
Para pendeta sangat rentan terhadap hal ini. Pelayanan menciptakan tuntutan yang tidak ada habisnya. Khotbah harus dipersiapkan. Krisis harus ditangani. Orang-orang harus digembalakan. Namun, sebanyak apa pun pelayanan di depan umum tidak dapat menggantikan peran sebagai ayah yang diabaikan.
Kualifikasi Paulus bagi para penatua mengasumsikan bahwa rumah memperlihatkan siapa sebenarnya seorang pria. Gereja tidak seharusnya merayakan para pemimpin berbakat yang mengabaikan anak-anak mereka. Kesetiaan harus menyeluruh, atau kesetiaan itu kosong.
Ayah yang Insecure (Tidak Aman): Saul dan Pengendalian Lewat Rasa Takut
Saul memerintah dengan ketakutan, bukan dengan iman. Kepemimpinannya ditandai oleh rasa tidak aman, kecemburuan, dan kecurigaan. Ketika keberhasilan Daud mengancam kedudukan Saul, Saul tidak hanya berbalik melawan Daud, tetapi juga melawan putranya sendiri, Yonatan (1 Samuel 20:30–33).
Kontrol menjadi strategi Saul untuk bertahan hidup. Kesetiaan dituntut, bukan dibangun. Ketaatan dipaksakan, bukan dibangkitkan. Rumahnya mencerminkan pemerintahannya: mudah berubah, penuh ketakutan, dan retak. Kontrol adalah tiruan palsu dari otoritas yang saleh. Kontrol muncul bukan dari kekuatan, melainkan dari rasa tidak aman. Para ayah yang memerintah melalui intimidasi mungkin dapat memperoleh kepatuhan, tetapi mereka menghancurkan kepercayaan.
Di dalam gereja, kepemimpinan otoriter sering menyamar sebagai ketegasan. Namun, kepemimpinan yang digerakkan oleh ketakutan menghasilkan kesatuan yang dangkal dan kebencian yang dipendam. Otoritas Injil bekerja dengan cara yang berbeda. Otoritas itu meyakinkan, menggembalakan, dan melayani. Para ayah dan pendeta harus memimpin dengan keyakinan akan kedaulatan Allah, bukan dengan kecemasan mengenai posisi mereka atau keinginan mereka untuk dihormati.
Ayah yang Diliputi Rasa Malu: Daud dan Kebungkaman Akibat Kompromi Moral
Kegagalan Daud sebagai seorang ayah sangat tragis justru karena berbagai kekuatannya. Dia berani, penuh belas kasihan, dan sangat mengabdikan diri kepada Tuhan. Namun, keruntuhan moralnya dengan Batsyeba melumpuhkan kepemimpinannya di rumah.
Ketika Amnon memperkosa Tamar, Daud marah tetapi diam. Ketika Absalom membunuh Amnon, Daud gagal bertindak. Ketika Absalom memberontak, kerajaan berdarah. Kepasifan Daud memperparah dosanya yang terdahulu. Rasa bersalah mengikis keberanian. Dosa yang tidak diakui melemahkan disiplin. Rumah tangga Daud hancur bukan karena dia kekurangan kasih sayang, tetapi karena dia kekurangan keteguhan yang saleh.
Para pendeta harus memperhatikan peringatan ini dengan serius. Kejatuhan moral tidak akan selamanya tersembunyi di balik bayang-bayang. Gaungnya akan memantul di dinding-dinding rumah, membawa kehancuran bagi keluarga maupun gereja. Hanya pertobatan sejati yang mampu memulihkan persekutuan dengan Allah dan memperbaiki fondasi yang telah retak.
Ayah yang Berpandangan Pendek: Hizkia dan Ketidakpedulian terhadap Masa Depan
Kegagalan Hizkia bersifat halus. Setelah dia menunjukkan kekayaannya kepada utusan-utusan Babel, dia menerima berita bahwa generasi-generasi mendatang akan menderita karena kesombongannya. Responsnya mengejutkan: ”Sungguh baik firman Tuhan yang engkau ucapkan itu!” Tetapi pikirnya: ”Asal ada damai dan keamanan seumur hidupku!” (2 Raja-raja 20:19). Inilah dosa berpandangan pendek. Hizkia menerima penghakiman yang tertunda dengan ketidakpedulian karena dia memprioritaskan kenyamanan saat ini di atas kesetiaan lintas generasi. Dia tidak peduli bahwa anak-anaknya dan keturunan mereka harus menanggung akibatnya, selama dia sendiri tidak bertanggung jawab atas hal itu.
Para pendeta harus berpikir melampaui masa pelayanan mereka sendiri. Gereja biasanya tidak dibangun hanya untuk satu generasi, tetapi dipercayakan kepada generasi-generasi yang akan datang. Para ayah yang mengukur keberhasilan berdasarkan kestabilan saat ini sering kali mengabaikan kesehatan rohani jangka panjang dan upah kekal. Kepemimpinan yang setia tidak hanya bertanya, “Apakah ada damai sekarang?” tetapi juga, “Kedamaian seperti apa yang akan dihasilkan oleh hal ini di masa depan?”
Mengapa Kitab Suci Menunjukkan kepada Kita Para Ayah yang Buruk
Tujuan dari peringatan-peringatan ini bukanlah penghukuman, melainkan kesetiaan yang diperbarui. Setiap teladan yang cacat membuat kita semakin menyadari kebutuhan kita sendiri akan pertolongan Allah. Allah menyatakan ketidakcukupan kepemimpinan manusia supaya umat-Nya merindukan kebapaan-Nya yang sempurna. Para ayah manusia gagal karena mereka bukan Bapa yang sempurna.
Mungkin ketika Anda membaca pola-pola ini, Anda mengenali lebih dari sekadar sejarah. Anda mungkin mengenali diri Anda sendiri. Anda melihat saat-saat ketika Anda pasif, masa-masa ketika Anda memanjakan, kompromi yang Anda benarkan, percakapan yang Anda hindari, atau ketidakhadiran Anda di rumah. Kitab Suci tidak menyingkapkan kegagalan-kegagalan ini untuk menghancurkan Anda, tetapi untuk memanggil Anda keluar dari persembunyian. Injil mengundang kejujuran. Allah sudah mengetahui di mana Anda telah gagal sebagai seorang ayah. Dia tidak terkejut oleh kelemahan, ketakutan, atau penyesalan Anda. Yang Dia tuntut bukanlah pembelaan diri, melainkan pertobatan yang rendah hati. Firman yang sama yang menyatakan dosa Anda juga mengundang Anda untuk membawanya kepada terang, tempat anugerah melakukan pekerjaan pemulihannya.
Kabar baik bagi para ayah yang buruk bukanlah bahwa masa lalu dapat dibatalkan, tetapi bahwa masa lalu dapat ditebus. Yesus Kristus datang sebagai Anak yang setia, yang dengan sempurna menyatakan Bapa yang gagal kita cerminkan. Dia menanggung kesalahan atas kepasifan, kemarahan, kelalaian, dan kesombongan kita. Di kayu salib, Bapa tidak mengabaikan dosa; Dia menghakiminya sepenuhnya di dalam Anak-Nya. Dan dalam kebangkitan, Allah menyatakan bahwa pengampunan itu nyata, penyucian itu sempurna, dan ketaatan yang diperbarui itu mungkin.
“Saudaraku sesama gembala, akuilah dosamu. Tinggalkanlah dosa itu. Mintalah pengampunan di mana hal itu diperlukan. Kemudian, melangkahlah maju dalam kesetiaan, dengan keyakinan bahwa Allah rindu memulihkan para ayah dan keluarga yang hancur. Ia akan memakai pertobatan itu sebagai sarana untuk mendatangkan perubahan yang abadi dalam kehidupan anak-anak Anda.
Dave Kiehn adalah pendeta utama Park Baptist Church di Rock Hill, South Carolina






