Kecerdasan buatan atau AI memang memiliki kemungkinan untuk menggantikan pekerjaan kita, tetapi yang pasti AI sedang mempengaruhi cara kita memahami hakikat manusia.
AI menjanjikan kepada kita sebuah status seperti layaknya seorang raja, dengan sekumpulan agen yang membungkuk di hadapan kita sambil berkata, “Perintah Anda adalah tugas saya.” Selain itu, kita semua sudah terlalu akrab dengan daya tarik dan cara kerja chatbot, yang membenarkan setiap keinginan kita dan memuaskan setiap hasrat kita.
AI akan menuliskan email untuk Anda, merencanakan pelajaran untuk Anda, menyusun khotbah untuk Anda, merancang logo untuk Anda, meringkas buku untuk Anda, serta membangkitkan kesombongan Anda, memuaskan kebiasaan buruk Anda, dan membuai ego Anda. Sekarang kita semua seolah-olah menjadi raja. Apa yang tidak disukai dari semua itu?
Namun, semakin kita memperhatikannya secara seksama, kisah ini akan menjadi semakin aneh. Alat yang menjanjikan untuk menjadikan kita penguasa justru secara perlahan sedang menjadikan kita hambanya.
Penguasa yang menjadi hamba di depan papan ketiknya.
Perhatikan sikap menjilat yang terlihat secara samar. Model bahasa tersebut telah dilatih melalui reinforcement learning untuk memberikan kepada kita apa yang ingin kita dengar. AI memuji kita. AI menyetujui kita. AI jarang membantah. Cerminan tanggapan AI yang tidak memantulkan diri kita sebagaimana adanya, melainkan sebagaimana AI mengira kita ingin dilihat. Sanjungan itu terasa seperti kuasa, tetapi sebenarnya merupakan bentuk perbudakan yang halus kepada diri kita yang tidak pernah ditantang, tidak pernah diuji, dan tidak pernah dimurnikan.
Kemudian timbullah suatu ketergantungan secara perlahan-lahan. Jika saya mengandalkan AI untuk menyusun email saya, menulis khotbah saya, dan memikirkan argumentasi yang harus saya lontarkan, saya tidak pernah melatih kemampuan saya untuk melakukan semua itu sendiri. Alat yang seharusnya melayani saya justru menjadi sesuatu yang tanpanya saya menjadi tidak dapat berfungsi. Hamba itu telah menjadi tuan, dan sedikit demi sedikit, sang tuan yang dahulu memberikan perintah justru menjadi hambanya.
Namun, hal itu bukanlah bagian terburuknya, sebab ketergantungan pada fungsi-fungsi AI ini bisa berkembang menjadi sesuatu yang lebih mengerikan. Baru-baru ini, teman saya bercerita tentang orang-orang yang dikenalnya yang begitu terpengaruh oleh kemampuan dari agen-agen AI mereka sehingga mereka tidak lagi bisa tidur nyenyak, karena takut kehilangan jam-jam produktif setelah agen-agen AI tersebut menyelesaikan tugasnya, saat mereka sedang beristirahat.
Seorang teman lain yang juga seorang pendeta, baru-baru ini mendampingi seorang pria muda yang telah menghabiskan beberapa hari dalam keterasingan tanpa tidur, dan hanya berbicara siang dan malam hanya dengan chatbot saja dan bukan dengan manusia. Pria tersebut akhirnya harus dirawat di bangsal psikiatri. Kisah ini sangat mengkhawatirkan, dan kejadiannya semakin sering kita dengar. Kita sedang membangun kedekatan dengan mesin yang memperlakukan kita seperti bangsawan, tetapi pada akhirnya meninggalkan kita seperti boneka kain yang tak berdaya.
Gelombang besar kerusakan yang muncul karena manusia mencari persekutuan palsu dengan sebuah persona yang dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna dan keuntungan bagi perusahaan yang menciptakannya masih jauh terlihat dari cakrawala. Namun, gelombang itu sedang mendekati pantai kebudayaan kita dengan laju yang mengkhawatirkan.
Warisan, bukan penemuan
Seandainya ini merupakan masalah yang hanya ditimbulkan oleh AI, hal itu menjadi cukup serius. Namun AI tidak menciptakan konsep penguasa dan hamba ini, AI hanya mewarisinya.
Agustinus telah memahami seperti apa sosok penguasa yang menjadi hamba itu sejak enam belas abad yang lalu. Pada halaman pertama The City of God, dia menyampaikan penilaian yang suram bahwa Roma yang perkasa telah “diperbudak oleh nafsu untuk berkuasa,” menggemakan pernyataan Paulus yang bahkan telah lebih dahulu disampaikan, yaitu “Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh” (Roma 1:22). Kita dikendalikan oleh keinginan untuk mengendalikan, dikuasai oleh nafsu akan kuasa, dan diperbudak oleh kecenderungan untuk mendominasi. Kita adalah pemilik yang dimiliki, pengemudi yang dikendalikan, penguasa yang menjadi hamba.
Perbudakan sebagai penguasa sudah setua kejatuhan manusia itu sendiri. Inilah yang dialami Adam dan Hawa ketika mereka meraih buah itu lalu diusir dari taman ke dalam dunia yang penuh jerih payah, frustrasi, dan penderitaan. Inilah bentuk modern dari roda tanpa akhir ketika seseorang merasa berdaulat untuk merancang identitasnya sendiri, merknya sendiri, gaya hidupnya sendiri, lalu menjadi diperbudak dengan harus terus-menerus membuktikan diri, tampil unggul, mengoptimalkan diri, membangun citra, dan memperbaiki dirinya tanpa henti.
Sejak kejatuhan manusia, kita selalu menjadi penguasa yang sekaligus hamba. Namun AI memperlihatkan kondisi itu kepada kita dengan cara yang baru, sangat jelas, dan sangat mengkhawatirkan.
Tragisnya kelelahan sang penguasa yang menjadi hamba
Penguasa yang menjadi hamba adalah sosok yang tragis, yang bertekad menguasai panggung dengan “energi tokoh utama,” hanya untuk menyadari pada saat tirai terakhir ditutup bahwa dia hanyalah seorang “tokoh non-pemain” dalam drama milik orang lain. Ironi pahit dari penguasa yang menjadi hamba ini terletak di jantung perjuangan tanpa henti dan krisis makna yang menjadi ciri kehidupan modern akhir.
Inilah sebabnya kebebasan modern sering kali terasa begitu melelahkan. Kita diberi tahu bahwa kita bisa menjadi apa saja, tetapi kemudian dihukum karena tidak cukup layak. Kita diberi tahu untuk mengikuti keinginan kita, tetapi kemudian dimanipulasi oleh berbagai industri yang mampu meretas keinginan kita lebih baik daripada pemahaman kita sendiri. Kita diberi tahu untuk membangun identitas kita sendiri, tetapi kemudian dibiarkan berdiri di bawah kerangka penyangganya, dengan ketakutan bahwa seluruh bangunan itu akan runtuh.
AI memperparah kondisi ini. AI menawarkan sebuah pertunjukan semu tentang kedaulatan: persahabatan tanpa kerentanan, pengetahuan tanpa proses belajar, kreativitas tanpa kesabaran, dan produktivitas tanpa proses. Bagi mereka yang kesepian, AI dapat meniru kehadiran seseorang. Bagi mereka yang cemas, AI menawarkan rasa tenteram. Bagi mereka yang ambisius, AI menawarkan suatu pijakan untuk terus naik. Bagi mereka yang gelisah secara rohani, AI menjadi seperti sebuah penasehat spiritual yang tidak pernah lelah. Namun sejak zaman Taman Eden, kedaulatan dan perbudakan selalu berjalan beriringan.
Yang kita perlukan adalah cara lain untuk menjadi manusia, yakni sebuah penawar bagi perbudakan dalam pribadi yang seolah-olah memiliki kedaulatan tersebut, dimana fenomena ini tidak diciptakan oleh AI namun sedang diperparah oleh keberadaannya. Oleh karena hal inilah, kita perlu kembali kepada Alkitab.
Makhluk yang dimahkotai
Solusi yang ditawarkan Alkitab adalah bukan untuk meninggalkan teknologi lalu mengasingkan diri ke dalam sebuah bunker yang hanya diterangi cahaya lilin. Alkitab jauh lebih radikal daripada sekadar nostalgia, dan Alkitab menawarkan kepada kita suatu pemahaman tentang manusia yang mulia, yang cukup kokoh dan berakar untuk menolak godaan perbudakan dalam balutan kedaulatan.
Pemahaman tentang manusia tersebut kita temukan di seluruh Alkitab, dan dirangkum secara padat dalam Mazmur 8. Isi mazmur ini juga menggambarkan tentang manusia secara tepat. Mazmur ini dimulai dan diakhiri dengan Allah: “Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” (ayat 1, 9), yang mengingatkan kita bahwa pemahaman yang benar dan sehat tentang diri kita harus dimulai dengan penyembahan yang sejati kepada Pencipta kita.
Mazmur ini mengajukan salah satu pertanyaan terbesar di era AI: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?” (ayat 5). Elon Musk menjawab bahwa kita hanyalah pemuat awal (bootloader) bagi AI, sepotong daging yang kegunaannya adalah membangun AI, yang pada akhirnya akan melampaui kita dalam segala hal.
Dan jika kita membatasi diri hanya pada kehidupan di bawah matahari, mungkin Musk benar. Di bawah bulan dan bintang-bintang dalam alam semesta yang luas dan dingin, siapakah kita? Apakah Anda benar-benar berpikir bahwa kita berarti bagi alam semesta? Debu yang dilengkapi Wi-Fi tetaplah debu. Tanpa Allah yang mengingat kita dan memelihara kita, Anda dan saya tidak berarti apa-apa.
Namun, mazmur itu tidak berhenti di sana. “Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat” (Mazmur 8:6). Disinilah letak mujizatnya. Kita adalah makhluk ciptaan, dan kita dimahkotai. Bukan penguasa yang menjadi hamba, melainkan makhluk yang dimahkotai.
Ungkapan itu menyatukan gagasan-gagasan yang terus-menerus terpecah-pecah dalam zaman ini. Kita bukanlah allah, tetapi kita juga bukan sampah. Kita bukan makhluk yang berdaulat dan penuh otonomi dalam menciptakan makna hidup kita sendiri, tetapi kita juga bukan budak-budak yang hidup tanpa makna.
Perhatikan siapa pelaku dalam ayat 6: Engkaulah yang telah memahkotai mereka. Bukan “mereka memahkotai diri mereka sendiri.” Bukan “mereka memperoleh mahkota itu dengan usaha mereka.” Bukan “mereka mengoptimalkan diri hingga mencapai kemuliaan.” Martabat kita tidak diperoleh melalui prestasi, kecerdasan, produktivitas, kecantikan, ataupun pengakuan di dunia maya. Martabat itu diberikan, bukan diraih.
Dan jika kita tidak bersedia mengakui bahwa kita adalah makhluk ciptaan, jika kita tidak bersedia menerima mahkota dari Pencipta kita, maka kita tidak akan pernah mengenal kemuliaan dan kehormatan yang mengangkat manusia kepada kedudukan yang mulia sebagai “hampir sama seperti Allah” (Mazmur 8:6). Karena manusia modern tidak sanggup menerima kerendahan hati sebagai makhluk ciptaan, mereka kehilangan kemuliaan sebagai pribadi yang dimahkotai. Tanpa menjadi makhluk ciptaan, tidak ada mahkota. Atau, dalam perkataan Yesus kepada orang-orang Farisi, “Barangsiapa meninggikan diri, dia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, dia akan ditinggikan” (Matius 23:12).
Martabat yang tertambat/ bersauh di tengah badai AI
Apa yang dipertaruhkan untuk menjadi sangat besar pada zaman AI. Jika martabat manusia bergantung pada kecerdasan, maka mesin yang paling cerdas akan menang. Jika bergantung pada produktivitas, maka sistem yang paling cepat akan menang. Jika bergantung pada daya tanggap emosional, maka persona chatbot yang paling meyakinkan akan menang. AI sudah mulai menyusul kita dalam banyak tolok ukur tersebut; tampaknya hanya tinggal menunggu waktu sampai AI meninggalkan kita jauh di belakang.
Namun, jika martabat manusia adalah anugerah dan mahkota dari Allah, maka tidak ada mesin yang dapat mengunggulinya, menciptakannya secara otomatis, ataupun merampasnya. Bayi yang belum dapat berbicara, orang dewasa dengan disabilitas kognitif yang berat, orang lanjut usia yang mulai kehilangan daya ingat, ataupun orang percaya yang sedang bergumul dengan depresi sehingga hampir tidak sanggup berdoa, mereka semua tetaplah memiliki anugerah kemuliaan dan kehormatan yang tidak kalah dari insinyur paling brilian di Silicon Valley ataupun model bahasa besar terdepan dengan performa terbaik (chatbot AI). Mereka tidak perlu memenangkan perlombaan untuk memperoleh martabat, karena memang tidak ada perlombaan. Mereka telah dimahkotai oleh Tuhan, sang pencipta langit dan bumi.
Makhluk yang dimahkotai dalam Mazmur 8 tersebut telah menemukan maknanya yang paling sempurna di dalam Kristus. Kitab Ibrani mengatakan bahwa kita memang belum melihat segala sesuatu ditaklukkan bagi manusia, “Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat, telah dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat” (Ibrani 2:9). Manusia sejati bukanlah dia yang berusaha merebut kesetaraan dengan Allah, melainkan Dia yang, walaupun dalam rupa Allah, telah mengambil rupa seorang hamba (Filipi 2:7).
Kristus memberikan kunci yang membuka penjara dari hamba yang penuh kedaulatan. Di dalam Kristus, kedaulatan dan kehambaan tidak lagi terikat dalam pertentangan yang tragis. Tuhan kita memerintah dengan memberikan diri-Nya sendiri. Dia menerima kemuliaan melalui ketaatan. Dia mengenakan mahkota karena Dia memutuskan untuk disalibkan, bukan karena harus disalibkan.
Karena itu, ketika Anda menggunakan AI, ingatlah hal ini, Anda bukan menjadi paling manusiawi ketika segala sesuatunya menaati Anda. Anda menjadi paling manusiawi ketika Anda menerima kehidupan Anda sebagai makhluk ciptaan dari Allah, menjawab Dia dengan penuh sukacita dalam kebergantungan, dan mengenakan mahkota kemuliaan dan kehormatan yang tidak mungkin pernah dapat Anda peroleh melalui usaha anda sendiri.
Permainan Partisipasi
Alan Turing menyebut AI sebagai imitation game (permainan peniruan). Memang demikian. Dan itulah permainan yang dimainkan oleh sang penguasa yang ternyata menjadi hamba setiap hari. Dia meniru kedaulatan, tetapi menemukan perbudakan. Dia meniru kebebasan, tetapi menemukan ketergantungan. Dia meniru kemuliaan, tetapi akhirnya mendapati dirinya hancur menjadi debu kosmik yang tidak berarti.
Namun, Kekristenan bukanlah permainan peniruan. Kekristenan adalah permainan partisipasi. Kita tidak meniru Kristus dari kejauhan; kita diundang untuk berada “di dalam Dia,” agar kita menerima kembali kemanusiaan kita dari satu-satunya Manusia sejati. Kita bukan hanya meneladani Kristus; kita juga turut mengambil bagian dalam kehidupan, kematian, dan kebangkitan-Nya (Roma 6:4; Efesus 1:3–14).
Karena itu, janganlah merasa puas seperti rumah yang rapuh, yakni seperti rumah yang dibuat dari batang korek api yang dibangun oleh modernitas sebagai dasar martabat manusia, dan yang menilai harga diri berdasarkan kecerdasan, kuasa, atau pencapaian. Rendahkanlah diri Anda, dan biarkan Allah semesta alam meninggikan Anda. Biarkan Kristus membuka kunci penjara itu lalu melangkahlah keluar sebagai pribadi yang merdeka. Sadarilah bahwa Anda adalah makhluk ciptaan, bukan Sang Pencipta. Terimalah mahkota itu. Temukanlah kemuliaan serta kehormatan yang tidak akan pernah dapat dirampas oleh agen AI maupun chatbot apapun.
Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya namaMu di seluruh bumi!
Chris Watkin(PhD, University of Cambridge) adalah Australian Research Council Future Fellow dan asisten profesor dalam bidang bahasa-bahasa Eropa di Monash University, Melbourne, Australia. Dia telah menulis banyak buku, termasuk buku yang telah memenangkan penghargaanBiblical Critical Theory: How the Bible’s Unfolding Story Makes Sense of Modern Life and Culture. Anda dapat mengikuti dia di X, mengunjungi situs web akademisnya, atau situs-situs web miliknya.






