Juruselamat dunia, Yesus Kristus, dilahirkan sebagai seorang Yahudi. Apa tujuan Allah dalam ke Yahudian Yesus? Kisah ini bermula dari Abraham, kemudian membawa kita maju kepada komunitas orang-orang kudus dari setiap suku dan bahasa, kaum dan bangsa. Pada akhirnya, Yesus dilahirkan sebagai seorang Yahudi untuk menghancurkan setiap kesombongan atas keunggulan etnis, dan untuk menciptakan satu ras baru yang penuh kegembiraan dan belas kasihan.
Yesus dilahirkan sebagai seorang Yahudi bukan hanya untuk menghilangkan kepalsuan Kristen dari neo-Nazi dan KKK, namun juga untuk menutup mulut semua kesombongan etnis dan ras, termasuk Yahudi. Ia dilahirkan sebagai seorang Yahudi untuk membawa setiap ras dan etnis pada kerendahan hati yang bergantung pada belas kasihan. Ia dilahirkan sebagai seorang Yahudi supaya setiap ras bersuka cita atas belas kasihan, bukan atas tingkat melanin; dan setiap etnis akan bersuka cita atas belas kasihan, lebih dari sekadar etnis; dan setiap suku akan bersuka cita atas belas kasihan, melebihi atribut kesukuan. Yesus dilahirkan sebagai seorang Yahudi untuk menghancurkan setiap kesombongan atas keunggulan etnis.
Mencapai kesimpulan ini adalah hal yang rumit, meskipun secara historis ke-Yahudi-an Yesus telah menyinggung semua kesombongan etnis, bahkan kesombongan Yahudi. Namun, untuk mengatakan bahwa hal ini rumit berarti menyetujui pendapat Paulus. Segera setelah dia sampai pada kesimpulan ini, dia berkata, pada napas berikutnya, “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” (Roma 11:33).
“Yesus dilahirkan sebagai seorang Yahudi untuk menghancurkan setiap kesombongan atas keunggulan etnis. Dan untuk menciptakan satu ras baru yang penuh kegembiraan dan cinta kasih sayang.”
Itulah tanggapan Paulus terhadap mengapa Tuhan semesta alam menjerat diri-Nya dengan keYahudian sebagai cara untuk menyelamatkan manusia di setiap kelompok etnis. Saya mengatakan “menjerat” bukan karena Tuhan terperangkap atau dibingungkan, namun karena jalinan cara penyelamatan-Nya dengan keYahudian, dari sudut pandang kita, “tidak dapat diselidiki.” Kerumitannya melampaui kekuatan kita.
Namun demikian, Paulus dikaruniai oleh Tuhan untuk membawa kita masuk ke dalam misteri ini lebih jauh dari yang pernah dilakukan siapa pun. Tidak ada yang pernah mencapainya. Saya mengundang Anda untuk ikut bersama dengan saya ke dalam misteri ini, setidaknya sejauh saya dapat membawa Anda melalui satu artikel.
‘Dari Ras Mereka, Menurut Daging’
Yesus dilahirkan sebagai orang Yahudi. Wanita Samaria di tepi sumur berkata kepada Yesus, “Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: ”Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)” (Yohanes 4:9). Kemudian Yesus berkata kepadanya, “Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.” (Yohanes 4:22).
Ke-Yahudi-an Yesus bukanlah sebuah kebetulan bagi rasul Paulus. Dia bertanya, “Jika demikian, apakah kelebihan orang Yahudi dan apakah gunanya sunat?” Dia menjawab, “Banyak sekali, dan di dalam segala hal. Pertama-tama: sebab kepada merekalah dipercayakan firman Allah.” (Roma 3:1–2). Kemudian dia melengkapi daftarnya seperti ini:
Sebab mereka adalah orang Israel, mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji. Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin. (Roma 9:4–5)
Puncak keistimewaan yang dimiliki orang Yahudi adalah:
“Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu.” Yesus dilahirkan sebagai orang Yahudi. Dan untuk melontarkan hak istimewa dari dunia ini, Dia adalah Tuhan yang berinkarnasi – “Tuhan atas segalanya, diberkati selamanya.” Keistimewaan tertinggi orang-orang Yahudi adalah bahwa Anak Allah dilahirkan di antara mereka.
“Setiap mulut dihentikan. Kebanggaan setiap kelompok etnis dibungkam. Semua diserahkan pada ketidaktaatan.”
Jadi, Yesus dilahirkan sebagai orang Yahudi. Dan ini bukanlah sebuah kebetulan, namun merupakan puncak keistimewaan orang Yahudi di antara semua bangsa. Dan Paulus tidak merahasiakannya, seolah-olah hal itu memalukan, tetapi mengibarkannya bagai sebuah bendera agar dapat dilihat oleh setiap orang Yahudi dan setiap bangsa.
Pertanyaannya adalah mengapa. Bukan hanya mengapa dalam arti, Dari manakah asal nya? Namun juga mengapa dalam artian, Kemanakah arah nya? Apa tujuan Allah dalam ke Yahudian Yesus? Dan jika hal ini tidak mempunyai arti penting saat ini, karena Yesus sekarang adalah Juru selamat semua orang, mengapa Paulus tidak menghindari saja membawa pembahasan yang kontroversial ini?
Mengapa – Dari Manakah Asalnya?
Tuhan menjerat diri-Nya dengan umat manusia sebagai seorang yang berasal dari etnis Yahudi karena dua ribu tahun sebelumnya Ia telah menjerat diri-Nya dengan Abraham, bapak bangsa Yahudi. “Engkaulah Tuhan , Allah yang telah memilih Abram dan membawanya keluar dari Ur-Kasdim dan memberikan kepadanya nama Abraham.” (Nehemia 9:7). Sejak saat itu, orang-orang Yahudi menjadi umat perjanjian Allah yang mempunyai hak istimewa. “Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi, sebab itu Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu.” (Amos 3:2). “Sebab engkaulah umat yang kudus bagi Tuhan , Allahmu;
engkaulah yang dipilih oleh Tuhan , Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya.” (Ulangan 7:6).
Tentu saja, sejak awal Allah telah merencanakan bahwa melalui Abraham dan keturunannya, Allah akan memberkati seluruh bangsa. “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” (Kejadian 12:2–3). Namun hak istimewa Israel tetap ada.
Selama dua ribu tahun, Tuhan memfokuskan hampir seluruh keterlibatan penyelamatan-Nya dengan dunia pada Israel, bukan pada bangsa-bangsa. “Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing” (Kisah Para Rasul 14:16). “tetapi hanya oleh nenek moyangmulah hati Tuhan terpikat sehingga Ia mengasihi mereka, dan keturunan merekalah, yakni kamu, yang dipilih-Nya dari segala bangsa, seperti sekarang ini.” (Ulangan 10:15). Pengampunan dosa diberikan kepada orang-orang Yahudi melalui darah Kristus yang digambarkan dalam pengorbanan (Imamat 4:20; Roma 3:25). Dan janji tersebut telah diberikan kepada orang Yahudi bahwa Mesias akan datang dari bangsa ini (Yesaya 9:6–7). “Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” (Lukas 1:32–33).
“
Yesus dilahirkan sebagai seorang Yahudi untuk menghancurkan setiap kesombongan atas keunggulan etnis.”
Inilah sebabnya mengapa Yesus dilahirkan sebagai orang Yahudi. Allah telah memilih orang-orang Yahudi sebagai “umat kesayangan-Nya” (Ulangan 14:2). Dia telah memfokuskan pekerjaan penebusannya pada mereka selama dua ribu tahun – bukan pada orang Cina, bukan pada orang Afrika, dan bukan pada gerombolan Jerman yang pucat. Dan “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.” – yaitu, lahir sebagai seorang Yahudi (Galatia 4:4).
Mengapa – Kemanakah Arahnya?
Namun menjawab pertanyaan mengapa sehubungan dengan masa lalu hanya akan memperparah pertanyaan mengapa sehubungan dengan masa depan. Apa tujuan Allah melibatkan diri-Nya dengan Israel melalui perjanjian dan dengan Mesias Yahudi melalui inkarnasi? Kemana arah semua ini? Dan mengapa melakukannya dengan cara ini?
Jelaslah, kehidupan dan kematian serta kebangkitan Mesias Yahudi ini menuntun pada keselamatan bangsa-bangsa bukan Yahudi, yaitu segenap bangsa. Semasa hidup-Nya, Yesus bersabda, “Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” (Matius 8:11–12). Dia berkata kepada para pemimpin Yahudi, “Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.” (Matius 21:43). Dan dia mengakhiri pelayanannya dengan perintah “jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Matius 28:19).
Namun keselamatan masih “dari bangsa Yahudi” (Yohanes 4:22). Paulus menjelaskan caranya. Ketika Israel menolak Yesus sebagai Mesias, mereka seperti cabang alami yang dipatahkan dari pohon perjanjian dengan Abraham. Ketika orang-orang bukan Yahudi percaya kepada Yesus Mesias, mereka seperti cabang-cabang yang tidak alami, yang dicangkokkan ke dalam perjanjian Yahudi .
Karena itu apabila beberapa cabang telah dipatahkan dan kamu sebagai tunas liar telah dicangkokkan di antaranya dan turut mendapat bagian dalam akar pohon zaitun yang penuh getah, janganlah kamu bermegah terhadap cabang-cabang itu! Jikalau kamu bermegah, ingatlah, bahwa bukan kamu yang menopang akar itu, melainkan akar itu yang menopang kamu. (Roma 11:17–18)
Akarlah yang menopang Anda! Artinya bahwa komitmen Tuhan kepada Israel adalah alasan mengapa Anda diselamatkan, karena Anda dipersatukan pada akar ini.
Dengan kata lain, tidak ada anggapan bahwa orang-orang bukan Yahudi mempunyai satu jalan keselamatan, dan orang-orang Yahudi mempunyai jalan keselamatan yang lain. Ada satu cara. Milik Israel yang sejati – Israel yang diselamatkan. Paulus telah menjelaskan dengan jelas bahwa “tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel” (Roma 9:6). Keturunan alami tidak menjadikan seseorang pun menjadi bagian dari Israel sejati. Dan banyak orang yang bukan keturunan Israel dijadikan bagian dari Israel yang sejati – “yaitu kita, yang telah dipanggil-Nya bukan hanya dari antara orang Yahudi, tetapi juga dari antara [bangsa-bangsa lain], seperti yang difirmankan-Nya juga dalam kitab nabi Hosea: ‘Yang bukan umat-Ku akan Kusebut: umat-Ku dan yang bukan kekasih: kekasih.’” (Roma 9:24–25).
“Tidak ada anggapan bahwa orang-orang bukan Yahudi mempunyai satu jalan keselamatan, dan orang-orang Yahudi mempunyai jalan keselamatan yang lain. Ada satu cara.”
Menjadi seorang Yahudi sejati bukanlah soal etnis, namun soal iman kepada Mesias: “Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi… Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.” (Roma 2:28–29). Orang bukan Yahudi, dengan cara ini, “menjadi Yahudi.”
Beginilah penggenapan janji kepada Abraham dalam Kejadian 12:3: “Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: ”Olehmu segala bangsa akan diberkati.” (Galatia 3:8). Inilah bagaimana Abraham kemudian menjadi “bapak banyak bangsa” (Kejadian 17:5; Roma 4:17).
“Keselamatan datang dari orang-orang Yahudi” bukan hanya karena Yesus adalah seorang Yahudi, namun karena Ia menyelamatkan orang-orang bukan Yahudi dengan menjadikan mereka mitra penuh dalam warisan Yahudi. Melalui darah Kristus, “kita [Yahudi dan bukan Yahudi] kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa Demikianlah kamu [orang bukan Yahudi] bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah” (Efesus 2:18–19). “Orang-orang asing” bukan Yahudi dijadikan warga negara penuh dari rumah tangga Yahudi yang sejati dan telah diselamatkan. “Kamu [orang Yahudi dan bukan Yahudi] juga adalah keturunan Abraham, yang berhak menerima janji Allah” (Galatia 3:29).
‘Seluruh Israel Akan Diselamatkan’
Ada yang berpendapat bahwa masuknya bangsa-bangsa bukan Yahudi ke dalam warisan Yahudi merupakan langkah terakhir dalam urusan Allah dengan etnis Israel. Tidak seperti itu. Paulus mengajarkan bahwa ketika “jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk,” maka “seluruh Israel akan diselamatkan” (Roma 11:25–26). Ini mengacu pada suku bangsa secara keseluruhan, yang bertobat kepada Kristus di masa depan — setelah “jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa bukan Yahudi” dikumpulkan.
Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “seluruh Israel” di sini tidak mengacu pada bangsa etnis tetapi pada jumlah total umat pilihan, baik Yahudi maupun non-Yahudi. Setidaknya ada lima alasan kuat mengapa pengertian yang demikian tidak berhasil. Saya akan menyebutkan dua.
“Tidak ada bangsa di dunia ini yang layak menerima berkat Tuhan. Semuanya pantas dihancurkan.”
Pertama, sangat tidak mungkin bahwa dengan hanya sebelas kata Yunani di antaranya, arti “Israel” akan berubah dari “bangsa etnis” menjadi “orang Yahudi dan bukan Yahudi terpilih” (Roma 11:25–26). Penggunaan pertama, hampir semua orang sepakat, mengacu pada etnis Israel. Oleh karena itu, tentu saja surat wasiat yang kedua juga berbunyi: “ Israel Sebagian dari Israel telah menjadi tegar. . . . Seluruh Israel akan diselamatkan.” Jadi “seluruh Israel” adalah suku bangsa yang sebagiannya pernah menjadi tegar. Suatu hari orang-orang tersebut akan diselamatkan.
Kedua, persamaan antara dua bagian dalam Roma 11:28 menunjuk pada “seluruh Israel” sebagai suku bangsa. Sebagian pertama ayat 28 mengatakan, “Mengenai Injil, mereka [bangsa Israel] adalah seteru” Allah. Bagian kedua dari ayat tersebut mengatakan, “Tetapi mengenai pilihan mereka [orang-orang dari suku yang sama yang menjadi musuh]adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang.” Inti dari ayat ini adalah untuk menunjukkan bahwa meskipun suku Israel sekarang adalah bangsa yang melanggar perjanjian dan tidak percaya, hal itu akan berubah. Orang-orang yang merupakan musuh sekarang akan bertobat di kemudian hari karena pemilihan dan cinta. (Lihat juga persamaannya dalam Roma 11:12 dan 15.)
Mengapa Dia Melakukannya Dengan Cara Ini?
Sekarang kita bisa mundur dan bertanya, Mengapa Tuhan menyelamatkan umat-Nya dari segala bangsa, termasuk Yahudi, dengan cara yang tidak langsung ini?
Izinkan saya meringkas jalan memutar Tuhan:
1. Seluruh umat manusia jatuh ke dalam dosa dan kerusakan ketika Adam dan Hawa menolak kebaikan Allah demi hikmat mereka sendiri (Kejadian 3:6; Roma 5:12). Ketika keragaman suku bangsa muncul dalam Kejadian 10 dan 11, semua anggota mereka adalah “anak-anak yang dimurkai” (Efesus 2:3). Tidak ada bangsa di dunia ini yang layak menerima berkat Tuhan. Semuanya pantas dihancurkan.
2. Ketika Allah menjalankan rencana penebusan bagi umat manusia, Ia memilih Israel sebagai fokus utama pekerjaan penyelamatan-Nya selama dua ribu tahun (Ulangan 7:6; Amos 3:2). Terpilihnya Israel dari semua bangsa bukan disebabkan oleh sifat-sifat Israel yang menjadikan mereka lebih berharga dibandingkan bangsa-bangsa lain. Abraham adalah seorang penyembah berhala sebelum ia dipanggil oleh Tuhan (Yosua 24:2, 14). “Apakah keadaan kita sebagai orang Yahudi lebih baik? Tidak, tidak sama sekali. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa” (Roma 3:9).
3. Selama dua ribu tahun, Allah menawarkan keselamatan kepada Israel (Roma 9:4–5) dan memberikan gambaran tentang Mesias dalam sejarah Yahudi dan Kitab Suci (Lukas 24:27). Tanggapan mereka yang terus berulang sebagian besar berupa ketidakpercayaan, seperti yang dikatakan Stefanus, ”Hai orang-orang yang keras kepala . . . selalu menentang Roh Kudus, sama seperti nenek moyangmu, demikian juga kamu.” (Kisah Para Rasul 7:51). Atau seperti yang Paulus katakan, “Tetapi tentang Israel ia berkata: [mengutip Allah dalam Yesaya 65:2], ‘Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada bangsa yang tidak taat dan yang membantah.’” (Roma 10:21).
“Keistimewaan tertinggi orang-orang Yahudi adalah bahwa Anak Allah dilahirkan di antara mereka.”
4. Dampak dari ketidakpercayaan orang Yahudi ini, meskipun mempunyai keuntungan yang besar, adalah menunjukkan bahwa hukum, tanpa seorang Penebus, tidak akan menghasilkan pembenaran, namun hanya akan mengungkap dan menambah dosa (Roma 3:20; 5:20). Dengan pengalaman ini, mulut seluruh dunia terhenti. Sebab, jika Israel, dengan segala kelebihannya, “tidaklah sampai kepada hukum itu.” (Roma 9:31), maka bangsa-bangsa lain tidak boleh berpikir bahwa keadaan mereka lebih baik. “Tetapi kita tahu, bahwa segala sesuatu yang tercantum dalam Kitab Taurat ditujukan kepada mereka yang hidup di bawah hukum Taurat, supaya tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah.” (Roma 3:19).
5. Melalui inkarnasi, kehidupan, kematian, dan kebangkitan Mesias, janji-janji kepada para leluhur telah dikonfirmasi, dan belas kasihan telah dibuka bagi seluruh bangsa. “ Kristus telah menjadi pelayan orang-orang bersunat . . . untuk mengokohkan janji yang telah diberikan-Nya kepada nenek moyang kita, dan untuk memungkinkan bangsa-bangsa, supaya mereka memuliakan Allah karena rahmat-Nya” (Roma 15:8–9).
6. Sebuah pengerasan menimpa Israel (Roma 11:25; 2 Korintus 3:14), yang berlangsung hingga abad kedua puluh satu. Kerajaan ini akan tetap ada “sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk.” (Roma 11:25).
7. Pada masa ini – “zaman bangsa-bangsa [yang tidak mengenal Allah] itu.” (Lukas 21:24) – akan terjadi kemajuan misionaris yang besar ke seluruh bangsa di dunia. “Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” (Matius 24:14).
8. Ketika “jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk. . seluruh Israel akan diselamatkan” (Roma 11:25–26).
9. Kristus akan datang kembali dan mendirikan kerajaan-Nya (Roma 11:26).
Ini adalah jalan memutar yang Allah rencanakan untuk menebus umat-Nya dari setiap kelompok etnis, termasuk pertobatan akhir “seluruh Israel” – seluruh generasi dibawa ke dalam iman pada akhir zaman ini. Kenapa harus jalan memutar? Inilah ringkasan jawaban Paulus dalam Roma 11:30–32:
Sebab sama seperti kamu [orang-orang bukan Yahudi] dahulu tidak taat kepada Allah, tetapi sekarang beroleh kemurahan oleh ketidaktaatan mereka [Yahudi], demikian juga mereka [Yahudi] sekarang tidak taat, supaya oleh kemurahan yang telah kamu [orang-orang bukan Yahudi] peroleh, mereka [Yahudi] juga akan beroleh kemurahan. Sebab Allah telah mengurung semua orang [Yahudi dan Bukan Yahudi] dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua.
Untuk meringkas kita dapat mengatakan,
Bangsa-bangsa non-Yahudi hidup dalam ketidaktaatan setelah kejatuhan mereka.
Jadi Tuhan memilih Israel.
Israel hidup dalam ketidaktaatan meskipun dengan segala kelebihan yang dimilikinya.
Maka Tuhan melimpahkan belas kasihanNya kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi.
Kemurahan hati kepada bangsa-bangsa ini akan menghasilkan kemurahan yang besar dalam pertobatan Israel.
Oleh karena itu, semua orang sepenuhnya bergantung pada belas kasihan, bukan pada jasa.
Hal ini rumit. Aneh. Melingkar. Sedemikian rupa sehingga hal berikutnya yang keluar dari mulut Paulus adalah ini: “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” (Roma 11:33).
Tujuan Akhir : Setiap Orang Rendah Hati dan Berharap Pada Belas Kasihan
Lalu apa tujuan akhir dari penyelamatan yang tidak langsung ini? Paulus mengatakannya seperti ini: “Sebab Allah telah mengurung semua orang [orang Yahudi dan bukan Yahudi] dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua.” (Roma 11:32). Paulus telah mengatakan bahwa tujuannya adalah “supaya tersumbat setiap mulut dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah.” (Roma 3:19). Itulah tujuan negatifnya. Setiap kelompok etnis direndahkan diri nya karena ketidaktaatan mereka.
Orang-orang Yahudi direndahkan hatinya karena, meskipun memiliki segala kelebihan yang mereka miliki, mereka seperti ranting-ranting yang patah, dan orang-orang bukan Yahudi mengambil tempat mereka dalam perjanjian Abraham hanya karena iman (Roma 11:19; 9:30-31). Bangsa-bangsa bukan Yahudi direndahkan hatinya karena mereka berdiri hanya oleh karena iman (Roma 11:20) dan karena akar Yahudilah yang menopang mereka, bukan sebaliknya (Roma 11:18). Anda harus menjadi seorang “Yahudi” agar dapat diselamatkan (Galatia 3:7). Namun tidak ada orang Yahudi yang diselamatkan dengan menjadi etnis Yahudi. Sebab bukan seluruh Israel adalah Israel (Roma 9:6). “Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!” (Matius 3:9).
“Komitmen Tuhan kepada Israel adalah alasan mengapa Anda diselamatkan, karena Anda dipersatukan pada akar ini.”
Setiap mulut dihentikan. Kebanggaan setiap kelompok etnis dibungkam. Semua diserahkan pada ketidaktaatan. Masing-masing dibuat menelan harga dirinya. Orang bukan Yahudi harus menjadi Yahudi (termasuk Nazi dan KKK) agar bisa diselamatkan. Dan orang-orang Yahudi harus meninggalkan segala ketergantungan pada keYahudian dan bergabung dengan bangsa-bangsa lain dalam kebergantungan pada belas kasihan.
Satu Ras yang Bergantung pada Rahmat dan Menghargai Belas Kasihan
Yesus dilahirkan sebagai seorang Yahudi – dan setiap bagian dari hikmat Allah yang “tidak dapat diselidiki” dan “tidak dapat dipahami” diterapkan – untuk mencapai tujuan ini. Menutup mulut semua orang yang menyombongkan diri atas dasar etnis dan ras, termasuk Yahudi, dan membuat setiap ras dan etnis tunduk pada belas kasihan.
Kristus dilahirkan sebagai orang Yahudi agar setiap ras bersuka cita karena belas kasihan, bukan karena melanin; dan setiap etnis akan bersuka cita atas belas kasihan, lebih dari sekadar etnis; dan setiap suku akan bersuka cita atas belas kasihan, lebih dari pada atribut kesukuan. Yesus dilahirkan sebagai seorang Yahudi untuk menghancurkan setiap kesombongan atas keunggulan etnis. Dan untuk menciptakan satu ras baru yang penuh kegembiraan dan cinta kasih sayang.
John Piper adalah pendiri dan pengajar desiringGod.org dan rektor Bethlehem College & Seminary. Selama 33 tahun, dia melayani sebagai pendeta di Bethlehem Baptist Church, Minneapolis, Minnesota. Dia adalah penulis lebih dari 50 buku, termasuk Desiring God: Meditations of a Christian Hedonis dan yang terbaru Foundations for Lifelong Learning: Education in Serious Joy.






