Empat Prinsip untuk Menghindari Burnout

Saya ingin berbicara hari ini tentang Anda. Ada banyak pertanyaan tentang kesaksian unik seperti apa yang harus dimiliki gereja pada saat seperti ini—bagaimana Anda memberikan perhatian pastoral kepada orang-orang yang mengalami kecemasan pada tingkat yang unik? Tapi saya tidak ingin membicarakan hal itu. Saya ingin berbicara tentang Anda.

Jika Anda pernah terbang dengan pesawat, pastinya pramugari wajib memberikan pengarahan keselamatan di awal setiap penerbangan. Pada satu titik mereka selalu berkata, “Jika tekanan kabin turun, masker oksigen akan turun dari langit-langit.” Kemudian mereka menunjukkan kepada Anda masker berbentuk cangkir berwarna oranye yang terhubung pada selang dan mendemonstrasikan cara memakainya, sambil mengucapkan kata-kata ini: “Jangan mencoba membantu orang lain kecuali Anda sudah memakai masker oksigen Anda sendiri terlebih dahulu.” Itu karena jika Anda pingsan karena kekurangan oksigen, Anda tidak akan bisa membantu orang lain. Itulah yang ingin saya bicarakan dengan Anda. 

Dua hari setelah serangan 9/11, saya mendapat telepon dari seorang pendeta di Oklahoma City. Ada sebuah pemboman di Kota Oklahoma, seperti yang Anda ketahui, pada tahun 1995—sebuah pemboman teroris domestik yang tidak hanya menewaskan 168 orang, tetapi juga melukai ratusan lainnya. Hal ini berdampak besar pada semua keluarga dan menyebabkan banyak penderitaan. Apa yang pendeta itu katakan kepada saya adalah, “Anda harus sangat berhati-hati. Pada awalnya, Anda akan memasuki mode overdrive 200%, dan Anda akan membantu semua orang dan berbicara dengan semua orang serta menangani segalanya.” Dia berkata, “Segera setelah itu, Anda mulai merasa lelah dan Anda kira hanya perlu istirahat sejenak dan semuanya akan baik-baik saja, tapi ternyata tidak. Dua atau tiga tahun kemudian, tiba-tiba semua staf gereja Anda mengalami depresi. Mereka mengalami kelelahan (burned out). Mereka seolah-olah telah menguras tabung emosional dan spiritual mereka, dan tidak menyadarinya. Jangan biarkan hal itu terjadi padamu.” Sekarang, saya harap saya dapat mengatakan bahwa kami menghindari hal itu. Namun sebenarnya, tidak. Selama lima tahun berikutnya, hal yang sama itu terjadi pada kami. 

Jenis burnout dalam pelayanan biasanya terkait dengan hati sang pelayan, yang terlalu mengidentifikasikan diri dengan pelayanan, sehingga ego mereka sendiri pada dasarnya menjadi sama dengan pelayanan itu. Jika pelayanan berjalan dengan baik, Anda merasa baik. Jika pelayanan tidak berjalan baik, Anda merasa seperti orang yang gagal. Burnout seperti itu sebenarnya adalah kesalahan kita sendiri. Namun di masa-masa krisis seperti ini, burnout yang terjadi itu berbeda. Anda harus memakai masker oksigen, jika tidak maka burnout itu akan semakin parah dan meluas. Dan secara spiritual Anda tidak dapat membantu orang lain jika Anda sendiri tidak mengenakan masker anda. 

Ada empat teks yang saya ingin Anda renungkan seiring berjalannya waktu. Mereka memberikan empat prinsip untuk menghindari burnout: doa yang luar biasa, ketahanan tanpa stoisisme, pemfokusan secara radikal, dan tekad Injil. 

MARKUS 1:35-39: DOA YANG LUAR BIASA 

“Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia (Yesus) bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; waktu menemukan Dia mereka berkata: “Semua orang mencari Engkau.” Jawab-Nya: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” 

Ini bukanlah doa yang sekadar rutinitas; ini adalah doa yang sangat mendalam. Semakin populer Yesus dan semakin banyak orang yang Ia layani, semakin banyak waktu yang Dia habiskan untuk berdoa sendirian. Pelayanan eksternal yang penuh kekuatan bergantung pada ketergantungan internal-Nya pada sang Bapa. Semakin kuat Dia di luar sana, dalam arti tertentu, semakin bergantung Dia pada Bapa-Nya. 

Kita berbicara tentang membenamkan diri dalam Alkitab dan doa. Memiliki waktu setiap hari, setiap minggu, setiap bulan meskipun ada krisis—untuk mengenakan masker oksigen Anda terlebih dahulu. Kita harus melakukan apa yang Yesus lakukan. Dia berada di awal pelayanan terpenting dalam sejarah umat manusia. Orang-orang mencari-Nya untuk mendapatkan kesembuhan dan segala kebutuhan mereka, namun Dia meluangkan waktu untuk berdoa. Kita harus meluangkan waktu untuk istirahat. Kita harus tidur tepat waktu. Kita harus meluangkan waktu untuk bermeditasi dan berdoa. Kita tidak bisa mengabaikan hal-hal tersebut. Justru kita harus lebih meningkatkannya. Stres yang luar biasa membutuhkan doa yang luar biasa. 

2 KORINTUS 4:18: KETAHANAN TANPA STOISISME 

“Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.

Ayat-ayat ini telah memikat saya selama bertahun-tahun. Ketahanan tanpa stoisisme. Paulus tidak mengatakan, “Jangan tunjukkan perasaanmu  Jangan biarkan hal itu mempengaruhi Anda. Jangan biarkan siapa pun melihat Anda kesusahan. Jangan expresikan emosi.” Dia sebenarnya memberi tahu kita bahwa kita tertindas, kehabisan akal, dan dihempas. Dia mengatakan bahwa dia telah terjatuh, tetapi tidak binasa. 

Ada beberapa terjemahan dari Amsal 3, namun pada dasarnya dikatakan bahwa ketika masalah datang, jangan menganggap enteng atau menjadi lemah. Beberapa terjemahan mengatakan jangan meremehkannya atau putus asa. Kita diberi izin untuk meratap. Kita diberi izin untuk menangis. Kita diberi izin untuk hancur, untuk secara harfiah jatuh ke lantai, namun tidak tinggal tetap di sana. 

Dalam arti tertentu, doa yang luar biasa diperlukan untuk prinsip ini. Akhir ayat tersebut berbunyi, “Kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan. Karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” Pemfokusan kembali perspektif inilah yang membuat kita bangkit dari keterpurukan. Namun ada kebutuhan nyata untuk berduka. Di dunia ini, banyak orang merespons tragedi dengan stoisisme atau kehancuran total. Ini bukan keduanya. Itu adalah ratapan. 

Mazmur sangat membantu dalam meratap. Anda tidak hanya perlu membaca Mazmur, tetapi juga ketika Anda sedang belajar dan berdoa sendirian, pastikan apa pun yang Anda baca, apa pun yang Anda pikirkan, Anda menyertakan Mazmur. Mazmur menyatukan studi dan doa .

1 TAWARIKH 12:32: PEMFOKUSAN KEMBALI YANG RADIKAL 

“Dari bani Isakhar orang-orang yang mempunyai pengertian tentang saat-saat yang baik (Inggris: “understood the times”), sehingga mereka mengetahui apa yang harus diperbuat orang Israel…” 

Ayat ini bercerita tentang orang-orang yang pergi ke padang gurun untuk bergabung dengan Daud ketika dia menjadi buronan. Orang-orang ini mengambil langkah yang radikal. Mereka meninggalkan keluarga mereka dan tentu saja meninggalkan keamanan yang mereka miliki di seluruh negeri di mana Saul adalah raja, namun mereka mengakui bahwa Daud adalah orang yang diurapi Tuhan. Ayat tersebut menyatakan alasan mereka berpihak kepadanya karena mereka “memahami zaman,” (Inggris: “understood the times”) atau seperti yang kita sebut saat ini, momen budaya. 

Sebagaimana seorang petani yang baik menyadari kapan saatnya menanam atau saatnya panen, mereka juga memahami musim-musim. Di masa-masa seperti sekarang ini, kita harus—setidaknya untuk tujuan brainstorming—melepaskan diri dari semua gol, tradisi, dan prioritas lama kita, dan mempertanyakan segala sesuatu tentang pelayanan kita, kecuali hal-hal yang secara mutlak ditentukan oleh Alkitab. Kita harus mau bersedia untuk berpikir di luar kategori dan jalur yang sudah kita kenal. 

Ini berarti mempertanyakan segala sesuatu kecuali hal-hal yang diamanatkan Alkitab. Banyak hal telah berubah, jadi kita perlu mengetahui apa saja yang perlu diubah dalam pendekatan kita terhadap orang lain dan pelayanan. Mungkin ada banyak hal yang telah kita lakukan di masa lalu yang harus kita teruskan. Harus ada beberapa gol yang harus kita pertahankan, tapi kita perlu menilai kembali segala sesuatu untuk memahami momen yang kita jalani. 

ESTER 4:12: TEKAD INJIL 

Terakhir, ada tekad Injil. Prinsip ini tidak efektif tanpa tiga prinsip pertama. Jika kita tidak cukup istirahat dan menghabiskan waktu yang cukup bersama Tuhan meskipun ada banyak tekanan untuk bekerja 24 jam sehari, jika kita tidak mengekspresikan emosi kita kepada Tuhan namun melakukannya dengan ketekunan, dan jika kita tidak memikirkan kembali pelayanan kita dan apa yang seharusnya kita lakukan, tekad Injil dapat berujung pada kelelahan. 

Tekad Injil berarti bahwa pada titik tertentu, kita harus melakukannya. Pada titik tertentu, kita hanya mengerahkan tekad dan melakukan hal berikutnya. Elisabeth Elliot dulu memberi tahu saya dan istri saya bahwa kadang-kadang Anda hanya perlu menempatkan satu kaki di depan kaki lainnya. Anda melakukan hal berikutnya, meskipun itu hanya menyisir rambut Anda. Anda tidak tahu dari mana Anda mendapat kekuatan untuk melakukannya, tetapi Anda lakukan saja. Itu adalah tekad Injil. 

Alkitab memberi kita contoh yang bagus tentang tekad Injil dan mari kita akhiri dengan ini. 

“Ketika disampaikan orang perkataan Ester itu kepada Mordekhai, maka Mordekhai menyuruh menyampaikan jawab ini kepada Ester: “Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi. Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.” Maka Ester menyuruh menyampaikan jawab ini kepada Mordekhai: “Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati.” 

Itulah tekad. Oke, saya akan melakukannya. Saya ingin Anda mempertimbangkan—siapa pun Anda, di mana pun Anda berada, jika Anda seorang pemimpin pelayanan, jika Anda seorang pemimpin gereja—Anda telah dibawa ke posisi Anda sekarang untuk waktu seperti ini. Anda harus memiliki tekad Esther. Anda perlu mengatakan, “Oke. Saya akan melakukannya.” Ini akan sangat sulit. Apakah Anda melihat bagaimana hal ini akan menyebabkan burnout jika Anda tidak melakukan ketiga hal lainnya?  

Dengan tiga prinsip lainnya, mungkin ada banyak hari di mana Anda hanya berkata, “Saya akan melakukannya dan jika saya binasa, biarlah saya binasa. Saya akan taat. Saya akan setia kepada orang-orang. Aku akan setia kepada Tuhanku.” Sebenarnya, seperti Ester, Anda tidak akan binasa—dan tentu saja Anda sudah tahu alasannya. Matamu tertuju pada Dia yang telah binasa bagi kita dan bangkit dari kematian. 

Yesus telah menebus umat-Nya dan sekarang, seperti Ester, berdiri di hadapan takhta alam semesta, dan kasih karunia yang Dia peroleh adalah milik kita. Itulah alasannya mengapa hanya dengan melihat apa yang Dia lakukan bagi kita dapat memperkuat tekad Injil kita melalui Dia. 

Berikut adalah doaku untukmu: 

Bapa kami, kami mohon agar dalam dua atau tiga tahun ke depan, di mana akan ada kematian dan ketakutan, Engkau akan menyertai umat-Mu. Akan ada kehancuran ekonomi. Banyak dari pelayanan kami mungkin mengalami kontraksi ekonomi, tetapi jangan biarkan ada kontraksi dalam pelayanan kami di tingkat spiritual. 

Saya berdoa agar semua pemimpin yang membaca tulisan ini akan membaca ayat-ayat ini dan berkata, “Beginilah cara saya melewatinya. Inilah cara kami akan melewatinya. Inilah cara kami mampu meninggikan nama Yesus dalam beberapa tahun ke depan.” Kami berharap dan berdoa agar banyak orang yang lalai secara rohani saat ini akan mendengarkan firman-Mu dan berpaling kepada-Mu. 

Kami berdoa agar Engkau bekerja melalui orang-orang yang membaca kata-kata ini. Saya berdoa agar kata-kata dari ayat-ayat Alkitab ini hidup dalam diri kami dan mencegah kami terbenam dalam lumpur depresi dan burnout. Kami berdoa agar Engkau menopang kami. Bantu kami untuk berjalan di atas ombak saat kami memusatkan perhatian kami pada-Mu. Jangan biarkan kami seperti Petrus yang melihat ke ombak dan bukan pada-Mu dan tenggelam, tetapi biarkan kami memandang-Mu dan berjalan di atas air. Kami berdoa agar Engkau membantu kami dalam semua ombak ini.

Kami berdoa dalam nama Yesus, amin.

Copyright © Redeemer City To City
Sumber: https://redeemercitytocity.com/articles-stories/tim-keller-resilience-and-burnout

Tim Keller (1950–2023) adalah seorang penulis, teolog, dan apologet. Beliau adalah Chairman dari Redeemer City to City, juga pendeta pendiri Redeemer Presbyterian Church di New York, dan salah satu pendiri The Gospel Coalition.

Tags :

Langganan Dapatkan Berita Terbaru

Jangan lewatkan artikel, renungan yang mendalam, berpusat pada Injil, dan meninggikan Kristus. Kami hadirkan panduan untuk hidup Kristen Anda setiap minggu.

Layanan Pelanggan

Ikuti Kami

Dapatkan informasi terbaru dari Living Word melalui media sosial kami. Klik icon yang ada dibawah ini

Copyright ©Living Word (PT Berita Baik Indonesia). All Rights Reserved

Discover more from Living Word

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading