Hikmah dan Istirahat Sabat

Kepemimpinan adalah penatalayanan —pengolahan sumber daya yang Tuhan telah percayakan kepada kita untuk kemuliaan-Nya. Sabat memberi kita bantuan teologis dan praktis dalam mengelola salah satu sumber daya utama kita: waktu.

Dalam Efesus 5, Paulus menggunakan konsep hikmat yang alkitabiah:

“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” Efesus 5:15–17

Alkitab versi King James menerjemahkan ayat 15 dan 16 sebagai, “berjalanlah dengan hati-hati, jangan seperti orang bodoh, tetapi seperti orang bijak, dan gunakanlah waktu, karena hari-hari ini jahat.” Hidup dengan bijak (atau hati-hati) sebagian besar bergantung pada cara kita menggunakan waktu.

Jadi apa yang ayat ini beritahukan kepada kita? Pertama, kata “menebus” diambil dari pasar komersial. Pada dasarnya, hal ini berarti mendapat sukses besar, atau melakukan pembelanjaan dengan bijak dan strategis sehingga keuntungannya berkali-kali lipat dari investasi.

Kedua, ungkapan Paulus “hari-hari ini jahat” tidak hanya berarti bahwa para pembacanya sedang hidup di masa-masa buruk. Ketika Paulus berbicara tentang “dunia jahat yang sekarang ini” (Galatia 1:4), yang ia maksudkan adalah masa antara kedatangan Kristus yang pertama dan kedatangan Kristus yang kedua kali. Ini merupakan tumpang tindih antara zaman lama dan zaman kerajaan baru, suatu masa ketika umat Kristiani menyebarkan Injil dan menjadi saksi kerajaan. Oleh karena itu, umat Kristiani wajib sungguh-sungguh untuk tidak menyia-nyiakan waktu. Mengelola waktu dengan baik adalah sebuah perintah!

Namun, menerapkan prinsip “pergunakanlah waktu yang ada” dari sudut pandang kerajaan mungkin lebih sulit saat ini dibandingkan sebelumnya. Khususnya di kota-kota global, kita menemukan lebih banyak tekanan, lebih sedikit batasan, dan lebih sedikit stabilitas dalam pekerjaan kita sehari-hari dibandingkan sebelumnya. Salah satu masalahnya adalah seberapa terhubungnya kita melalui teknologi. Salah satu penyebabnya adalah globalisasi, yang menciptakan tekanan ekonomi yang sangat besar sehingga semua orang terdesak hingga batas kemampuannya. Pengusaha berusaha untuk memaksimalkan produktivitas pekerja sehingga banyak dari kita diminta untuk melakukan lebih dari apa yang benar-benar adil dan benar.

Meskipun teknologi dan berhala-berhala masa kini telah menciptakan jam kerja yang semakin panjang, “janganlah bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” Memahami kehendak Tuhan. Dahulu kala seseorang mengatakan kepada saya bahwa Tuhan tidak memberi Anda lebih banyak hal untuk dikerjakan dalam sehari daripada yang mampu Anda lakukan, dan saya bergumul dengan hal itu selama bertahun-tahun. Kita mungkin merasa terlalu banyak yang harus dilakukan, namun sebagian di antaranya bukan kehendakNya. Tekanan itu datangnya dari diri Anda sendiri, atau atasan Anda, atau teman-teman Anda, atau orang tua Anda, atau orang lain selain Tuhan!

PRINSIP-PRINSIP SABAT

Dalam hal manajemen waktu, salah satu prinsip dasar Alkitab adalah hari Sabat. Jika kita ingin menjadi “kota alternatif” (Matius 5:14–16), kita harus berbeda dari tetangga kita dalam cara kita menghabiskan waktu di luar pekerjaan; yaitu, bagaimana kita beristirahat. Jadi tentang apa hari Sabat itu?

Menurut Alkitab, ini lebih dari sekedar mengambil cuti. Setelah menciptakan dunia, Tuhan melihat sekeliling dan melihat bahwa “sungguh amat baik” (Kejadian 1:31). Tuhan tidak berhenti bekerja begitu saja; dia berhenti dan menikmati apa yang telah Dia buat. Apa artinya ini untuk kita? Kita perlu berhenti untuk menikmati Tuhan, untuk menikmati ciptaan-Nya, untuk menikmati hasil kerja kita. Inti dari hari Sabat adalah sukacita atas apa yang telah Tuhan lakukan.
   
Penulis Judith Shulevitz menggambarkan dinamika kerja dan istirahat Sabat sebagai berikut:

Suasana hati saya akan menjadi gelap sampai, pada Sabtu sore, saya menjadi tidak responsif dan murung. Rutinitas normal saya, termasuk makan siang bersama teman-teman dan bertukar cerita tentang kesialan dalam pencarian cinta dan kesuksesan profesional yang tiada henti, membuat saya merasa sangat gelisah. Saya mulai menghabiskan hari Sabtu sendirian. Setelah beberapa waktu, saya merasa kesepian dan melakukan sesuatu yang, sebagai seorang remaja, saya sangat tidak menyukai pendidikan agama, dan saya tidak pernah membayangkan ingin melakukannya. Saya mulai mampir ke sinagoga terdekat.

Baru kemudian saya mengembangkan teori tentang kondisi saya. Saya menderita dari kurangnya [hari Sabat]. Ada banyak bukti bahwa hubungan kita dengan pekerjaan sudah rusak. Masyarakat kita adalah masyarakat yang mematok status pada prestasi yang berlebihan; kita tidak bisa tidak mengagumi para pecandu kerja. Izinkan saya berargumentasi atas nama institusi yang telah mengendalikan kecanduan kerja selama ribuan tahun.

Kebanyakan orang salah percaya bahwa yang harus Anda lakukan untuk berhenti bekerja adalah dengan tidak bekerja. Para penemu hari Sabat memahami bahwa ini adalah pekerjaan yang jauh lebih rumit. Anda tidak dapat menurunkan gigi dengan santai dan mudah. Inilah sebabnya mengapa hari Sabat Puritan dan Yahudi sangat disengaja. Aturan tidak ada untuk menyiksa umat beriman. Hal-hal tersebut dimaksudkan untuk menyampaikan pemahaman bahwa menghentikan perjuangan yang tiada henti memerlukan tindakan kemauan yang sangat kuat, tindakan yang harus didukung oleh kebiasaan dan juga sanksi sosial.

Dalam Alkitab, istirahat Sabat berarti berhenti secara teratur dan menikmati hasil pekerjaan Anda. Ini memberikan keseimbangan: “Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu” (Keluaran 20:9–10). Walaupun waktu istirahat pada hari Sabat jauh lebih sedikit dibandingkan waktu untuk bekerja, hal ini merupakan penyeimbang yang diperlukan agar sisa pekerjaan Anda dapat menjadi baik dan bermanfaat.

Tuhan membebaskan umat-Nya ketika mereka menjadi budak di Mesir, dan dalam Ulangan 5:12–15, Tuhan mengikat hari Sabat dengan kebebasan dari perbudakan. Siapapun yang bekerja berlebihan sebenarnya adalah seorang budak. Siapa pun yang tidak bisa berhenti bekerja adalah budak—kebutuhan akan kesuksesan, budaya materialistis, atasan yang eksploitatif, harapan-harapan orang tua, atau semua hal di atas. Para tuan budak ini akan menganiaya Anda jika Anda tidak disiplin dalam menjalankan istirahat Sabat. Sabat adalah deklarasi kebebasan.

Jadi, Sabat bukan hanya tentang istirahat lahiriah tubuh; tetapi juga tentang istirahat batiniah jiwa. Kita perlu istirahat dari kegelisahan dan ketegangan karena bekerja berlebihan, yang sebenarnya merupakan upaya untuk membenarkan diri kita sendiri—untuk mendapatkan uang atau status atau reputasi yang menurut kita harus kita miliki. Menghindari kerja berlebihan memerlukan istirahat yang mendalam dalam karya paripurna Kristus atas keselamatan Anda (Ibrani 4:1–10). Hanya dengan cara ini Anda akan dapat “meninggalkan” pekerjaan dan istirahat Anda secara rutin. 

Sabat adalah kunci untuk mencapai keseimbangan ini, dan Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai Penguasa hari Sabat (Markus 2:27–28)—Penguasa Istirahat! Yesus mendesak kita, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” (Matius 11:28–29). Salah satu berkat terbesar Injil adalah bahwa Dia memberi Anda istirahat yang tidak diberikan orang lain.

“PRAKTIS” SABAT

Secara praktis, bagaimana kita mengetahui berapa banyak waktu yang kita perlukan untuk istirahat di hari Sabat, dan bagaimana kita menggunakan waktu tersebut? Berikut ini adalah beberapa saran atau pedoman, yang tentu saja tidak mencakup semuanya.

Berapa jumlah waktu istirahat dari pekerjaan yang ideal?
Sepuluh Perintah Allah memerlukan satu hari libur (dua puluh empat jam) setiap minggunya. Ketika Allah memberikan perintah-perintah ini, orang-orang Ibrani telah bekerja dari matahari terbit hingga terbenam, namun karunia hari Sabat adalah berhenti bekerja saat matahari terbenam pada hari Jumat dan beristirahat hingga matahari terbenam pada hari Sabtu.

Jika Anda membaca Alkitab, tidak ada yang mengatakan bahwa Anda harus membatasi diri Anda pada pada minggu kerja selama empat puluh atau lima puluh jam. Saya menyarankan bahwa untuk berada dalam batasan Alkitab, Anda perlu memiliki setidaknya satu hari penuh untuk istirahat, dan setengah hari tambahan selama seminggu.

Misalnya, jika pekerjaan dan perjalanan Anda menyita hampir seluruh hari kerja tetapi Anda mempunyai akhir pekan penuh untuk istirahat, dengan partisipasi di gereja pada hari Minggu, maka itu mungkin merupakan Sabat yang cukup. Atau jika Anda mendapat satu hari penuh untuk istirahat dalam seminggu, dan mungkin tiga malam bebas setelah pukul 18.00, Anda bisa menjalani kehidupan yang cukup seimbang. Ini masih memungkinkan cukup banyak jam untuk bekerja selama seminggu.

Apa yang dianggap sebagai waktu istirahat?
Tentu saja, “memanfaatkan setiap peluang sebaik-baiknya” tidaklah mudah. Ini tidak pernah mudah. Ya, dua jam yang dihabiskan dalam doa kepada Tuhan akan menghasilkan manfaat rohani yang jauh lebih besar daripada menonton film lama Cary Grant; namun, rekreasi adalah sesuatu yang tetap Anda butuhkan! Penyegaran mental adalah bagian dari diet yang seimbang bagi tubuh dan jiwa, jadi doa tidak dapat menggantikan semua rekreasi, olah raga, dan sebagainya. Sabat mencakup beberapa jenis istirahat yang berbeda, sebagaimana diuraikan di bawah ini.

1. LUANGKAN WAKTU UNTUK TIDAK AKTIF SAMA SEKALI.

Kebanyakan orang membutuhkan waktu setiap minggu yang tidak direncanakan dan tidak terstruktur, di mana Anda dapat melakukan apa pun yang Anda ingin lakukan. Jika waktu Sabat Anda sangat sibuk dan diisi dengan kegiatan “rekreasi” dan pelayanan yang terjadwal, itu tidak akan cukup. Harus ada penghentian dari aktivitas atau pengerahan tenaga. Jeda dalam siklus kerja ini serupa dengan praktik Israel yang membiarkan ladang tidak digarap setiap tahun ketujuh untuk menghasilkan apa pun yang tumbuh dengan sendirinya (Imamat 25:1-7). Tanah diistirahatkan sehingga pertanian yang berlebihan tidak menghabiskan nutrisinya dan merusak kemampuannya untuk terus berproduksi. Apapun yang tumbuh di dalam tanah akan muncul. Anda memerlukan waktu yang tidak terjadwal seperti itu setiap minggu untuk membiarkan apa pun muncul—dari hati dan pikiran.

2. LUANGKAN WAKTU UNTUK REKREASI.

Kegiatan rekreasi adalah sesuatu yang benar-benar menyenangkan bagi Anda, namun hal itu memerlukan kesengajaan dan memberi struktur pada istirahat Sabat Anda. Dalam banyak kasus, kegiatan rekreasi adalah sesuatu yang dilakukan orang lain sebagai “pekerjaan”, mirip contohnya dengan sesekali menanam tanaman yang berbeda di satu lahan untuk menambah nutrisi dan menjadikan tanah lebih subur untuk tanaman yang biasa ditanam. Sertakan elemen-elemen ini:

Anda perlu istirahat kontemplatif.
Doa dan ibadah penyembahan adalah bagian penting dari istirahat Sabat, dari sudut pandang apa pun. Waktu yang teratur untuk saat teduh, membaca Alkitab, dan mendengarkan Tuhan menjadi dasar istirahat batin dan menyediakan waktu untuk menjauh dari upaya hidup yang lebih melelahkan.

Anda perlu istirahat rekreasional.
Kaum Puritan dan kelompok lainnya sangat skeptis terhadap rekreasi yang memerlukan banyak uang, waktu, dan tenaga, karena jenis rekreasi tersebut melelahkan orang. Berhati-hatilah agar rekreasi benar-benar menyegarkan.

Anda perlu juga istirahat estetika.
Paparkan diri Anda pada karya ciptaan Tuhan yang menyegarkan dan memberi energi pada Anda, serat yang menurut Anda indah. Ini mungkin berarti aktivitas di luar ruangan. Ini mungkin berarti seni—musik, drama, dan seni visual. Tuhan melihat sekeliling pada dunia yang Dia ciptakan dan berkata bahwa dunia ini baik, jadi istirahat estetis diperlukan untuk berpartisipasi dalam Sabat Tuhan sepenuhnya.

3. PERTIMBANGKAN APAKAH ANDA INTROVERT ATAU EKSTROVERT.

Saat merencanakan istirahat Sabat Anda, tanyakan pada diri Anda apa yang benar-benar “menyegarkan” Anda. Penilaian diri ini dapat membantu Anda menentukan seberapa relasionalnya waktu Sabat Anda. Introvert cenderung menghabiskan energinya saat keluar bersama orang lain dan mengisi ulang tenaganya dengan menyendiri. Orang ekstrovert cenderung menghabiskan energi untuk pekerjaan pribadi dan mengisi ulang tenaga mereka dengan berinteraksi dengan orang lain. Jika Anda seorang introvert sejati, berhati-hatilah untuk tidak mencoba menjaga semua hubungan komunitas Anda selama waktu Sabat Anda. Itu akan sangat menguras tenaga. Di sisi lain, membangun hubungan bisa menjadi salah satu hal yang terbaik yang bisa dilakukan oleh seorang ekstrovert sejati. Jangan mencoba meniru ritme Sabat seorang introvert jika Anda seorang ekstrovert atau sebaliknya! Sadarilah bahwa beberapa aktivitas rekreasi membawa Anda ke dalam kesendirian, sementara aktivitas lainnya membawa Anda ke tengah masyarakat.

4. JANGAN SELALU MENGHITUNG WAKTU KELUARGA SEBAGAI WAKTU SABAT.

Lakukan penilaian diri yang realistis tentang “waktu keluarga” dan bagaimana hal itu mempengaruhi Anda. Waktu keluarga itu penting, namun orang tua perlu berhati-hati agar mereka tidak membiarkan seluruh waktu Sabat mereka dihabiskan dengan tanggung jawab sebagai orang tua. (Terutama kaum introvert yang membutuhkan waktu jauh dari anak-anak!) Menjaga semua hal ini dalam keseimbangan mungkin hampir tidak mungkin dilakukan ketika anak-anak Anda masih sangat kecil, tetapi hal ini juga akan berlalu.

5. HORMATI KEDUA RITME MIKRO DAN MAKRO DI MUSIM ISTIRAHAT ANDA.

Siklus istirahat dan kerja Sabat Israel tidak hanya mencakup hari Sabat tetapi juga tahun Sabat dan bahkan Tahun Yobel setiap empat puluh sembilan tahun (Imamat 25:8-11). Ini adalah wawasan penting bagi para pekerja di dunia saat ini. Memang mungkin untuk secara sukarela menjalani musim kerja yang membutuhkan energi tinggi, jam kerja yang panjang, dan waktu Sabat mingguan yang tidak mencukupi. Misalnya, seorang dokter yang baru harus bekerja berjam-jam sewaktu magang, dan banyak karir lainnya (seperti keuangan, pemerintahan, dan hukum) juga menuntut semacam periode awal pekerjaan yang berat dan intens. Memulai bisnis sendiri atau mengejar proyek besar seperti membuat film memerlukan hal yang serupa. Dalam situasi seperti ini Anda harus berhati-hati agar Anda tidak membenarkan kurangnya Sabat dengan mengatakan bahwa Anda sedang “sedang melewati satu musim”—padahal kenyataannya musim tersebut tidak pernah berakhir.

Kalau harus memasuki musim seperti ini, sebaiknya tidak berlangsung lebih dari dua atau tiga tahun maksimal. Bertanggung jawablah kepada seseorang untuk hal ini, atau Anda akan terjebak dalam gaya hidup dengan Sabat yang kurang, dan Anda akan mengalami burn out. Dan selama masa “kurang Sabat” ini, jangan biarkan ritme doa, studi Alkitab, dan ibadah mati. Jadilah kreatif, tetapi pastikan Anda melakukannya..

BRAINSTORM IDE-IDE DENGAN ORANG LAIN

Segera setelah komunitas Kristen mulai menetapkan peraturan khusus tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan setiap orang pada hari Sabat (seperti bepergian, menonton televisi, atau rekreasi, misalnya), kita mulai terjerumus ke dalam legalisme. Mengamati istirahat Sabat bersama komunitas bisa bermanfaat, namun perlu diingat bahwa setiap orang mempunyai temperamen dan situasi yang berbeda-beda.

Mungkin bermanfaat untuk mencari orang Kristen lain di bidang pekerjaan Anda dan bertanya kepada mereka bagaimana mereka menangani kebutuhan istirahat, rekreasi, dan pemulihan. Tanyakan tentang ritme mingguan atau musiman mereka. Anda mungkin akan menemukan satu atau dua ide yang sangat berguna. Jika bisa, ajaklah orang-orang ini untuk bertukar pikiran secara langsung.

Kita hidup di dunia yang rusak, dan beberapa perusahaan terus-menerus mengeksploitasi karyawannya. Menghadapi situasi seperti ini memang sulit, tetapi menjadi bagian dari komunitas yang terdiri dari orang-orang Kristen yang bijaksana di bidang Anda dapat membantu Anda menilai situasi kerja dan alternatif Anda dengan benar.

“MENYISIPKAN” SABAT KE DALAM KEHIDUPAN KERJA KITA

Saya menyadari bahwa jika Anda mengembangkan dasar dan ketenangan batin dari Sabat, hal ini tidak hanya akan membuat Anda lebih disiplin dalam mengambil waktu istirahat, namun juga akan membuat Anda tidak terlalu panik dan tidak tertekan dalam pekerjaan Anda. Ini mungkin penerapan Sabat yang paling penting, di mana kita dapat benar-benar bertindak sebagai kontra-kultur, dan inilah cara kerjanya.

Terkait dengan hukum Sabat adalah “hukum memungut sisa” seperti dalam Imamat 19:9, yang melarang pemilik ladang untuk “menuai hingga ke tepi” ladang mereka. Mereka harus meninggalkan sebagian dari hasil panen di ladang untuk orang miskin datang dan memanen. Maka, Sabat adalah pembatasan produktivitas yang disengaja, sebagai cara untuk memercayai Tuhan, menjadi pengelola diri yang baik, dan menyatakan kebebasan dari perbudakan terhadap pekerjaan kita.

Secara konkrit ini adalah hal yang paling berat untuk dilakukan, karena ini masalah hati. Secara pribadi, ini berarti dengan sengaja menetapkan lebih sedikit gol untuk diri saya sendiri dalam sehari dan seminggu, daripada memanen sampai habis (“hingga ke tepi ladang”).

Di kota-kota global, banyak orang yang pelit dengan uangnya namun rela menyumbangkan tubuhnya. Sebaliknya, kami orang Kristen pelit dengan tubuh kami dan murah hati dengan uang kami. Demikian pula, banyak orang yang rela menggadaikan jiwanya untuk bekerja, namun pada titik tertentu orang Kristen harus berkata, “Saya rela menetapkan lebih sedikit gol hidup, tidak memanjat tangga kesuksesan dengan cepat, dan bahkan mengambil risiko tidak meraih banyak hal, karena Saya harus mengambil waktu Sabat. Dan pada akhirnya, saya tidak perlu menjadi sangat sukses. Saya dapat memilih jalan kebebasan ini karena ketenangan batin yang saya terima dari Yesus Kristus melalui apa yang telah Dia lakukan untuk saya.”

Anda harus benar-benar menyisipkan istirahat Sabat ini ke dalam cara berpikir Anda dan ke dalam kehidupan kerja Anda. Beberapa dunia profesional kita secara institusional telah terstruktur menuju kerja yang berlebihan. Kadang-kadang Anda harus “membayar harga” di tahap awal karir Anda ketika Anda berada di musim kerja keras (seperti yang saya sebutkan sebelumnya) atau sedang mencoba untuk mendapatkan kredibilitas di bidang Anda. Ketika Anda sudah lebih mapan di bidang Anda, Anda mungkin dapat mengurangi beban kerja Anda. Namun, pada titik tertentu, bahkan jika hal itu tidak terjadi, Anda harus memercayai Tuhan dan menghormati Yesus—yang adalah Tuhan atas Sabat—dengan menjalankan Sabat dan berisiko “tertinggal” dalam karier Anda.

Mungkin saja Anda tertinggal, namun tetap menjaga kewarasan Anda. Atau mungkin Tuhan mengizinkan Anda untuk terus maju dalam karir Anda meskipun Anda mempraktikkan Sabat dan prinsip “memungut hasil tidak sampai ke tepi ladang”. Terserah pada-Nya.

Tujuan Sabat bukan sekedar untuk menyegarkan diri agar dapat berproduksi lebih banyak, juga bukan untuk mengejar kesenangan. Tujuan Sabat adalah untuk menikmati Tuhan Anda, kehidupan secara umum, apa yang telah Anda capai di dunia melalui pertolongan-Nya, dan kebebasan yang Anda miliki dalam Injil—kebebasan dari perbudakan terhadap objek materi atau harapan manusia apa pun. Sabat adalah tanda pengharapan yang kita miliki di dunia yang akan datang.


Copyright © Redeemer City To City 
Sumber: https://redeemercitytocity.com/articles-stories/wisdom-and-sabbath-rest

Tim Keller (1950–2023) adalah seorang penulis, teolog, dan apologet. Beliau adalah Chairman dari Redeemer City to City, juga pendeta pendiri Redeemer Presbyterian Church di New York, dan salah satu pendiri The Gospel Coalition.

Tags :

Langganan Dapatkan Berita Terbaru

Jangan lewatkan artikel, renungan yang mendalam, berpusat pada Injil, dan meninggikan Kristus. Kami hadirkan panduan untuk hidup Kristen Anda setiap minggu.

Layanan Pelanggan

Ikuti Kami

Dapatkan informasi terbaru dari Living Word melalui media sosial kami. Klik icon yang ada dibawah ini

Copyright ©Living Word (PT Berita Baik Indonesia). All Rights Reserved

Discover more from Living Word

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading