Menyampaikan khotbah dari Injil Markus sedini mungkin dalam pelayanan saya mungkin merupakan nasihat terbaik yang pernah saya terima sebagai seorang pendeta. Memang, nasihat pastoral sulit untuk diukur. Namun, karena memberitakan Kristus adalah prioritas tertinggi seorang pengkhotbah, pernyataan yang begitu kuat ini sangatlah beralasan. Bagaimanapun juga, Injil Markus menguraikan siapa Kristus dan seperti apa mengikut Dia. Selain itu, Injil ini menangkap tema-tema tersebut dengan cara yang mudah diingat. Markus menyampaikan Kristus dan pemuridan melalui kekacauan dan kejelasan kisah-kisahnya, bukan hanya melalui ketepatan proposisi-proposisi.
Dengan demikian, kristologi naratif ini memberikan begitu banyak manfaat praktis bagi pendeta dan jemaatnya. Namun, artikel ini hanya akan membahas tiga alasan untuk berkhotbah dari Markus, dengan perhatian khusus pada bagaimana hal itu bermanfaat bagi beberapa kategori anggota jemaat yang paling menonjol di gereja Anda: orang percaya baru, orang percaya yang sedang bertumbuh, dan orang percaya yang dewasa.
1. Orang Percaya Baru—Aksesibilitas
Banyak orang percaya baru pada zaman kita mengikuti Kristus sambil berjuang melawan arus kuat pluralisme dan nominalisme dalam budaya. Karena itu, orang-orang Kristen yang masih muda membutuhkan kejelasan yang sempurna mengenai siapa Kristus dan seperti apa mengikut Dia. Pada gilirannya, Injil Markus secara unik menolong orang percaya memahami dua persoalan budaya besar, yaitu otoritas Kristus dan pemuridan yang menuntut pengorbanan.
Otoritas Kristus
Topik-topik seperti otoritas ilahi dan mutlak sangat tidak disukai oleh selera masyarakat populer, pluralistik, dan pasca-Kristen. Namun, Markus menyajikan dalam jumlah yang melimpah otoritas eksklusif Yesus atas setan-setan, kematian, penyakit, bencana alam, dan agama buatan manusia. Bahkan, dia menyajikan kebenaran-kebenaran ini dengan cara yang menarik dan menggugah. Ada sesuatu yang sangat indah dalam gambaran Markus tentang Kristus yang berotoritas, yang dengan lembut memimpin murid-murid-Nya yang sering melakukan kesalahan. Otoritas Kristus terbukti menjadi sesuatu yang indah bagi orang percaya baru, bukan sesuatu yang membebani. Meskipun para pengikut Yesus akan berulang kali gagal, Kristus yang berotoritas tetap memegang mereka sampai pada akhirnya.
Pemuridan yang Menuntut Pengorbanan
Apa yang benar mengenai pengajaran Markus tentang otoritas Kristus juga berlaku bagi tulisannya mengenai pemuridan. Para pengikut Yesus yang baru secara khusus perlu menerima implikasi ekstrem dari mengikut Yesus. Itulah sebabnya Markus menggambarkan tugas mengikut Yesus sebagai sesuatu yang sangat berat dan penuh bahaya. Hal ini dapat sangat mengecilkan hati karena secara naluriah kita cenderung memandang para pengikut Yesus yang pertama sebagai orang-orang yang kuat dan berani. Gambaran yang tidak akurat mengenai pemuridan dapat membuat mengikut Yesus terdengar seperti usaha yang sia-sia, sesuatu yang berada di luar kemungkinan. Namun, Markus memungkinkan orang percaya baru untuk melihat melampaui hal ini dengan mengingatkan para pembacanya bahwa kedua belas murid tidak dilahirkan sebagai kedua belas rasul.
Injil ini mengingatkan kita bahwa para pengikut pertama Yesus dibesarkan dalam dosa seperti kita semua dan harus datang kepada Yesus dalam pertobatan dan iman dengan cara yang sama seperti kita. Penceritaan yang terus terang mengenai kegagalan para murid yang sering terjadi meyakinkan orang percaya bahwa mengikut Yesus tidak menuntut iman dan pertobatan yang sempurna, melainkan iman dan pertobatan yang tekun.
Orang-orang percaya baru di gereja-gereja kita harus menaati tuntutan radikal pemuridan, sekaligus menerima bahwa pergumulan merupakan bagian yang tidak dapat dihindari dari perjalanan tersebut. Jelaslah, Markus menolong dalam kedua hal ini.
2. Orang Percaya yang Sedang Bertumbuh—Fleksibilitas
Semua orang percaya sedang “bertumbuh,” tetapi Injil Markus secara khusus bermanfaat bagi mereka yang telah melewati masa bayi rohani tetapi belum cukup dewasa untuk memberikan dampak yang dinamis kepada orang lain. Saya tidak ingin melegitimasi kategori ini. Namun, kejujuran memaksa kita untuk mengakui bahwa beberapa orang (jika bukan sebagian besar) dalam jemaat kita mengalami pertumbuhan tetapi masih belum mencapai potensi mereka. Jadi, dengan mengandaikan bahwa pembaca menerima pernyataan ini, saya ingin menegaskan bahwa Markus bermanfaat bagi orang percaya biasa karena menyediakan begitu banyak kebenaran teologis dan praktis—kebenaran yang akan sangat penting untuk memasuki tahap-tahap berikutnya dalam kedewasaan rohani.
Dasar-Dasar Teologis
Injil Markus memberikan sumbangsih bagi pemahaman dasar kita mengenai soteriologi, antropologi, kristologi, misiologi, dan eskatologi. Secara teologis, kitab ini seperti pisau Swiss Army dalam perjalanan berkemah atau tongkat golf nomor tujuh di lapangan golf. Eksposisi yang setia dan berurutan akan memberikan kesempatan untuk memperkuat berbagai kebenaran teologis yang mungkin masih kurang dalam jemaat Anda.
Bahkan teologi biblika memainkan peranan penting dalam Markus karena kitab ini sering mengundang kita untuk mempertimbangkan metanarasi Kitab Suci. Ini berarti pengkhotbah akan memiliki banyak kesempatan untuk menunjukkan pentingnya Perjanjian Lama. Meskipun Injil ini menceritakan suatu kisah tertentu, Injil ini mempersiapkan kita untuk melihat kisah yang lebih besar. Berbagai rujukan Markus yang berulang kepada narasi-narasi penting, mazmur-mazmur, dan nubuat-nubuat memberikan jendela untuk melihat Kitab Suci secara keseluruhan. Pendeta yang bijaksana kemudian akan memanfaatkan hubungan-hubungan ini untuk mengembangkan pemahaman jemaatnya tentang teologi biblika.
Penerapan Praktis
Markus memberi kita bukan hanya kisah tentang Yesus, tetapi juga kisah tentang Yesus dan murid-murid-Nya. Sarjana Markus, R. T. France, menunjukkan, “Dalam penemuan mereka tentang siapa Yesus dan tanggapan mereka terhadap-Nyalah para murid menarik perhatian kita; pemuridan adalah hasil yang semestinya dari kristologi yang sehat” (France, 28). Dengan demikian, Markus mendorong orang percaya pada semua tahap untuk bertumbuh dalam iman mereka sendiri dan membagikannya kepada orang lain. Ketika kisah demi kisah menceritakan kuasa dan otoritas Yesus, orang percaya yang cemas akan diteguhkan. Paragraf demi paragraf, orang yang suam-suam kuku akan digerakkan dan ditantang lebih jauh untuk meneladani Kristus dan terlibat dalam kemajuan Injil. Sulit untuk mempelajari Markus sambil tetap netral, suam-suam kuku, atau tidak terlibat. Berkhotbah dari Markus akan membawa orang yang biasa-biasa saja menuju kedewasaan.
3. Orang Percaya yang Dewasa—Keberlanjutan
Akhirnya, Markus memberikan manfaat khusus bagi orang percaya yang dewasa. Dengan “dewasa,” saya tidak sedang merujuk kepada orang-orang kudus yang lebih tua atau bahkan mereka yang telah berada di dalam Kristus untuk waktu yang lama. Sebaliknya, saya merujuk kepada orang percaya yang telah bertumbuh hingga mampu mendewasakan orang percaya lainnya (Efesus 4:13–16; 2 Timotius 2:2). Setelah orang-orang kudus yang dewasa dalam jemaat Anda memperoleh pemahaman yang lebih mantap mengenai kitab ini, mereka akan memiliki keyakinan untuk mempelajarinya sendiri bersama teman-teman non-Kristen atau orang percaya baru lainnya.
Meskipun rangkaian khotbah Anda sendiri seharusnya sudah cukup untuk membangun keyakinan ini, ada beberapa sumber yang dapat melengkapi pengajaran Anda dan menata usaha pemuridan jemaat Anda. Misalnya, beberapa anggota dapat mulai menggunakan Markus dengan mengadakan program penginjilan seperti Christianity Explored, yang didasarkan pada kitab ini. Saya senang melihat anggota jemaat menggunakan Markus dalam pertemuan satu lawan satu, mengikuti panduan David Helm dalam One-to-One Bible Reading (khususnya lihat bab 11). Selain itu, buku panduan yang diterbitkan oleh St. Helen’s Bishopsgate juga membantu dalam hal ini.
Bayangkan keberlanjutan dan manfaat rangkaian khotbah Anda mengenai Markus jika jemaat Anda didorong untuk menggunakannya bersama orang lain dengan cara seperti ini. Pendeta mana yang tidak rindu melihat jemaatnya menggunakan Alkitab itu sendiri untuk memajukan Injil? Kami telah melihat buah yang luar biasa dari hal ini dalam jemaat kami sendiri, dan sebagai bonus, kemudahan menggunakan Markus secara satu lawan satu telah membuat beberapa anggota jemaat kami berani melanjutkan kepada kitab-kitab Alkitab lainnya.
Kesimpulan
Jika Anda belum melakukannya, manfaatkanlah hikmat yang diwariskan kepada saya oleh beberapa pendeta paling bijaksana yang saya kenal: berkhotbahlah dari Injil Markus. Orang percaya baru akan memperoleh manfaat dari aksesibilitasnya. Orang percaya yang sedang bertumbuh akan ditantang menuju kedewasaan. Dan orang percaya yang dewasa akan dapat memanfaatkan keyakinan yang diperoleh dari pengajaran Anda untuk menggunakan Markus dalam usaha pemuridan mereka bersama orang lain.
Catatan penulis: Mengenai tafsiran-tafsiran Alkitab, pendekatan pribadi saya adalah menggali secara mendalam beberapa tafsiran terbaik daripada membaca sekilas banyak tafsiran secara tergesa-gesa. Ketiga tafsiran ini memberikan hasil yang paling konsisten bagi saya.
Teknis: France, R. T. The Gospel of Mark: A Commentary on the Greek Text. New International Greek Testament Commentary. Grand Rapids, MI; Carlisle: W. B. Eerdmans; Paternoster Press, 2002.
Tidak ada yang menangkap nuansa narasi dan eksegesis dengan begitu tepat. France memungkinkan kita melihat pesan unik Markus dengan menolak kecenderungan populer untuk mencampuradukkan Markus dengan ketiga Injil lainnya. Meskipun merupakan tafsiran teknis, buku ini sebenarnya menarik untuk dibaca.
Pastoral: Edwards, James R. The Gospel According to Mark. The Pillar New Testament Commentary. Grand Rapids, MI; Leicester, England: Eerdmans; Apollos, 2002.
Jika Anda tidak merasa percaya diri dengan bahasa-bahasa asli Alkitab tetapi ingin menggali lebih dalam daripada yang tersedia dalam Alkitab studi atau khotbah orang lain, Edwards merupakan referensi yang sangat baik. Selain itu, di sepanjang tafsiran ini terdapat beberapa pembahasan khusus yang mendalam mengenai topik-topik penting seperti “Kristus,” “Anak Manusia,” “Perempuan dalam Injil Markus,” dan sebagainya.
Homiletika: Ferguson, Sinclair B. Let’s Study Mark. Let’s Study Series. Edinburgh: Banner of Truth, 1999.
Godaan yang terus-menerus dalam setiap usaha berkhotbah adalah kehilangan gambaran keseluruhan karena terlalu berfokus pada bagian-bagian kecil. Kecenderungan Ferguson terhadap kesederhanaan tampak sangat jelas dalam buku ini, yang memberikan panduan bagi ekspositor yang mungkin kesulitan melihat pokok keseluruhan dari perikop apa pun yang akan dia khotbahkan pada hari Minggu.
Justin Harris adalah pendeta senior Faith Bible Church di Naples, Florida.






