| Crossway – 26 September 2020 |
Artikel ini merupakan bagian dari seri Ayat Kunci Alkitab.
1. Mazmur 78:72
Ia menggembalakan mereka dengan ketulusan hatinya, dan menuntun mereka dengan kecakapan tangannya.
Daud diambil dari lingkungan penuh dengan domba. Sama seperti Musa (Kel. 3:1), Ia belajar tentang penggembalaan melalui domba-domba. Raja yang ideal adalah seseorang yang bisa menggembalakan umat Nya (2 Sam 5:2), yang bisa memelihara, melindungi, dan menuntun mereka untuk tetap setia kepada janji Kristus. Daud, di masa terbaiknya, menjalankan tugasnya dengan hati yang tulus dan terampil, meskipun Ia memiliki kegagalan; Banyak raja lain dalam garis keturunannya yang jauh tidak setulus dan seterampil dia. Istilah “gembala” digunakan untuk menggambarkan para pemimpin di Israel (imam, bangsawan, dan Hakim-Hakim) pada waktu itu, dan Nabi Yehezkiel berbicara tentang para gembala yang serakah pada zaman itu (Yeh. 34). Ia menantikan masa setelah pembuangan Israel dimana Allah akan mengangkat “hamba-Nya Daud” (yaitu Sang Mesias) yang akan menjadi “gembala” atas umat-Nya (Yeh. 34:23–24). Ketika Yesus menyebut dirinya sebagai “gembala yang baik” (Yohanes 10:11, 14), Ia menyatakan diri-Nya sebagai keturunan Daud yang lama dinantikan, yang akan menuntun umat-Nya dengan sempurna.
2. Amsal 11:14
Jikalau tidak ada pimpinan, jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasihat banyak, keselamatan ada.
Peran konselor adalah untuk membantu seseorang dalam membuat keputusan yang bijaksana (lih. Amsal 15:22; Amsal 24:6). Meskipun ini sangat penting bagi mereka yang memimpin, Amsal juga menekankan penerapannya untuk semua orang dalam pengambilan keputusan di segala situasi—lih. Amsal 11:5 dan memberikan gambaran bagaimana orang fasik akan jatuh “oleh kefasikannya sendiri.”
“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
Pelayan adalah pekerja upahan yang bertugas mengurus rumah tangga tuannya, sedangkan budak adalah seseorang yang dipaksa untuk bekerja. Kedua ini dianggap posisi terendah di dalam masyarakat Yahudi, namun Yesus justru membalikkan status mereka untuk menunjukkan konsep keunggulan dan kebesaran kepada para pengikut-Nya.
Yesus sendiri adalah contoh utama dari seorang pelayan. Yesus yang akan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan (Yun. lutron, harga pembebasan, berupa bayaran untuk membebaskan budak) bagi banyak orang. “Bagi banyak orang” (bahasa Yunani: anti) berarti “menggantikan” dan diartikan sebagai pertukaran dan pergantian hidup Yesus di kayu salib untuk semua orang yang menerima penebusan-Nya atas dosa-dosa mereka (lihat catatan pada 1 Pet. 2:24; 1 Pet. 3:18).
4. Lukas 12:48
Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.
Pengelola yang setia dan bijaksana adalah mereka yang setia dan adil dalam memelihara orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya, memberikan porsi mereka . . . pada waktu yang tepat. Ketika tuannya kembali, pengelola yang setia akan diberi upah—sebuah gambaran tentang upah yang akan diberikan kepada orang percaya yang setia pada saat kedatangan Kristus kembali. Pengelola yang setia kemudian dibandingkan dengan hamba yang tidak setia yang menyiksa pelayan dan mabuk-mabukan. Akan tetapi, betapa terkejutnya hamba yang tidak setia itu ketika tuannya kembali pada saat yang tidak diketahuinya (Lukas 12:46), yang mengakibatkan hukuman yang cepat dan keras: tuannya akan menghukum dia (lih. Yer. 34:18) dan menempatkannya bersama orang-orang yang tidak setia—cerita ini memberikan gambaran mengenai hukuman yang menanti orang-orang yang tidak percaya pada saat kedatangan Kristus kembali. Deskripsi terakhir (lih. Lukas 13:27-28 dan paralelnya dalam Mat. 24:51) menunjukkan penghakiman kekal dan keterpisahan dari Allah (lih. Lukas 8:13). Banyak yang akan dituntut. Orang-orang yang telah dipercayakan oleh Tuhan dengan kemampuan dan tanggung jawab yang lebih akan dituntut dengan standar yang lebih tinggi di hari penghakiman (lih. catatan pada Mat. 25:29; Markus 4:24, 25).
“Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.”
Meskipun para murid Yesus memahami mengenai kerendahan hati Yesus yang luar biasa dan yang menjadi teladan bagi mereka, para murid baru akan benar benar mengerti arti kerendahan hati itu hanya setelah penyaliban Yesus.
Pembasuhan kaki dilakukan sebagai upacara rutin di beberapa denominasi gereja, yang secara harfiah mematuhi perintah Yesus, “kamu pun wajib saling membasuh kakimu.” Sementara denominasi gereja lain meyakini bahasa tersebut bersifat kiasan untuk menggambarkan pentingnya melayani satu sama lain, dan upacara pembasuhan itu sendiri tidak diperlukan.
Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri.
Perhatikan baik-baik diri kita masing-masing. Pemimpin rohani perlu untuk menjaga kemurnian rohani dan moral mereka sendiri. Bagian terakhir dari ayat ini menunjuk pada darah Kristus yang tercurah dalam kematian penebusan-Nya di kayu salib (lih. Roma 3:25; 5:9; Efesus 1:7; dll.). Kata Allah di bagian pertama ayat ini (“jemaat Allah”) mereferensikan Kristus sebagai kepala gereja dan sebagai “Anak Allah,” pribadi kedua Tritunggal. Di sisi lain, jika yang dimaksudkan dengan kata “jemaat Allah” adalah Allah Bapa, maka “darah anak-Nya sendiri” adalah suatu rujukan kepada darah “Anak Allah sendiri” yaitu Yesus (yang merupakan bacaan alternatif yang sah dari bahasa Yunani tersebut).
7. Roma 12:3–8
Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.
Keberagaman dan kesatuan gereja diilustrasikan melalui tubuh manusia. Sama seperti tubuh manusia yang memiliki banyak anggota (bagian tubuh), demikian pula gereja bersatu meskipun terdiri dari banyak anggota. Mengenai topik gereja sebagai tubuh Kristus, lihat juga 1 Korintus 12 dan Efesus 4:4, 12–16.
Keragaman tubuh adalah bukti dari berbagai karunia yang Allah berikan kepada gereja. Mengenai karunia bernubuat, lihat pada Kisah Para Rasul 21:4; 21:10–11; 1 Korintus 12:10; Efesus 2:20; 1 Tesalonika 5:20–21; dan catatan lain pada 1 Korintus 12–14. Paulus memerintahkan para nabi untuk berbicara hanya ketika mereka memiliki iman atau keyakinan bahwa Roh Kudus benar-benar menyatakan sesuatu kepada mereka, dan tidak melampaui iman yang telah diberikan Allah kepada mereka dengan dasar ingin membuat orang terkesan.
Orang Kristen diperintahkan untuk memusatkan perhatian dan memberikan tenaga mereka kepada karunia-karunia yang telah diberikan Allah kepada mereka, entah dalam hal melayani orang lain, mengajarkan firman Allah dengan sabar, atau dalam hal menasehati dan memberi semangat yang berpusat pada Kristus. Demikian Paulus menyoroti tiga sikap yang diperlukan dalam menjalankan karunia-karunia tertentu: (1) mereka yang memiliki karunia khusus untuk menolong orang lain secara finansial tidak memberi dengan berat hati tetapi dengan murah hati; (2) Mereka yang memimpin sering kali tidak memiliki orang yang mengawasi mereka, sehingga mereka harus waspada terhadap kemalasan; (3) mereka yang menunjukkan belas kasihan kepada yang terluka tidak boleh menjadi lelah tetapi terus melayani dengan sukacita.
Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,
Kristus memperlengkapi orang-orang kudus dengan karunia rohani yang misi utamanya adalah melayani bagi pembangunan tubuh Kristus (Ef. 4:12). Ada pandangan yang berbeda-beda mengenai peran “nabi-nabi” di ayat ini. Hal ini dikarenakan perbedaan cara pandang mengenai karunia nubuat yang dapat mempengaruhi cara kita memahami ayat ini. Karena adanya perbedaan struktur bahasa Yunani di Efesus 4:11-13 dengan Efesus 2:20 dan Efesus 3:5, beberapa pandangan memahami ayat ini sebagai karunia bernubuat pada umumnya dan bukan membicarakan tentang nabi-nabi yang disebutkan dalam Efesus 2:20 dan Efesus 3:5. Kata Yunani “Injil” (euangelion) menunjukkan “pemberita injil” sebagai orang-orang seperti Filipus dan Timotius (Kisah Para Rasul 21:8; 2 Tim. 4:5). gembala (atau “pendeta” [catatan kaki ESV]). Dalam Perjanjian Lama, mereka adalah raja dan para Hakim-Hakim (2 Sam. 5:2; 7:7). Dalam Perjanjian Baru, para penatua “menggembalakan” dengan mengawasi dan mengasuh gereja (Kisah Para Rasul 20:28; 1 Pet. 5:1–2). Ada beberapa ketidakpastian mengenai apakah “gembala-gembala dan pengajar-pengajar” mengacu kepada dua peran pelayanan yang berbeda atau kepada satu peran pelayanan yaitu sebagai “gembala dan pengajar”, karena Paulus menggunakan kata penghubung yang berbeda di dalam bahasa Yunani, menggabungkan kata gembala-gembala “dan” pengajar-pengajar. Jika “pengajar-pengajar” merupakan suatu kelompok tersendiri, maka mereka dapat dipahami sebagai peran khusus dengan tugas yang berbeda dari para gembala (pengawas, penatua) yaitu bertanggung jawab sepenuhnya dalam mengajarkan firman Allah (lih. 1 Tim. 5:17).
Para pemimpin gereja dengan berbagai karunia (Ef. 4:11) harus memperlengkapi orang-orang kudus (semua orang Kristen) sehingga mereka dapat melakukan pekerjaan pelayanan. Semua orang Kristen memiliki karunia rohani yang seharusnya digunakan dalam melayani satu sama lain (1 Kor. 12:7, 11; 1 Pet. 4:10).
9. Yakobus 3:1
Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.
Guru memegang peranan penting dalam gereja masa awal (Kisah Para Rasul 2:42; Rm. 12:7; 1 Kor. 12:28; Ef. 4:11), dan banyak orang berambisi untuk mencari status guru karena alasan yang salah. Namun, tanggung jawab yang lebih besar akan diikuti dengan ekspektasi yang lebih besar dari Allah (Lukas 12:48; Ibrani 13:17), dan para guru akan dinilai dengan lebih ketat (secara harfiah, “penghakiman yang lebih besar”), karena mereka memiliki bertanggung jawab yang lebih besar.
10. Filipi 2:3–4
dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.
Selalu ada godaan untuk menjadi seperti lawan-lawan Paulus dalam Filipi 1:17 yang beroperasi dengan ambisius mengutamakan kepentingan pribadi mereka sendiri. Kesombongan tersebut (secara harfiah, “keangkuhan”) hanya dapat dilawan dengan menganggap orang lain lebih penting daripada diri kita sendiri. Paulus menyadari bahwa setiap orang secara alami mementingkan dirinya sendiri. Kuncinya adalah mengambil tingkat kepedulian yang sama dan menempatkannya pada kepentingan orang lain. Kasih yang radikal jarang sekali ada, sehingga Paulus harus menunjukkan realita tersebut dalam kehidupan Kristus (Filipi 2:5–11).






