Ayat yang Menolong Kecemasan Rohani Saya

Ayat yang Menolong Kecemasan Rohani Saya

“Apakah saya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan?”

Selama beberapa tahun, pertanyaan ini terus berputar di pikiran saya. Karena saya dibesarkan di gereja dan menyaksikan banyak orang Kristen dewasa yang menghidupi Injil, saya selalu tahu seperti apa kehidupan yang saleh itu. Dan oleh kasih karunia Allah, saya telah meneladani orang lain dalam melakukan perbuatan baik. Saya pikir saya menjalani kehidupan Kristen dengan cukup baik—sampai beberapa tahun yang lalu, saat saya mulai lebih sering membaca Alkitab sendiri.

Saat saya membaca Firman, saya mulai memahami standar kesempurnaan Allah dan betapa saya telah gagal mencapainya. Menyadari potensi dosa saya di hadapan Allah yang sempurna menimbulkan kecemasan yang berat dan gelisah dalam diri saya. Saya menyaring setiap tindakan, besar atau kecil, melalui standar kudus Allah, merasa terhukum ketika saya gagal.

Tentu saja, saya tahu bahwa Yesus telah mati untuk dosa-dosa saya dan memberikan kebenaran-Nya kepada saya. Tetapi kebenaran itu terasa seperti label untuk masa depan, bukan siapa saya sekarang.

Ketika saya bergumul melawan introspeksi yang penuh kecemasan ini, Roh Kudus terus membawa saya kembali kepada 2 Korintus 5:17 “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, dia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Saya telah membaca ayat ini berkali-kali sejak kecil, tetapi saya belum benar-benar mempertimbangkan apa artinya bagi saya. Saya memahaminya sebagai label yang akan berguna nanti ketika saya mati, bukan sebagai identitas yang dapat saya miliki dalam kehidupan ini. 

Natur Lama Saya Mati Bersama Kristus

Kita tidak sempurna, dan kita tahu hal itu. Semakin kita mengenal Allah kita yang sempurna, kudus, dan benar, semakin kita menyadari betapa jauhnya kita telah gagal (Roma 3:23). Ketika kita tidak dapat berubah dengan kekuatan kita sendiri, kedagingan menggoda kita untuk takut akan penghakiman Allah, seolah-olah Allah memiliki sifat yang mudah marah seperti natur dosa kita. Perbuatan-perbuatan menjadi cara untuk menenangkan hati nurani yang bersalah, melatih kita untuk lebih mengandalkan kekuatan kita daripada kasih karunia Allah.

Kita tahu secara teologis bahwa kita tidak akan pernah cukup baik dengan usaha kita sendiri untuk memperoleh perkenanan Allah dan bahwa dengan percaya kepada kematian Kristus untuk dosa-dosa kita, kita diperhitungkan benar (2 Korintus 5:21). Namun kedagingan membuat kita merasa seperti orang munafik ketika kita diingatkan pada kebenaran bahwa kita sudah murni dan telah disucikan.

Ketika Kristus menanggung hukuman bagi kita orang-orang berdosa, Dia berkata, “Sudah selesai” (Yohanes 19:30). Kata-kata itu menandai akhir dari diri kita yang lama dan penuh dosa. Saat kita terus bergumul melawan dosa kita, kita melakukannya dengan harapan bahwa suatu hari kita tidak akan berdosa lagi dan dengan keyakinan bahwa, bahkan sekarang, dosa bukanlah identitas kita.

Kristus adalah Identitas Saya—Sekarang

Kristus telah mengambil kuasa dari natur lama kita, tetapi itu belum semuanya. Paulus juga mengatakan dalam 2 Korintus 5:17 bahwa “siapa yang ada di dalam Kristus, dia adalah ciptaan baru . . . yang baru sudah datang” (penekanan ditambahkan). Yang baru bukan hanya label untuk masa depan. Itu adalah identitas sejati orang percaya—sekarang. Sama seperti natur lama kita mati bersama Yesus, kita telah dibangkitkan untuk hidup bersama Dia (Kolose 3:1–2). Identitas kita terikat secara tidak terpisahkan kepada-Nya. Kristus adalah hidup kita (ay. 3–4).

“‘Ciptaan baru’ bukan hanya label untuk masa depan. Itu adalah identitas sejati orang percaya—sekarang.”

Memahami identitas kita saat ini dengan cara ini mengubah motivasi kita dalam mengejar kebenaran. Paulus menjelaskan, “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati.Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” (2 Korintus 5:14-15)

Sebagai ciptaan baru, kita hidup dari kasih kepada Kristus karena Dia telah mematikan identitas kita yang menghukum. Memahami siapa kita membentuk bagaimana kita menjalani kehidupan Kristen. 

Mengingat Identitas Saya Membawa Ketenangan

Jika kita mengidentifikasi diri dengan manusia lama, kita akan mencari pengudusan melalui usaha yang penuh kecemasan. Namun, jika kita melihat diri kita seperti Allah melihat kita—sebagai ciptaan baru di dalam Kristus—pengudusan akan menjadi buah dari ketergantungan yang tenang kepada-Nya. Tetapi bagaimana kita dapat menanggalkan identitas lama kita dan hidup sebagai ciptaan baru di dalam Kristus?

Kita dapat menerima panggilan Yesus dalam Matius 11:28–30

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.

Hidup dalam identitas baru kita melibatkan pembelajaran tentang hati Kristus yang lemah lembut, penuh kasih, dan rendah hati. Itu berarti mengikuti Dia dalam ketaatan dan kepercayaan, bukan membentuk kehidupan moral dengan kekuatan daging kita sendiri. Identitas kita terikat kepada, dipersatukan dengan, Kristus. Sama seperti Dia telah menanggung kematian atas dosa kita, sekarang Dia juga menanggung beban pertumbuhan baru kita.

Jika Anda ada di dalam Kristus, Anda dapat meletakkan beban perjuangan Anda yang penuh kecemasan. Yang lama sudah berlalu. Yang baru sudah datang. Anda tidak akan sempurna benar di sisi surga ini, tetapi kebenaran Kristus yang sempurna menutupi Anda sekarang.

Sara Gonzalez adalah seorang penulis muda yang tergabung dalam Cornerstone West Los Angeles.

Langganan Dapatkan Berita Terbaru

Jangan lewatkan artikel, renungan yang mendalam, berpusat pada Injil, dan meninggikan Kristus. Kami hadirkan panduan untuk hidup Kristen Anda setiap minggu.

Layanan Pelanggan

Ikuti Kami

Dapatkan informasi terbaru dari Living Word melalui media sosial kami. Klik icon yang ada dibawah ini

Copyright ©Living Word (PT Berita Baik Indonesia). All Rights Reserved

Discover more from Living Word

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading