Kepedulian untuk Tetap Tinggal: Apa yang Dapat Dipelajari Para Pastor dari Gembala yang Baik

Menjadi seorang pastor adalah suatu hak istimewa yang besar, tetapi juga sulit. Memang selalu demikian. Pelayanan penggembalaan membutuhkan perpaduan kemampuan yang tidak biasa serta standar kekudusan yang tinggi. Dan era internet hanya menambah tantangan baru, karena para pastor diharapkan memberikan pendapat mengenai hampir setiap topik. Ditambah lagi dengan beban “beratnya jiwa-jiwa”¹ yang dipikul para pastor, tidak sulit untuk melihat mengapa pelayanan penggembalaan menghadirkan pencobaan yang khas, yaitu godaan untuk meninggalkan pelayanan.

Di tengah tantangan dan tanggung jawab yang berat ini, apa yang mendorong seorang pastor untuk tetap tinggal dan setia kepada kawanan dombanya? Untuk menjawabnya, kita perlu mendengar perkataan Sang Gembala yang Baik.

Gembala yang Baik

Dalam pengajaran Yesus yang terkenal tentang “Gembala yang Baik,” Dia menunjukkan perbedaan antara pastor yang baik dan pastor yang buruk. (Kata Yunani untuk “gembala” juga dapat diterjemahkan sebagai “pastor.”)

“Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya. Sedangkan seorang upahan yang bukan gembala dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.” (Yohanes 10:11–12)

Yesus adalah Sang Gembala yang Baik, seorang Pastor yang tidak mungkin dapat sepenuhnya kita teladani. Anda dan saya terbatas, berdosa, dan dapat tergantikan, sedangkan Yesus adalah sumber yang tidak terbatas, sempurna, dan tidak tergantikan. Namun teladan penggembalaan Yesus memberikan gambaran yang baik tentang seperti apa seharusnya kita sebagai pastor.

Kita dapat membedakan antara pastor yang baik dan pastor yang semu dari apa yang mereka lakukan ketika bahaya dan kesulitan muncul. Pastor semu mengunggah resuménya ke papan lowongan kerja lalu pergi meninggalkan pelayanan. Pastor yang baik tetap tinggal, menunjukkan keberanian, ketekunan, dan kasih. Dia menyerahkan hidupnya untuk melawan serigala, bahkan ketika serigala itu muncul dari dalam kawanan domba itu sendiri (Kisah Para Rasul 20:29–30).

Tetapi mengapa dia melakukan hal itu? Sekali lagi, bandingkan dia dengan seorang gembala yang: “lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu” (Yohanes 10:13). Pastor yang baik tetap tinggal karena dia peduli kepada mereka yang dipimpinnya. Ini bukan berarti bahwa tidak pernah ada alasan yang baik bagi seorang pastor untuk meninggalkan jemaatnya. Bahkan mungkin merupakan tindakan kasih untuk menyingkir sejenak dan membiarkan seorang pastor lain memberikan pemeliharaan dan kepemimpinan yang dibutuhkan gereja pada musim tertentu. Tetapi sikap umum seorang pastor terhadap gerejanya seharusnya bukan melarikan diri hanya karena keadaan menjadi sulit. Kita berkhotbah, berdoa, mengasihi, dan tetap tinggal.

Singkatnya, menjadi pastor yang baik berarti Anda harus peduli kepada kawanan domba Anda, tetapi kepedulian itu akan menuntut pengorbanan dari Anda.

Harga dari Kepedulian

Walaupun saya masih relatif muda dalam pelayanan pastoral, saya sudah cukup lama melayani untuk melihat bahwa banyak pria yang berada di bawah tekanan dan kekecewaan pelayanan akhirnya mengadopsi sikap seorang upahan, bukan karena mereka serakah atau kejam, melainkan sebagai cara untuk bertahan hidup. Mereka memulai dengan kehangatan dan antusiasme, tetapi seiring waktu sinisme yang keras dan mati rasa mulai mengendap dalam diri mereka. Dan, di satu sisi, hal itu dapat dimengerti. Jika Anda membuka hati kepada jemaat hanya untuk kemudian diserang oleh mereka, mungkin karena sesuatu yang sepele dan tidak adil, secara emosional akan terasa lebih mudah untuk menarik diri, menempatkan semacam pakaian pelindung antara diri Anda dan mereka, lalu berhenti terlalu peduli. Jika Anda tidak peduli kepada saya, baiklah, saya juga tidak akan peduli kepada Anda.

Tetapi itulah bukan yang dilakukan oleh seorang gembala atau pastor yang baik. Pikirkan, misalnya, tentang rasul Paulus dan jemaat di Korintus. Ia mengesampingkan haknya untuk menerima dukungan finansial dari mereka, dan sebaliknya menjalani beban ganda sebagai pelayan sambil bekerja agar tidak menaruh hambatan apapun bagi jemaat yang masih baru bertumbuh itu. Namun beberapa orang di gereja menggunakan tindakan pelayanan tersebut sebagai bahan serangan dalam usaha untuk meruntuhkan seluruh pelayanan Paulus dan menuduhnya bukan rasul yang sejati (2 Korintus 11:7–11). Dan meskipun Paulus jelas terluka, perhatikan satu hal yang tidak dia lakukan: menutup hatinya terhadap mereka. Sebaliknya, dia berkata, “Hai orang-orang Korintus! Kami telah berbicara terus terang kepada kamu; hati kami terbuka lebar-lebar” (2 Korintus 6:11).

Kuasa dari Kepedulian

Saya masih harus belajar banyak hal sebagai seorang pastor, tetapi satu hal yang mengejutkan saya adalah betapa besarnya kuasa dari kepedulian yang sungguh-sungguh terhadap orang lain. Manusia sangat kesepian, penuh kecurigaan, dan sering kali kekurangan dorongan semangat. Perlu dijelaskan bahwa kepedulian terhadap anggota jemaat Anda tidak akan menyelesaikan semua masalah mereka. Datang ke rumah sakit di tengah malam untuk menemani seorang istri yang menangis tidak akan menghidupkan kembali suaminya. Tetapi hal itu akan menunjukkan bahwa Anda peduli.

Ketika baru-baru ini saya bertemu dengan seorang pria, dia menceritakan bagaimana bertahun-tahun lalu saat keluarganya pertama kali mengunjungi gereja kami, saya mengucapkan kata-kata penyemangat dengan mengatakan kepada jemaat betapa bangganya saya terhadap mereka. Dia berkata bahwa hal itu saja sudah mendorongnya untuk tetap tinggal di gereja kami, karena sebelumnya dia belum pernah mendengar seorang pastor memuji jemaatnya atas sesuatu.

Anda mungkin hanyalah seorang pengkhotbah yang “biasa saja.” Anda mungkin bukan pemimpin yang visioner; Anda mungkin tidak memahami cara kerja media sosial; dan Anda mungkin tidak mengetahui program berikutnya yang dibutuhkan gereja Anda untuk menjangkau generasi berikutnya. Tetapi jika Anda peduli kepada domba-domba itu, hal tersebut akan sangat berarti. Tentang John Newton pernah dikatakan bahwa “khotbah-khotbahnya sering kali tidak dipersiapkan dengan baik, juga tidak disampaikan dengan hati-hati atau ‘indah.’” Namun, dia memiliki “begitu banyak kasih kepada jemaatnya dan begitu besar semangat bagi kepentingan mereka, sehingga kekurangan dalam caranya berbicara hampir tidak dipedulikan oleh para pendengarnya yang setia.”²

Pastor, Anda akan terus membuat kesalahan dan gagal memenuhi harapan, dan dari waktu ke waktu Anda juga akan bertindak bodoh (saya sendiri tentu pernah demikian). Tetapi ketika perkataan Anda terdengar tidak tepat atau Anda melakukan kesalahan, harapannya anggota jemaat Anda tetap dapat berkata, “Kami tahu dia peduli kepada kami.” Dan jika mereka tidak demikian, jika mereka berbalik dan mencoba melukai Anda, Anda memiliki dua pilihan: membawa pulang bola Anda atau memilih menjadi pastor yang baik yang tetap tinggal. Pada saat-saat seperti itu, Anda harus bersandar kepada Sang Gembala Agung, yang menjaga Anda dan semua domba-Nya yang lainnya yang terluka.

Tetapi ingat, bahan bakar utama pelayanan Anda bukanlah bahwa semua orang menghargai Anda dan melihat semua kerja keras yang Anda lakukan. Melainkan bahwa Yesus peduli kepada Anda. Dia melihat bukan hanya kerja keras Anda tetapi juga seluruh dosa Anda. Dan, sungguh ajaib, Dia tetap peduli kepada Anda. Sekalipun kepedulian itu menuntut harga yang sangat mahal dari-Nya.

Jadi, pastor, meskipun benar bagi Anda untuk peduli kepada jemaat Anda, Anda dan saya harus selalu lebih peduli kepada Yesus. Saya teringat perkataan terakhir Ray Ortlund Sr. kepada putranya, Ray Ortlund Jr.: “Sampaikanlah kepada Bud, pelayanan bukanlah segalanya. Yesuslah segalanya.”

  1. Ungkapan ini diambil dari Charles Spurgeon, Encouragement for the Depressed.
  2. Diambil dari John Piper, “John Newton: The Tough Roots of His Habitual Tenderness,” Desiring God, https://www.desiringgod.org/messages/john-newton-the-tough-roots-of-his-habitual-tenderness.
Marc Sims

Marc Sims adalah pendeta pengajar di Gereja Baptis Quinault di Kennewick, Washington.

Tags :

Langganan Dapatkan Berita Terbaru

Jangan lewatkan artikel, renungan yang mendalam, berpusat pada Injil, dan meninggikan Kristus. Kami hadirkan panduan untuk hidup Kristen Anda setiap minggu.

Layanan Pelanggan

Ikuti Kami

Dapatkan informasi terbaru dari Living Word melalui media sosial kami. Klik icon yang ada dibawah ini

Copyright ©Living Word (PT Berita Baik Indonesia). All Rights Reserved

Discover more from Living Word

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading