Apakah Anda Terlalu Kristen bagi Orang-Orang Non-Kristen?

Coba ketik frasa “ketahui angka Anda” di Google. Anda akan menemukan halaman demi halaman tentang hal-hal yang dianggap penting untuk diketahui dalam hidup, seperti kadar kolesterol, hasil pemeriksaan antigen spesifik prostat, jumlah tabungan yang dibutuhkan untuk masa pensiun, hingga tipe kepribadian berdasarkan enneagram. Enneagram adalah sistem untuk mengenali tipe kepribadian seseorang. Menurut sebagian orang, sistem ini berasal dari seorang mistikus Kristen pada abad keempat. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa sistem ini berasal dari seorang spiritualis Bolivia pada abad kedua puluh. Jarak waktu antara kedua kemungkinan itu sekitar 1.600 tahun. Namun, siapa yang peduli menghitungnya?

Tampaknya, semua orang memang sedang menghitung. Setiap hari, muncul aplikasi baru, perangkat teknologi yang dapat dikenakan, atau alat ukur dengan berbagai fungsi untuk membantu kita merekam, mengukur, dan menganalisis data dalam jumlah besar yang kita hasilkan hanya dengan menjalani kehidupan sehari-hari. Semua itu menjanjikan kehidupan yang lebih baik, lebih panjang, dan lebih produktif. Sebagian alat ukur ini memang serius dan bermanfaat, sementara sebagian lainnya konyol dan justru mengalihkan perhatian kita.

Ada tertulis, “bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya” (Lukas 12:7).

 

Angka Pribadi Amanat Agung

Baru-baru ini, Jason Meyer berkhotbah dari 2 Korintus 6:14–7:1. Ketika ia membandingkan sikap memisahkan diri dari dunia dengan keterlibatan kita di dalamnya, saya berpikir, “Bukankah akan sangat bagus kalau ada aplikasi yang bisa mengukur seberapa banyak kita berinteraksi dengan orang-orang yang belum percaya kepada Tuhan?” Aplikasi itu bisa menghitung:

Jumlah Waktu × Kedalaman Hubungan × Orang yang Belum Percaya

Sayangnya, bagi banyak orang, hasil perhitungannya mungkin sangat kecil, bahkan hanya satu digit. Kita begitu mudah mengisi waktu dengan berbagai kegiatan dan persekutuan Kristen. Kita menyediakan waktu untuk kegiatan “Kristen”, seperti berdoa, saat teduh, beribadah, sekolah minggu, kelompok kecil, rapat pelayanan, kelompok untuk saling menguatkan dan mempertanggungjawabkan kehidupan rohani, hiburan Kristen, kegiatan politik, serta berkumpul dengan teman-teman dekat yang kebetulan juga beribadah di gereja yang sama — akibatnya, yah, hampir tidak ada lagi waktu luang untuk hal lain, seperti memberitakan Injil kepada orang-orang yang belum mengenal Kristus. 

Memisahkan diri dari dunia sebenarnya tidak terlalu sulit. Bahkan, bisa dikatakan bahwa hal itu terasa lebih nyaman dan lebih kita sukai daripada terlibat langsung dengan dunia, terutama jika kita sangat mengasihi Tuhan. Dalam banyak hal, hidup dengan tidak menjadi bagian dari dunia terasa lebih mudah daripada hidup di tengah-tengah dunia tanpa mengikuti nilai-nilai dunia yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.

 

Ladang Misi Dua Blok dari Rumah

Saat liburan tahun lalu, pendeta kami di daerah pinggiran Cincinnati menantang kami untuk mendoakan tetangga satu per satu dengan menyebut nama mereka, membawakan mereka kue atau camilan buatan sendiri, lalu mencari kesempatan untuk mengundang mereka ke rumah kami. Saya harus mengakui bahwa awalnya kami bahkan perlu mencari tahu nama sebagian besar tetangga kami agar bisa mendoakan mereka. Ketika kami mengunjungi mereka sambil membawa stoples berisi camilan khas liburan, semua tetangga merasa senang karena akhirnya ada seseorang yang mulai membangun hubungan dan kebersamaan di lingkungan tempat tinggal kami. Hal yang paling menarik terjadi ketika mereka mulai berkunjung ke rumah kami dan duduk bersama di meja makan. Kami segera menyadari, “Ternyata selama ini kami terlalu banyak menghabiskan waktu bersama sesama orang Kristen.”

Kami berhadapan langsung dengan budaya masyarakat pada umumnya. Bukan melalui perdebatan sengit di acara televisi, melainkan lewat percakapan biasa tentang berbagai hal yang memang dibicarakan orang sehari-hari.Kami jadi mendengar dengan cara pandang baru betapa mudahnya orang-orang yang belum percaya menerima hal-hal yang bahkan tidak ingin kami dekati sebagai orang Kristen. Kami juga menyadari betapa sulit dan sensitifnya membicarakan hal-hal tersebut dengan orang-orang yang tidak menyanyikan lagu dari buku nyanyian yang sama dengan kami—bahkan, yang sama sekali tidak menyanyikan lagu dari buku nyanyian. Ketika meninggalkan rumah kami, para tetangga tahu bahwa kami adalah orang Kristen, bahwa kami menghormati otoritas Alkitab, dan yang terpenting, bahwa kami mengasihi mereka. Hanya dalam beberapa minggu, salah satu tetangga kami bahkan mulai melayani bersama kami dalam sebuah pelayanan Kristen di daerah setempat.

Berinteraksi dan membangun hubungan seperti ini sama sekali tidak mudah. Hal ini membutuhkan perhatian dan pertimbangan yang lebih besar dibandingkan percakapan dengan sesama orang Kristen evangelikal, yang perkataannya sering kali sudah bisa kita tebak atau bahkan kita lanjutkan sebelum mereka selesai berbicara. Kita perlu mampu menerapkan firman Tuhan dengan tepat dalam situasi dan percakapan yang sedang kita hadapi. Seharusnya, kemampuan ini semakin kita kembangkan ketika kita berkumpul sebagai orang percaya, saling mengasihi, menguatkan, dan mendorong satu sama lain untuk melakukan perbuatan baik (Ibrani 10:24). Keterlibatan ini juga membutuhkan kesabaran yang besar terhadap kebutaan, ketulian, dan kematian rohani yang Yesus minta kita hadapi dengan menyampaikan kebenaran. Sebenarnya, kita membutuhkan kedisiplinan dan kedewasaan iman agar kita mampu melihat orang lain melalui sudut pandang Yesus sendiri.

 

Tujuh Langkah Sederhana untuk Meningkatkan Penginjilan

Bangunlah “angka Amanat Agung pribadi” seolah-olah hal itu merupakan bagian rutin dari kehidupan sehari-hari Anda, sama seperti pergi ke gereja, bekerja, berolahraga, dan mengantar-jemput anak-anak. Berapa banyak waktu yang Anda habiskan bersama orang-orang yang belum percaya kepada Yesus? Seberapa dekat dan berkualitas hubunganmu dengan mereka? Anda bisa meningkatkan angka tersebut secara signifikan dengan menerapkan tujuh kebiasaan berikut.

 

1. Doakan orang-orang yang belum percaya kepada Yesus dengan menyebut nama mereka.

Margaret Thatcher pernah berkata, “Tidak ada yang namanya masyarakat. Yang ada adalah laki-laki dan perempuan secara individu, serta keluarga.” Maksudnya, kita perlu memandang setiap orang sebagai pribadi yang nyata, bukan sekadar bagian dari kelompok masyarakat yang lebih besar. Hal yang sama juga berlaku ketika kita menggunakan istilah “orang-orang yang terhilang”.

Tentu saja, hati kita sedih memikirkan jutaan orang yang belum mengenal Yesus. Namun, kita tidak mengenal jutaan orang itu secara pribadi. Kebanyakan dari kita setidaknya mengenal puluhan orang yang belum percaya kepada Yesus secara pribadi. Bahkan, beberapa orang mungkin mengenal ratusan orang. Daripada mendoakan mereka semua hanya sebagai satu kelompok besar, kita bisa mulai menyebut nama mereka satu per satu di hadapan Tuhan dalam doa. Mulailah dengan menuliskan nama-nama mereka, lalu doakan setiap orang setidaknya sekali seminggu.

 

2. Upayakan membangun hubungan dan meluangkan waktu dengan sengaja bersama orang-orang yang tidak percaya kepada Kristus.

Jika Anda tidak menjadikan hubungan dengan orang-orang yang belum percaya kepada Kristus sebagai prioritas, kehidupan Anda akan cenderung berpusat pada kenyamanan dan kesenangan di lingkungan gereja saja. Cobalah mencari dua orang di luar lingkungan pertemanan Kristen Anda yang menurut Anda akan menyenangkan untuk diajak menghabiskan lebih banyak waktu bersama. Kemudian, carilah dua orang lainnya yang tampaknya membutuhkan seseorang untuk mendampingi mereka saat menghadapi berbagai pergumulan hidup. Setelah itu, pilihlah satu orang lagi yang memiliki paling sedikit kesamaan dengan Anda. Namun, pastikan Anda sudah memiliki hubungan yang cukup baik dengannya sehingga, dengan sedikit usaha, hubungan tersebut dapat berkembang menjadi persahabatan. Anda tidak perlu merasa harus mengorbankan prinsip atau nilai-nilai yang Anda pegang demi mengasihi orang lain. Sebab, memang itulah yang diperintahkan kepada kita. Kasihilah Allah. Kasihilah sesama kita.

 

3. Bangunlah hubungan yang lebih dekat dengan anggota keluarga yang belum percaya kepada Kristus.

Anggota keluarga adalah orang-orang yang sudah memiliki hubungan dengan Anda, suka atau tidak. Anda sudah mengasihi mereka, dan mereka pun sudah mengasihi Anda, meskipun ada perbedaan keyakinan. Jangan memperlakukan mereka seperti sebuah proyek yang harus Anda selesaikan. Kasihilah mereka sebagaimana keluarga Anda sendiri. Tunjukkan ketertarikan yang tulus terhadap hal-hal yang mereka sukai, meskipun Anda merasa sulit untuk tertarik pada hal tersebut. Pahamilah pergumulan yang mereka hadapi. Berikan mereka dorongan. Hargailah mereka. Dekatlah dengan mereka. Teruslah mendekat dan jangan pernah menyerah terhadap satu pun dari mereka. Yang terpenting, doakanlah mereka.

 

4. Kasihilah para tetangga sekitar Anda.

Kenalilah tetangga Anda. Bantulah mereka. Nikmatilah kebersamaan dengan mereka. Jadilah perekat yang menyatukan para tetangga menjadi sebuah komunitas. Biasakanlah mengundang orang lain ke rumah Anda. Jadikan rumah Anda tempat yang membuat para tetangga mengaitkan kasih mereka satu sama lain.

 

5. Pandanglah tempat kerja Anda sebagai tempat terbaik untuk membangun hubungan.

Bagi kebanyakan orang Kristen, tempat kerja adalah tempat mereka menghabiskan waktu paling banyak bersama orang-orang yang belum percaya kepada Kristus. Pekerjaan menuntut kita untuk bekerja sama dengan orang lain agar tugas dapat diselesaikan. Terkadang, membangun hubungan dengan rekan kerja bahkan lebih mudah daripada dengan anggota keluarga. Kita menghabiskan lebih banyak waktu bersama mereka dan, seiring berjalannya waktu, menemukan semakin banyak kesamaan. Jangan biarkan identitas Anda sebagai orang Kristen menjadi penghalang yang memisahkan Anda dari rekan-rekan kerja.

Anda tidak perlu mengorbankan nilai-nilai yang Anda pegang atau terlibat dalam kegiatan yang bertentangan dengan Alkitab demi mendapatkan penghargaan atau kasih sayang dari rekan kerja. Namun, Anda perlu menunjukkan ketertarikan yang tulus terhadap mereka sebagai sesama manusia, bukan sekadar sebagai bagian lain dari roda yang kebetulan Anda gunakan bersama. Ingatlah bahwa rekan kerja bukan sekadar sarana untuk menyelesaikan pekerjaan Anda. Mereka adalah orang-orang yang menjadi sasaran pelayanan Anda sebagai duta Kristus.


6. Bangunlah hubungan melalui kegiatan anak-anak Anda.

Saat ini, anak-anak terlibat dalam banyak kegiatan sepanjang tahun. Jika Anda memiliki beberapa anak, kesempatan untuk membangun hubungan dengan orang lain pun semakin luas, mulai dari para pelatih, orang tua, hingga teman-teman satu tim mereka. Karena itu, bangunlah hubungan yang mendalam. Jalinlah hubungan dengan orang-orang dalam kelompok-kelompok ini. Bersahabatlah dengan mereka. Lakukan berbagai kegiatan bersama mereka. Kumpulkan mereka di rumah Anda bersama anggota keluarga, rekan kerja, dan para tetangga.

Satu hal yang perlu diingat: jangan biarkan semua kegiatan anak Anda hanya berlangsung dalam lingkungan atau program yang khusus diperuntukkan bagi orang Kristen.

 

7. Cobalah hobi baru, terutama yang dilakukan bersama orang lain.

Melakukan kegiatan di luar rutinitas dan tanggung jawab dapat menyegarkan pikiran, memulihkan energi, sekaligus menjadi kesempatan yang baik untuk memberitakan Injil. Carilah kegiatan yang menyenangkan atau menarik untuk dilakukan maupun dipelajari, yang tidak mengharuskan Anda memenuhi tanggung jawab atau kewajiban tertentu kepada siapa pun. Lakukanlah sesuatu yang dapat membantu Anda sejenak melupakan berbagai kesibukan dan beban pikiran. Namun, pilihlah kegiatan yang mengharuskan Anda melakukannya bersama orang lain. Melalui kegiatan tersebut, Anda mungkin akan bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang yang memiliki minat yang sama dengan Anda. Kesamaan minat inilah yang dapat menjadi awal terbentuknya hubungan di antara Anda. Akan lebih baik jika Anda memilih kegiatan yang membuat Anda perlu belajar dari atau mendapat bantuan seseorang, mungkin seseorang yang belum percaya kepada Kristus, sehingga orang tersebut turut terlibat dalam proses belajar Anda. Hal ini dapat menjadi ragi bagi terbentuknya hubungan yang sangat baik.

Sebenarnya, hasil dari rumus hipotetis ini bukanlah sebuah skor, melainkan sukacita. Hanya ada sedikit sukacita dalam hidup yang lebih besar daripada membagikan Injil kepada orang lain. Dan lebih sedikit lagi sukacita yang melampauinya, yaitu ketika kita menyadari bahwa Allah telah memakai kita sebagai sarana, baik secara langsung maupun melalui proses yang panjang, dalam pertobatan seseorang kepada Kristus.

Ya, kita bersukacita dalam ibadah bersama, persekutuan dengan sesama orang percaya, dan saat-saat teduh pribadi. Namun, jangan sampai kita mengabaikan tugas penting dan sukacita besar yang belum kita alami, yaitu memperkenalkan Kristus kepada mereka yang belum mengenal-Nya.

Rick Segal adalah wakil presiden bidang pengembangan dan dosen sejarah serta filsafat politik di Bethlehem College and Seminary

Tags :

Langganan Dapatkan Berita Terbaru

Jangan lewatkan artikel, renungan yang mendalam, berpusat pada Injil, dan meninggikan Kristus. Kami hadirkan panduan untuk hidup Kristen Anda setiap minggu.

Layanan Pelanggan

Ikuti Kami

Dapatkan informasi terbaru dari Living Word melalui media sosial kami. Klik icon yang ada dibawah ini

Copyright ©Living Word (PT Berita Baik Indonesia). All Rights Reserved