| Oleh: Matt Smethurst – 5 Desember 2016 |
Natal telah tiba. Bagi sebagian dari Anda, kalimat itu membangkitkan nostalgia dan sukacita. Tapi bagi sebagian lainnya, tidak demikian.
Namun ada satu hal yang umumnya kita alami bersama pada masa-masa ini, yaitu mendengar kembali pembacaan klasik dari Injil (jika tidak di gereja setidaknya, dari Linus—tokoh dalam film klasik “A Charlie Brown Christmas” yang membacakan kisah kelahiran Kristus). Dan kita begitu terbiasa dengan inkarnasi sehingga tanpa sadar kita mengerdilkan keagungannya.
Natal itu terasa akrab bagi kita, tetapi bukan sesuatu yang jinak. Seperti yang dikatakan Tim Keller dalam bukunya Hidden Christmas: The Surprising Truth Behind the Birth of Christ (Viking), “Natal itu jauh lebih menakjubkan sekaligus lebih menggentarkan daripada yang kita bayangkan.” Dengan menafsirkan tulisan Matius, Lukas, dan Yohanes, ia menyingkapkan kembali makna masa kini dari kisah kuno tersebut.
Saya bertanya kepada Keller, yang sebelumnya menggembalakan Redeemer Presbyterian Church di Manhattan dan menjabat sebagai wakil presiden TGC, mengapa baik “allah moralisme” maupun “allah relativisme” tidak akan terlalu peduli denga Natal, bagaimana orang yang tidak percaya berusaha “mendefinisikan” Yesus, dan banyak hal lainnya. (Dan ya, buku singkat ini akan menjadi hadiah Natal yang sangat bagus.)
Mengapa Natal adalah “cara pandang hidup yang paling tidak sentimental dan realistis”?
Dalam buku, Saya menjelaskan bahwa topik “terang di dalam kegelapan” sangat menonjol, bukan hanya dalam pemahaman Alkitab tentang kelahiran Kristus (Yesaya 9:2; Matius 4:16), tetapi juga dalam banyak perayaan Natal masa kini. Alkitab tidak berkata “dari dunia terbitlah terang” tetapi “atas dunia terbitlah terang.” Intinya adalah bahwa dunia ini berada dalam kegelapan dan membutuhkan keselamatan yang datang dari luar dirinya. Dan ini sekaligus mengakhiri pernyataan-pernyataan optimistis seperti, “Jika kita semua bekerja sama, kita dapat membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.” Tidak, kita tidak bisa. Kita tidak memiliki kapasitas itu.
Ini adalah pendekatan yang jernih dan realistis terhadap masalah kita. Ini bukan optimisme yang berlebihan. Namun juga bukan pesimistis, karena ada harapan, dan kepastian bahwa Allah pada akhirnya akan menghancurkan semua kejahatan.
Mengapa merupakan sebuah kebodohan jika kita terburu-buru melewati silsilah di awal Injil Matius?
Silsilah Yesus menurut Matius memuat banyak hal penting. Pertama, silsilah itu menempatkan Yesus di dalam sejarah. Injil ini tidak dimulai dengan “pada suatu masa.” Kristus bukan legenda; Ia adalah manusia sejati, berdarah dan berdaging, yang hidup dalam ruang dan waktu. Kedua, silsilah itu memuat perempuan-perempuan yang secara rasial dan kultural dianggap “orang luar” (Rahab dan Rut), sekaligus yang terlibat dalam peristiwa-peristiwa seperti inses, perzinaan, dan pelacuran (Tamar, “Istri Uria,” dan Rahab).
Di zaman kuno yang kurang individualistis, silsilah seseorang berfungsi seperti resume. Dan seperti resume masa kini, banyak hal biasanya dihapus agar terlihat lebih baik bagi pembaca. Perempuan jarang dimasukkan dalam silsilah kuno—apalagi perempuan yang mengingatkan pembaca pada dosa-dosa kelam dan kebobrokan leluhur seperti Yehuda dan Daud. Tokoh-tokoh seperti ini biasanya akan disangkal atau dihapus dari silsilah yang normal, tetapi di sini tidak. Mereka semua—laki-laki dan perempuan, raja dan pelacur, Yahudi dan bukan Yahudi—sama-sama bagian dari keluarga Yesus. Karena itu, bahkan bagian-bagian Alkitab yang hanya berisi “memperanakkan’” pun meneteskan belas kasihan Allah.
Baik allah yang moralis maupun allah relativisme tidak akan peduli dengan Natal, mengapa Anda berpendapat demikian?
Moralisme pada dasarnya adalah gagasan bahwa Anda dapat menyelamatkan diri sendiri melalui perbuatan baik Anda. Dan ini membuat Natal menjadi tidak diperlukan. Mengapa Allah harus menjadi manusia untuk hidup dan mati menggantikan kita jika kita sendiri dapat memenuhi tuntutan kebenaran itu? Relativisme pada dasarnya adalah gagasan bahwa tidak seorang pun benar-benar “tersesat”, bahwa setiap orang dapat hidup menurut jalannya sendiri dan menentukan sendiri apa yang benar dan salah. “Allah kasih yang menerima semua orang apa adanya”, yang diyakini banyak orang modern, tidak akan pernah repot-repot dengan inkarnasi. Bagi allah semacam itu, inkarnasi sama sekali tidak diperlukan.
Mengapa pemberian nama bayi Yesus penting?
Semua orang tua berhak menamai anak mereka sendiri. Itu adalah tanda otoritas mereka atas anak tersebut, mereka memiliki kuasa atas bagaimana anak itu akan hidup dan nantinya akan menjadi apa. Hal ini terlebih lagi berlaku dalam budaya masyarakat patriarki kuno daripada masa sekarang. Namun, malaikat tidak mengizinkan Yusuf atau Maria menamai Yesus. Salah satu alasannya adalah karena Yesus adalah anak pertama yang pernah lahir yang jauh lebih tua daripada orang tuanya! Alasan lainnya adalah, meskipun Yesus tunduk pada otoritas orang tua manusianya selama masa kanak-kanaknya (Lukas 2:51), mereka pada akhirnya bukanlah tuannya. Dia adalah tuan mereka. Dengan tidak membiarkan Maria dan Yusuf menamai putra mereka, malaikat itu pada dasarnya ingin mengatakan sesuatu yang kurang lebih seperti ini: “Jika Yesus ada dalam hidupmu, kamu bukanlah manajer-Nya—Dia adalah manajermu. Kamu tidak menamai Dia atau memberi tahu diri-Nya tetang siapa Dia—Dia datang untuk memberi tahu kamu siapa dirimu.”
Apa yang dapat kita pelajari tentang perbedaan antara keraguan yang keras hati dan keraguan yang rendah hati dengan membandingkan Zakharia dan Maria dalam Lukas 1?
Ketika malaikat Gabriel menampakkan diri dan memberi tahu Zakharia bahwa ia akan memiliki seorang putra, Zakharia mengungkapkan keraguannya tentang bagaimana hal ini dapat terjadi pada pasangan yang sudah lanjut usia (Lukas 1:18)—dan ia ditegur karena keraguan itu (Lukas 1:20). Ketika Gabriel menampakkan diri dan memberi tahu Maria bahwa ia akan memiliki seorang putra, ia pun mengungkapkan keraguannya kepada malaikat yang sama dengan kata-kata yang hampir serupa—bertanya bagaimana hal ini dapat terjadi pada seorang perawan (Lukas 1:34). Namun tidak ada kata teguran, hanya penjelasan lebih lanjut. Mengapa ada perbedaan? Satu-satunya kemungkinan adalah bahwa motivasi dan dinamika batin dari keraguan Zakharia dan Maria berbeda. Ada jenis keraguan yang sungguh-sungguh mencari lebih banyak penjelasan—yang “ingin” percaya jika memungkinkan. Tetapi ada juga jenis keraguan yang sebenarnya mencari jalan keluar, yang tidak mau percaya atau tunduk, yang mencari cara untuk tetap mengendalikan hidupnya sendiri.
Ini adalah pendekatan yang sangat bijaksana dalam memahami keraguan. Alkitab tidak memandang keraguan sebagai sesuatu yang selalu memberontak, tetapi juga tidak mendorong orang untuk hidup terus-menerus dalam keraguan. Karena itu kita diperintahkan untuk “menaruh belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu” (Yudas 1:22).
Matt Smethurst serves as lead pastor of River City Baptist Church in Richmond, Virginia. He also cohosts and edits The Everyday Pastor podcast from The Gospel Coalition. Matt is the author of Tim Keller on the Christian Life: The Transforming Power of the Gospel (Crossway, 2025), Before You Share Your Faith: Five Ways to Be Evangelism Ready (10Publishing, 2022), Deacons: How They Serve and Strengthen the Church (Crossway, 2021), Before You Open Your Bible: Nine Heart Postures for Approaching God’s Word (10Publishing, 2019), and 1–2 Thessalonians: A 12-Week Study (Crossway, 2017). He and his wife, Maghan, have five children. You can follow him on Twitter/X and Instagram.






