Bagaimana Dunia yang Penuh dengan Kejahatan dan Penderitaan Menjadi Bagian dari Rencana Allah?

Masalah Kejahatan

Dari semua gambaran mengerikan dari Perang Dunia Kedua, tentang awan jamur dan mayat yang mengapung, ada satu yang sangat membekas bagi saya. Foto itu diambil pada tahun 1942, di luar Ivanhorod di Ukraina. Seorang ibu berlari dari kiri ke kanan, sambil memegang dan mungkin melindungi anaknya.

Peristiwa seperti itu bukanlah hal yang jarang. Hal itu terjadi puluhan juta kali, di puluhan negara, kepada keluarga-keluarga yang lama dilupakan oleh sejarah.

Yang jarang adalah bahwa seseorang memilih untuk mengabadikan peristiwa itu dalam film, seseorang yang menyetujui akan apa yang digambarkan oleh foto tersebut.

Di sebelah kiri berdiri seorang tentara Jerman, senapannya diarahkan kepada ibu dan anak itu. Dalam sepersekian detik setelah foto itu diambil, ibu dan anak itu keduanya akan mati.

Saat saya menulis, kita baru saja mengetahui nasib sebuah keluarga Yahudi yang ditangkap dalam serangan teroris pada 7 Oktober 2023. Para teroris dari Gaza menangkap keluarga

Bibas, kemudian membunuh sang ibu, Shiri, dan kedua anak laki-lakinya dalam penahanan. Seorang anak yang dicekik sampai mati dengan tangan kosong berusia empat tahun. Yang lainnya, dengan rambut merah seperti saudaranya, baru berusia sepuluh bulan.

Saat saya menulis ini, kita juga baru saja memperingati tiga tahun invasi Rusia ke Ukraina dalam apa yang disebut Vladimir Putin sebagai kampanye “denazifikasi.” Dan seketika itu juga, ladang-ladang Ivanhorod terasa tidak begitu jauh, dan tahun 1942 tidak terasa begitu lama berlalu.

Jadi, di manakah Allah dalam dunia yang penuh dengan begitu banyak kejahatan?

Itu adalah pertanyaan yang tidak dapat saya hindari ketika saya melihat dunia saat ini. Dan itu juga pertanyaan yang pasti tidak dapat saya hindari ketika saya melihat sejarah. Apakah dunia yang telah jatuh, brutal, dan kejam ini benar-benar merupakan rencana Allah? Setiap malam keluarga saya berkumpul di perpustakaan rumah kami untuk membaca Alkitab, bernyanyi, dan berdoa. Anak saya yang lebih besar sering bertanya tentang perang di Ukraina. Bagaimana saya harus menjawab? Apa jawaban Allah atas banyak doa kita yang sungguh-sungguh?

Kebaikan yang Naif

Ketika kita berpaling kepada Kitab Suci, kita tidak menemukan jawaban yang aman dan rapi. Sebaliknya, kita menemukan banyak penulis Kitab Suci yang paling setia dan diilhamkan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit yang sama. Kita mengingat Ratapan 3 sebagai salah satu bagian paling indah dalam seluruh Alkitab, yang menjadi inspirasi bagi salah satu lagu terbesar dalam buku nyanyian kita. Kita membaca dalam Ratapan 3:21–24:

Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan,
 oleh sebab itu aku akan berharap:
Tak berkesudahan kasih setia TUHAN,
 tak habis-habisnya rahmat-Nya,
 selalu baru tiap pagi;
 besar kesetiaan-Mu!
 “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku,
 oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.

Namun, jika kita melangkah sedikit lebih jauh dalam pasal itu, sudut pandang nabi Yeremia, atau setidaknya nadanya, mulai berubah dan menjadi lebih gelap. Kita membaca dalam Ratapan 3:43–48:

Engkau menyelubungi diri-Mu dengan murka, mengejar kami dan membunuh kami tanpa belas kasihan. Engkau menyelubungi diri-Mu dengan awan, sehingga doa tak dapat menembus. Kami Kau jadikan kotor dan keji di antara bangsa-bangsa. Terhadap kami semua seteru kami mengangakan mulutnya. Kejut dan jerat menimpa kami, kemusnahan dan kehancuran. Air mataku mengalir bagaikan batang air, karena keruntuhan puteri bangsaku.

Anda dapat membayangkan kata-kata ini dalam pikiran dan di bibir Shiri Bibas ketika dia bersembunyi di ruang aman keluarganya di Nir Oz dan berusaha melindungi kedua putranya dalam penawanan. Anda dapat melihat ekspresi ketakutan yang luar biasa di wajahnya, ketika peristiwa yang akan berujung pada kematiannya dan kematian kedua anaknya direkam dalam video oleh para teroris.

Dan Anda dapat membayangkan kata-kata ini, pergolakan emosi yang begitu liar, ketika keluarga-keluarga Yahudi akhirnya turun dari gerbong ternak di kamp konsentrasi menuju nasib yang kini kita tahu sudah ditentukan. Mungkin tidak ada yang menangkap emosi ini dengan lebih tajam daripada Vasily Grossman dalam novel klasik abad kedua puluhnya Life and Fate. Ibunya yang Yahudi meninggal di Berdichev, Ukraina di tangan tentara Jerman yang menyerbu pada tahun 1941.

Grossman menulis tentang kegembiraan yang dirasakan orang-orang Yahudi ketika mereka keluar dari kereta yang bau dan sempit itu dan diberitahu bahwa mereka akan langsung menuju rumah pemandian. “Tidak ada Allah yang penuh belas kasihan,” tulis Grossman, “yang dapat memikirkan sesuatu yang lebih baik.”

Namun segera, tentu saja, mereka mengetahui kenyataannya. Dalam hitungan menit, para lansia, perempuan, dan anak-anak telah digas sampai mati lalu dikremasi. Bagaimana mungkin kejahatan seperti itu dapat dipahami? Bagaimana para ayah dan suami dapat melanjutkan hidup dalam kesedihan mereka?

“Bagaimana dia dapat terus hidup,” tulis Grossman, “melihat cahaya di langit menyala dengan kekuatan baru? Sekarang tangan yang pernah diciumnya pasti sedang terbakar, sekarang mata yang pernah mengaguminya, sekarang rambut yang aromanya dapat dikenalnya dalam kegelapan, sekarang anak-anaknya, istrinya, ibunya.”

Grossman, seorang veteran Tentara Merah, menjadi terkenal karena mempertanyakan apakah Soviet dan Nazi benar-benar begitu berbeda, mengingat kesamaan mereka dalam hasrat akan pembunuhan massal. Namun ia menjadi salah satu penulis paling dikasihi dan dihormati pada abad ke-20 karena kemampuannya menggambarkan adegan-adegan kasih yang menyentuh di tengah kengerian Holocaust. Anda dapat merasakan kepedihan dalam tulisannya tentang kasih yang tidak pernah dapat dipadamkan, kasih antara seorang ibu dan anaknya.

“Kasih ini, kasih yang tampak bodoh ini, adalah apa yang sungguh paling manusiawi dalam diri manusia,” tulis Grossman. “Inilah yang membedakan manusia, pencapaian tertinggi jiwanya. Tidak, hal itu berkata, hidup ini bukanlah kejahatan!”

Ratapan atas Kejahatan

Saya menulis buku baru Di Manakah Allah dalam Dunia dengan Begitu Banyak Kejahatan? sebagai suatu ratapan atas kejahatan—masa lalu, masa kini, dan masa depan. Saya menulis tentang gambar Allah dan tak terhitung banyaknya upaya untuk memadamkan kehidupan dan menyalahkan Sang Pencipta-Nya. Saya menulis tentang kejahatan di dalam diri kita—perang kita melawan dunia, daging, dan Iblis—serta kebutuhan kita yang sangat besar akan kasih setia dari Tuhan yang rahmat-Nya tidak pernah berakhir.

Masalah kejahatan adalah masalah kemanusiaan dan kerendahan hati. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit kepada Allah dapat diterima, bahkan dianjurkan. Hal itu disahkan oleh Kitab Suci dan merupakan bagian dari arti diciptakan menurut gambar Allah. Masalahnya adalah bahwa kita tidak selalu menyukai jawaban-Nya. Karena dalam Kitab Suci, seperti juga dalam sejarah, kita melihat bahwa kita mampu melakukan keduanya yaitu yang lebih baik maupun yang lebih buruk daripada yang kita bayangkan.

“Orang baik dan orang jahat sama-sama mampu melakukan kelemahan,” kata Grossman. “Perbedaannya hanyalah bahwa orang jahat akan seumur hidup bangga atas satu perbuatan baik—sedangkan orang yang jujur hampir tidak menyadari perbuatan baiknya, tetapi mengingat satu dosa selama bertahun-tahun.”

Kebenaran adalah korban pertama dari setiap kejahatan besar. Ada banyak hal tentang cara Allah bekerja di dunia yang tidak kita pahami. Kejahatan dimulai, seperti yang terjadi di Taman, ketika kita mengira kita tahu lebih baik daripada Dia, ketika kita mengambil pembalasan ke tangan kita sendiri, ketika kita membagi manusia menjadi yang baik dan yang jahat alih-alih mengenali dosa yang memisahkan kita dari Allah. Hanya Kristus yang dapat membebaskan kita dari siklus pembalasan yang membuat dunia ini terus berputar (Roma 8:2; Galatia 5:1).

Kitab Ratapan tidak pernah menyelesaikan ketegangan yang kita temui dalam pasal tiga. Pada akhir kitab itu, kita membaca dalam Ratapan 5:19–22

Engkau, ya Tuhan, bertakhta selama-lamanya,
takhta-Mu tetap dari masa ke masa!
Mengapa Engkau melupakan kami selama-lamanya,
meninggalkan kami demikian lama?
Bawalah kami kembali kepada-Mu, ya Tuhan, maka kami akan kembali,
baharuilah hari-hari kami seperti dahulu kala!
Atau, apa Engkau sudah membuang kami sama sekali?
Sangat murkakah Engkau terhadap kami?

Ketika kita memandang kepada salib, kita menemukan penyelesaian yang telah Allah rencanakan sejak sebelum permulaan. Dengan memandang Kristus, kita tahu bahwa Allah tidak menolak kita. Allah tidak murka terhadap umat-Nya karena, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” (2 Korintus 5:21).

Jadi, di manakah Allah dalam dunia yang penuh dengan begitu banyak kejahatan? Pandanglah kepada Kristus—jawaban atas doa-doa kita, jaminan masa depan kita, dan pemenang atas dosa dan maut.

Collin Hansen adalah penulis Di Manakah Allah dalam Dunia dengan Begitu Banyak Kejahatan?

 

Collin Hansen (MDiv, Trinity Evangelical Divinity School) adalah wakil presiden bidang konten dan pemimpin redaksi untuk The Gospel Coalition serta direktur eksekutif Keller Center for Cultural Apologetics. Dia menjadi pembawa acara podcastGospelbounddan menulisTimothy Keller: His Spiritual and Intellectual Formation. Dia adalah profesor adjung dan wakil ketua dewan penasihat di Beeson Divinity School di Birmingham, Alabama. Anda dapat mengikutinya di X di @collinhansen.

Langganan Dapatkan Berita Terbaru

Jangan lewatkan artikel, renungan yang mendalam, berpusat pada Injil, dan meninggikan Kristus. Kami hadirkan panduan untuk hidup Kristen Anda setiap minggu.

Layanan Pelanggan

Ikuti Kami

Dapatkan informasi terbaru dari Living Word melalui media sosial kami. Klik icon yang ada dibawah ini

Copyright ©Living Word (PT Berita Baik Indonesia). All Rights Reserved

Discover more from Living Word

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading