Apa itu injil

Ketika ingin memahami arti suatu kata, kamus sering kali menjadi tempat yang baik untuk memulai. Namun, kata-kata tertentu menuntut kita untuk lebih dari sekadar membaca dan menghafal sebuah definisi. Jadi, kita tidak perlu heran bahwa ketika kita membaca definisi kamus tentang kata Injil– “kabar mengenai Kristus, Kerajaan Allah, dan keselamatan”—kita berakhir memiliki lebih banyak pertanyaan. Siapakah Kristus ini? Di manakah Kerajaan-Nya? Apa itu keselamatan? Pencarian singkat di internet memberi tahu kita bahwa Injil berasal dari kata Yunani yang berarti “kabar baik”—tetapi apakah sebenarnya kabar baik itu?

Melihat penggunaan suatu kata dalam konteksnya sering kali menolong kita menyusun potongan-potongan makna menjadi satu kesatuan utuh. Untuk memahami apa itu Injil (dan apa yang bukan Injil), pertama-tama kita perlu membuka halaman-halaman awal Alkitab. Mengapa repot-repot membaca Alkitab? Karena Alkitab adalah satu-satunya cara yang pasti untuk mendengar suara Allah! Dan di dalam halaman-halamannya, kita melihat empat tema berikut ini, yang masing-masing menolong kita menjawab pertanyaan, “Apa itu Injil?”

1. YANG BAIK

“Pada mulanya Allah menciptakan…” (Lihat Kejadian 1–2.) Dia menciptakan terang dan gelap, bumi dan langit, ikan dan burung, laki-laki dan perempuan. Dia menciptakan segala sesuatu, dan Dia melakukannya dari ketiadaan. Allah melihat semuanya itu baik. Ada keindahan, damai, dan apa yang tampak seperti kesempurnaan bagi Adam dan Hawa. Tetapi kemudian mereka membuat pilihan yang membawa suatu perpecahan besar.

2. YANG BURUK

Dalam Kejadian 3, sesuatu yang disebut dosa masuk ke dalam dunia. Adam dan Hawa dicobai oleh ular—yang juga dikenal sebagai Iblis atau Setan (Wahyu 12:9)—dan memilih untuk bertindak bertentangan terhadap perintah Allah. Tindakan ketidaktaatan ini memulai suatu siklus kehidupan, ketidaktaatan, dan kematian yang terus berlanjut hingga hari ini. Natur Adam yang sudah jatuh ke dalam dosa telah diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Yang baik telah tercemar. Dosa berlimpah. Dan Alkitab memberi tahu kita bahwa ada harga yang besar untuk ketidaktaatan kita: maut (Roma 6:23).

Jadi apa yang dapat dilakukan untuk menjembatani perpecahan ini, untuk memperbaiki apa yang jelas-jelas telah rusak?

3. YANG BARU

Ketika kita melihat sekeliling, kita tentu masih melihat banyak hal yang baik di dunia ini. Keindahan masih ada, dan damai masih dapat dinikmati—sampai batas tertentu. Namun hari demi hari, kita tetap merindukan sesuatu yang lebih. Kabar buruk tampaknya lebih besar daripada kabar baik. Keharmonisan seakan-akan dibungkam oleh perpecahan. Sukacita hidup sering kali ditenggelamkan oleh kepastian maut.

Namun jika kita melihat Roma 6:23 lebih dekat, kita melihat bahwa dosa dan maut tidak menjadi penentu akhir: “Sebab upah dosa ialah maut, tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Kita memiliki pengharapan, dan nama-Nya adalah Yesus. Meskipun maut masuk ke dalam dunia karena dosa Adam, kita dapat menemukan penghiburan yang kekal karena karya yang telah digenapi oleh Yesus Kristus (Roma 5:17).

Allah datang dan membayar harga untuk menyelamatkan kita dari dosa kita. Dia datang ke dunia dalam pribadi Anak-Nya, Yesus (Yohanes 1:14). Dia melakukan apa yang tidak pernah dapat kita lakukan dengan hidup dalam ketaatan yang sempurna kepada Allah Bapa (Filipi 2:8; Roma 5:19). Dan meskipun Dia disalibkan untuk dosa-dosa kita dan dikuburkan, Dia bangkit dari antara orang mati dan naik ke surga (1 Korintus 15:3–4; Kisah Para Rasul 1:9–11).

Kemudian dalam surat Roma, Rasul Paulus mengingatkan kita akan kebenaran besar ini: Allah telah melakukan apa yang tidak dapat kita lakukan (Roma 8:2–4). Melalui rencana dan tujuan-Nya yang terus disingkapkan, Dia menyediakan jalan bagi kita untuk memiliki hidup yang baru, hidup yang kekal. Yohanes 3:16–17 berkata, “Karena begitu besar kasih Allah

akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.”

Ketika kita membaca kebenaran-kebenaran ini dalam Alkitab, kita tidak dapat berhenti hanya pada persetujuan secara intelektual. Memahami arti kata-kata dan frasa adalah satu hal. Namun iman yang kita baca dalam Yohanes 3:16—bahkan yang kita baca di seluruh Alkitab—melibatkan suatu pilihan. Iman yang menyelamatkan menuntut kepercayaan kepada Allah dan penyerahan hidup sepenuhnya kepada Dia saja. Sudahkah hal itu menyentuh hati Anda? Apakah Anda siap untuk membuat pilihan itu? Jika ya, ada beberapa langkah sederhana yang dapat Anda ambil sebagai respons.

Pertama-tama kita harus menyadari bahwa ada sesuatu yang perlu kita akui—bahwa Anda dan saya telah berdosa terhadap Allah dan tidak akan pernah dapat menebus kesalahan kita. Kedua, kita harus percaya bahwa Yesus telah menanggung hukuman atas dosa-dosa kita dan mengalahkan maut untuk selama-lamanya. Terakhir, kita harus mempertimbangkan implikasi dari menaruh iman kita kepada Allah. Mengakui dan percaya harus diikuti dengan ketaatan dan pertobatan. Kita akan menjalani sisa hidup kita dengan berpaling dari dosa menuju kepada Allah, oleh pertolongan Roh-Nya (Yohanes 14:15–17). Inilah suatu transformasi yang menyentuh setiap aspek kehidupan.

Yang baik yang dahulu pernah dikenal telah lenyap. Yang buruk kini masih bertahan dan berjerih payah dengan sia-sia. Yang baru telah datang, menawarkan penebusan bagi kita. Namun kita masih menantikan sesuatu yang lebih baik daripada yang dapat kita bayangkan…

4. YANG SEMPURNA

Bayangkan sebuah dunia tanpa air mata, kematian, kesakitan, atau perkabungan lagi. Itulah tepatnya yang kita baca dalam Wahyu 21. Allah telah berjanji untuk memulihkan dunia yang rusak tempat kita hidup. Dan hasilnya adalah kesempurnaan yang mutlak. Adam dan Hawa pernah mengalami kebaikan hidup di dalam hadirat Allah. Demikian juga nanti semua orang yang menaruh iman mereka kepada Tuhan Yesus, sebab tempat kediaman Allah sekali lagi akan ada bersama-sama dengan manusia (Wahyu 21:1–4). Untuk saat ini, kita menantikan dengan sabar, dengan penuh kerinduan akan hidup yang kekal bersama Kristus, sambil dengan sukacita menaati segala sesuatu yang telah Dia perintahkan dalam firman-Nya.

Jadi, apa Injil itu? Injil adalah kabar baik bahwa sekalipun umat manusia telah memberontak terhadap Allah yang kudus dan penuh kasih, Dia tetap memilih untuk mengutus Anak-Nya untuk menanggung dosa-dosa kita di kayu salib supaya dengan percaya kepada-Nya, kita dapat berbalik dari jalan-jalan kita yang berdosa dan menikmati karunia hidup yang kekal di dalam hadirat-Nya. Ini adalah anugerah cuma-cuma dari Allah bagi kita, yang diberikan dari kasih-Nya yang berlimpah. Sudahkah Anda menerimanya?

Alistair Begg, Pastor, has been the senior pastor of Parkside Church in Cleveland, OH since 1983. Originally from Glasgow, Scotland, he’s a graduate of The London School of Theology, and was also educated at Trent University and Westminster Seminary. In addition to Sunday services at Parkside, Alistair can be heard daily on the Truth For Life radio program. He is the author of several books including, The Hand of GodMade For His Pleasure: Ten Benchmarks of a Vital FaithPray Big: Learn to Pray Like an Apostle and Pathway to Freedom: How God’s Law Guides Our Lives.

Langganan Newsletter

Jangan lewatkan artikel, renungan yang mendalam, berpusat pada Injil, dan meninggikan Kristus. Kami hadirkan panduan untuk hidup Kristen Anda setiap minggu.

Layanan Pelanggan

Ikuti Kami

Dapatkan informasi terbaru dari Living Word melalui media sosial kami. Klik icon yang ada dibawah ini

Copyright ©Living Word (PT Berita Baik Indonesia). All Rights Reserved

Discover more from Living Word

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading