Cara Menanggapi Kritik dan Berbeda Pendapat dengan Setia pada Injil

Cara Menanggapi Kritik dan Berbeda Pendapat dengan Setia pada Injil

Surat ini ditulis oleh John Newton pada tahun 1770, pada masa ketika perdebatan teologis di antara orang-orang Kristen berlangsung dengan sangat intens. Meskipun ditulis dalam bentuk surat pribadi, tulisan ini diterbitkan untuk khalayak luas sebagai nasihat pastoral bagi mereka yang membela kebenaran dalam perdebatan publik. Perhatian Newton bukan hanya pada apa yang dipercayai oleh orang Kristen, tetapi juga pada bagaimana cara mereka berbicara kepada mereka yang tidak sependapat. Ia memperingatkan terhadap kesombongan, kekerasan sikap, dan kebenaran diri yang dapat tumbuh secara diam-diam di dalam hati, bahkan ketika seseorang sedang membela doktrin yang benar.

Tim Keller pernah merefleksikan surat ini dalam konteks bagaimana menghadapi kritik di zaman modern—terutama dalam budaya yang dibentuk oleh perdebatan daring dan kemarahan publik. Keller mengamati bahwa bahaya terbesar dari kritik sering kali bukanlah terhadap reputasi kita, melainkan terhadap hati kita, ketika kita menjadi defensif, pahit, atau merasa lebih unggul daripada orang lain. Dengan mengambil pelajaran dari Newton, Keller mengingatkan kita untuk mendoakan mereka yang mengkritik kita, mengingat kebutaan dan kegagalan kita sendiri, serta menyampaikan kebenaran dengan kerendahan hati dan kasih.

Surat dari Newton yang akan kita baca berikut ini lebih dari sekadar nasihat tentang perdebatan. Ini adalah hikmat untuk menanggapi kritik, berinteraksi dengan orang yang berbeda pendapat dengan kita, dan memperjuangkan kebenaran yang mencerminkan kasih karunia Kristus.


 

Saudaraku yang terhormat,

Karena kemungkinan besar Anda akan terlibat dalam perdebatan, dan kecintaan Anda pada kebenaran disertai dengan temperamen yang secara alami penuh gairah, saya menulis kepada Anda sebagai seorang sahabat dengan sedikit kekhawatiran.

Anda berada di pihak yang lebih kuat—kebenaran itu agung dan pada akhirnya akan menang—sehingga bahkan seseorang yang kemampuannya di bawah Anda pun dapat memasuki perdebatan dengan keyakinan akan kemenangan. Saya tidak mengkhawatirkan hasil akhirnya; tetapi saya ingin Anda menjadi lebih dari sekadar pemenang—menang bukan hanya atas lawan Anda, tetapi juga atas diri Anda sendiri.

Sekalipun Anda tidak dapat dikalahkan, Anda tetap bisa terluka. Untuk melindungi Anda dari luka-luka yang suatu hari dapat membuat Anda berduka bahkan atas kemenangan-kemenangan Anda sendiri, saya ingin menyampaikan beberapa perenungan kepada Anda. 

Perhatikanlah semuanya dengan saksama, maka semuanya itu akan menjadi seperti baju zirah bagi Anda—bukan seperti perlengkapan perang Saul yang ditolak Daud karena terlalu berat dan tidak praktis, melainkan perlengkapan yang diambil dari gudang senjata besar milik prajurit Kristen: Firman Allah. 

Saya percaya Anda tidak memerlukan permintaan maaf atas keterusterangan saya, maka saya pun tidak akan memberikannya. Demi keteraturan pembahasan, nasihat saya akan saya susun di bawah tiga bagian: lawan Anda, publik, dan diri Anda sendiri.

Pertimbangkan Lawan Anda

Sebelum Anda mulai menulis untuk meresponi lawan Anda, dan selama Anda menyiapkan jawaban, berdoalah sungguh-sungguh baginya. Serahkan dia kepada Tuhan, supaya Tuhan mengajar dan memberkatinya. Ini akan menolong hati Anda dipenuhi kasih dan belas kasihan—dan sikap itu akan terlihat dalam setiap kata yang Anda tulis.

Jika Anda menganggapnya sebagai seorang percaya, meskipun dia sangat keliru dalam hal yang diperdebatkan, ingatlah perkataan Daud kepada Yoab tentang Absalom: “Perlakukanlah dia dengan lemah lembut demi aku.” Tuhan mengasihinya dan bersabar terhadapnya; jadi Anda tidak boleh merendahkannya atau memperlakukannya dengan keras. Tuhan juga bersabar terhadap Anda, dan Dia ingin Anda bersikap lembut kepada orang lain, karena Anda sendiri membutuhkan banyak pengampunan. Tidak lama lagi, Anda akan bertemu dengan lawan Anda di surga, dan pada saat itu dia akan sangat berharga bagi Anda. Ingatlah hal itu. Jadi, meskipun Anda perlu menentang kesalahannya, lihatlah dia sebagai sesama orang percaya yang akan bersama-sama dengan Anda bersukacita selamanya di dalam Kristus.

Namun jika Anda menganggapnya sebagai seorang yang belum percaya—dan kesimpulan ini jangan diambil tanpa alasan yang jelas—maka dia lebih pantas dikasihani daripada dimarahi. Dia tidak tahu apa yang dia lakukan. Tetapi Anda tahu bahwa perbedaan antara Anda dan dia adalah karena anugerah Allah. Anda bisa saja berada di posisinya sekarang. Kalian berdua sama-sama buta secara alami. Jika Anda mengingat hal ini, Anda tidak akan mencela atau merendahkannya hanya karena Tuhan telah membuka mata Anda, dan belum membuka matanya.

Di antara semua orang yang terlibat dalam perdebatan, kita yang disebut Calvinis justru seharusnya yang paling menunjukkan kelembutan dan pengendalian diri. Jika orang yang berbeda dengan kita bisa mengubah diri mereka sendiri—membuka mata dan melunakkan hati mereka—maka kita mungkin bisa lebih mengerti mengapa kita merasa kesal terhadap mereka. Tetapi karena kita percaya bahwa hanya Allah yang dapat melakukan itu, maka tugas kita bukanlah berdebat dengan keras, melainkan “dengan lemah lembut mengajar mereka yang menentang,” dengan harapan Allah memberi mereka pertobatan dan pengenalan akan kebenaran. Jika tujuan Anda adalah memperbaiki kesalahan, maka Anda akan berhati-hati untuk tidak menaruh batu sandungan di hadapan mereka, atau menggunakan kata-kata yang memancing emosi, membuat mereka semakin keras, dan justru makin sulit untuk bertobat.

Pertimbangkan Publik

Ketika Anda menerbitkan tulisan Anda, Anda sedang berbicara kepada publik. Para pembaca Anda dapat dibagi ke dalam tiga kelompok.

Pertama, mereka yang tidak sependapat dengan Anda. Mengenai mereka, apa yang sudah saya katakan sebelumnya tetap berlaku. Meskipun Anda terutama menanggapi satu orang, ada banyak orang lain yang berpikir sama dengannya; dan prinsip yang sama berlaku, baik untuk satu orang maupun untuk banyak orang.

Kedua, ada banyak orang yang tidak terlalu peduli pada agama, sehingga tidak memiliki keyakinan yang jelas, tetapi cenderung menyukai pandangan yang sejalan dengan penilaian baik yang secara alami mereka miliki tentang diri mereka sendiri. Mereka bukan penilai yang baik dalam hal doktrin, tetapi cukup mampu menilai sikap dari seorang penulis. Mereka tahu bahwa kelembutan, kerendahan hati, dan kasih adalah ciri-ciri orang Kristen. Meskipun mereka menganggap doktrin anugerah hanya sebagai gagasan, mereka tetap mengharapkan kita—yang mengaku memegangnya—untuk menunjukkan sikap yang sesuai dengan Injil. Mereka cepat melihat ketika kita menyimpang dari sikap itu, dan menggunakannya untuk meremehkan argumen kita. Firman Tuhan berkata bahwa “amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah,” dan hal ini terbukti setiap hari. Jika semangat kita disertai kemarahan, celaan, atau ejekan, kita mungkin merasa sedang membela kebenaran, padahal sebenarnya kita justru merusaknya.

Senjata kita bukanlah cara-cara duniawi, melainkan rohani—argumen yang diambil dengan benar dari Kitab Suci dan pengalaman, yang disampaikan dengan sikap yang lembut. Dengan demikian, entah mereka diyakinkan atau tidak dengan apa yang Anda tulis, pembaca dapat melihat bahwa kita sungguh menginginkan kebaikan bagi jiwa mereka, dan berjuang demi kebenaran. Jika mereka melihat hal ini, setengah tujuan kita sudah tercapai. Mereka akan lebih terbuka untuk mempertimbangkan apa yang kita sampaikan dengan tenang; dan meskipun mereka tetap tidak setuju, mereka tetap dapat menghargai niat kita.

Ketiga, ada mereka yang sudah sependapat dengan Anda. Mereka akan dengan mudah menyetujui apa yang Anda tulis, dan bahkan dapat semakin diteguhkan dalam pemahaman mereka akan doktrin Alkitab. Anda dapat membangun mereka jika tulisan Anda dipimpin oleh kebenaran sekaligus kasih; jika tidak, justru Anda bisa melukai mereka. Ada kecenderungan dalam diri kita untuk merendahkan orang yang tidak sependapat dengan kita. Sering kali kita berada di bawah pengaruh ini tanpa sadar, ketika kita merasa hanya sedang menunjukkan semangat bagi Tuhan.

Saya percaya bahwa banyak ajaran Arminianisme berakar pada kesombongan hati manusia. Namun saya tidak yakin bahwa kebalikannya selalu benar—bahwa mereka yang memegang doktrin Calvinis pasti memiliki kerendahan hati. Saya pernah mengenal beberapa orang Arminian yang, karena belum melihat dengan jelas, ragu menerima doktrin anugerah, tetapi menunjukkan kerendahan hati di hadapan Tuhan.

Sebaliknya, saya khawatir ada orang Calvinis yang, meskipun dengan kata-kata merendahkan manusia dan memuliakan Allah, sebenarnya tidak menyadari roh seperti apa yang ada dalam diri mereka. Apa pun yang membuat kita merasa lebih bijaksana atau lebih baik daripada orang lain, sehingga kita merendahkan mereka yang tidak setuju dengan kita, adalah tanda dari kebenaran diri sendiri. Kebenaran diri sendiri bisa tumbuh dari doktrin, bukan hanya dari perbuatan; seseorang bisa memiliki hati seperti orang Farisi, meskipun pikirannya penuh dengan doktrin yang benar tentang ketidaklayakan manusia dan kekayaan anugerah.

Bahkan orang terbaik pun tidak sepenuhnya bebas dari hal ini. Karena itu kita mudah merasa senang ketika lawan kita dipermalukan, karena itu membuat kita merasa lebih baik. Kebanyakan perdebatan justru memelihara sikap yang salah ini, bukan menahannya. Akibatnya, biasanya tidak banyak kebaikan yang dihasilkan. Perdebatan sering memancing kemarahan orang yang seharusnya diyakinkan, dan membesarkan hati orang yang seharusnya dibangun. Saya berharap tulisan Anda mencerminkan kerendahan hati yang sejati, dan menolong orang lain untuk bertumbuh di dalamnya.

Pertimbangkan Diri Anda Sendiri

Akhirnya, perhatikanlah diri Anda sendiri dalam hal ini. Membela iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus adalah suatu tugas yang mulia dan patut dihargai. Kita diperintahkan untuk memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh dan meyakinkan mereka yang menentang. Dan memang, di zaman kita sekarang, ketika kesalahan tersebar di mana-mana dan kebenaran Injil sering disangkal atau disalahpahami, pembelaan seperti ini sangat diperlukan.

Namun demikian, kita dapat melihat bahwa sangat sedikit orang yang terlibat dalam perdebatan tanpa mengalami dampak yang buruk. Ada yang menjadi semakin merasa dirinya penting; ada yang mengembangkan sikap marah dan suka bertengkar; ada pula yang tanpa sadar menjauh dari hal-hal yang sebenarnya menjadi makanan utama bagi kehidupan iman, dan justru menghabiskan waktu serta tenaga pada hal-hal yang kurang penting. Ini menunjukkan bahwa meskipun tugas ini mulia, tapi juga berbahaya. Apa gunanya seseorang memenangkan perdebatan dan membungkam lawannya, jika pada saat yang sama dia kehilangan kerendahan dan kelembutan hati—yaitu, hati yang berkenan kepada Tuhan dan yang dijanjikan penyertaan-Nya?

Saya tidak meragukan bahwa tujuan Anda baik. Tetapi Anda perlu berjaga-jaga dan berdoa, karena Anda akan mendapati Iblis siap menentang Anda. Dia akan berusaha menyelewengkan motivasi Anda. Dan meskipun Anda memulai dengan membela perkara Allah, jika Anda tidak terus bergantung kepada Tuhan untuk menjaga Anda, hal itu bisa berubah menjadi perkara Anda sendiri, dan membangkitkan sikap yang merusak damai sejahtera hati serta menghambat persekutuan Anda dengan Allah.

Berhati-hatilah agar tidak membawa hal-hal yang bersifat pribadi ke dalam perdebatan. Jika Anda merasa diperlakukan tidak adil, itu adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa Anda adalah murid Yesus, yang “ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam.” Inilah teladan kita. Kita dipanggil untuk berbicara dan menulis bagi Allah “tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil” Hikmat yang dari atas bukan hanya murni, tetapi juga pendamai dan lemah lembut. Jika hal-hal ini tidak  ada, maka seluruh usaha kita akan rusak, seperti lalat mati yang merusak minyak wangi.

Jika kita bertindak dengan roh yang salah, kita tidak akan memuliakan Tuhan, tidak akan banyak menolong orang lain, dan tidak akan memperoleh kehormatan atau penghiburan bagi diri sendiri. Jika Anda hanya ingin menunjukkan kecerdasan dan membuat orang tertawa, itu bukan hal yang sulit. Tetapi saya berharap Anda memiliki tujuan yang jauh lebih mulia—bahwa, menyadari betapa pentingnya kebenaran Injil dan betapa berharganya jiwa manusia, Anda lebih memilih menolong satu orang melepaskan prasangka daripada mendapatkan pujian kosong dari banyak orang.

Oleh karena itu, majulah dalam nama dan kekuatan Tuhan semesta alam, menyampaikan kebenaran dalam kasih. Kiranya Tuhan memakai Anda untuk menjamah banyak hati, sebagai seseorang yang diajar oleh Allah dan dipenuhi oleh urapan Roh Kudus-Nya.  

John Newton (1725–1807) adalah seorang pendeta Anglikan Injili dari Inggris dan tokoh yang terlibat dalam gerakan penghapusan perbudakan. Ia dikenal sebagai penulis beberapa himne, termasuk“Amazing Grace.”

Langganan Dapatkan Berita Terbaru

Jangan lewatkan artikel, renungan yang mendalam, berpusat pada Injil, dan meninggikan Kristus. Kami hadirkan panduan untuk hidup Kristen Anda setiap minggu.

Layanan Pelanggan

Ikuti Kami

Dapatkan informasi terbaru dari Living Word melalui media sosial kami. Klik icon yang ada dibawah ini

Copyright ©Living Word (PT Berita Baik Indonesia). All Rights Reserved

Eksplorasi konten lain dari Living Word

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca