Minggu pagi selalu terasa sedikit sibuk. Keluarga kami harus menjalani jadwal yang padat. Bukan hanya sarapan yang harus disantap; pakaian juga harus dipilih, gigi disikat, dan rambut dirapikan—semua agar seluruh keluarga siap berangkat bersama-sama. Pada beberapa Minggu pagi, setelah si bungsu dititipkan di tempat penitipan anak dan anak-anak duduk di samping kami, istri saya dan saya saling berpandangan dengan mata terbelalak, lalu menghembuskan napas lega. Kami berhasil.
Meskipun sulit, kami berusaha agar jadwal yang padat itu tidak membuat hati kami gelisah. Setelah semua orang selesai sarapan, Alkitab diambil dari rak. Selama enam pagi dalam seminggu, setelah membaca Alkitab, kami sekeluarga berlatih menghafal Kitab Suci. Namun, hari Minggu berbeda. Alih-alih mengambil buklet kecil berisi ayat-ayat untuk dihafalkan, kami mengambil buku nyanyian rohani. Di dalam buku itu, terselip selembar kertas kusut yang menjadi penanda lagu pujian yang kami nyanyikan sepanjang minggu itu. Kertas itu tampak usang karena telah bertahun-tahun sering dipegang. Bekas-bekas selotip di sana-sini menunjukkan bahwa kertas itu pernah dipegang tangan anak-anak kami ketika mereka berada dalam berbagai tahap usia balita. Saya mengeluarkan kertas itu, dan paduan suara kecil mulai mengucapkan pengakuan iman: “Kami percaya . . .”
Apa yang Kami Akui
Apa yang “kami percayai”? Setiap minggu, kami bersama-sama mengucapkan Pengakuan Iman Nicea. Pengakuan Iman Nicea, pengembangan dari Pengakuan Iman Rasuli yang lebih dahulu ada, diakui sebagai pengakuan iman gereja yang benar pada Konsili Nicea pada tahun 325 M. Konsili tersebut diadakan untuk menanggapi ajaran palsu mengenai keilahian Kristus. Tokoh utama dalam kontroversi ini adalah Arius, yang mengajarkan bahwa pernah ada masa ketika Sang Anak belum ada. Pada tahun-tahun berikutnya, beberapa tambahan dimasukkan ke dalam rumusan pengakuan iman tersebut sebagai tanggapan terhadap kontroversi baru dengan kaum Pneumatomachian (“penentang Roh”), yang menyangkal keilahian Roh Kudus. Perubahan-perubahan ini diteguhkan pada Konsili Konstantinopel pada tahun 381 (itulah sebabnya para sejarawan menyebut bentuk akhir pengakuan iman ini sebagai Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel) dan ditegaskan kembali pada Konsili Kalsedon pada tahun 451. Singkatnya, selama lebih dari 1.500 tahun, gereja telah mengakui pengakuan iman ini sebagai pengakuan iman yang benar, sesuai dengan ajaran para nabi dan rasul dalam Kitab Suci.
Keluarga kami mulai mengucapkan Pengakuan Iman Nicea secara teratur sebagai bagian dari kebiasaan ibadah keluarga ketika anak sulung kami berusia sekitar empat tahun dan anak kedua kami berusia dua tahun. Kami memulainya dengan masa menghafal yang cukup panjang. Ketika para uskup berkumpul di Nicea dan kemudian di Konstantinopel, perhatian utama mereka adalah mempertahankan iman. Kalimat-kalimat dalam pengakuan iman itu, terutama yang menegaskan keilahian Sang Anak, bertumpuk satu demi satu bagaikan gunung-gunung kebenaran Alkitab yang puncaknya menjulang ke awan. Hal ini membuat rumusan pengakuan iman itu sulit dihafalkan. Meski demikian, kami terus bertekun mempelajarinya. Kami meluangkan waktu beberapa minggu untuk berlatih setiap hari. Setelah kami mampu mengucapkannya bersama-sama sampai selesai, kami secara bertahap memperpanjang jarak hari di antara pengulangan. Sebagai contoh, kami percaya kepada Roh Kudus, bukan salad kudus. Sekarang, hampir setiap Minggu pagi, kami mengakui iman Tritunggal kami tanpa tersendat atau menyimpang dari ajaran yang benar.
Mengapa kata-kata dari sebuah konsili gereja abad keempat bergema di meja dapur kami pada abad kedua puluh satu? Mengapa tidak cukup berfokus pada menghafal ayat-ayat Alkitab saja?
Mengapa Kami Mengaku Percaya
Praktik mengakui iman berdasarkan kredo secara terbuka kini lebih jarang dilakukan di gereja dibandingkan pada masa lalu. Kita mungkin melihatnya dalam ibadah baptisan atau dalam konteks Perjamuan Kudus, tetapi banyak hari Minggu berlalu tanpa seluruh jemaat bersama-sama menyatakan apa yang kita percayai. Hal ini tidak serta-merta salah. Tidak ada perintah eksplisit bagi kita untuk mengucapkan pengakuan iman bersama setiap kali gereja — apalagi keluarga — berkumpul untuk beribadah. Namun, apa yang hilang ketika praktik ini semakin jarang dilakukan?
Setiap minggu, kami sekeluarga mengakui apa yang kami percayai karena kami ingin keseluruhan kisah Alkitab membentuk pemikiran kami dan membangkitkan semangat kami dalam beribadah. Menghafal ayat-ayat Alkitab tertentu, betapapun baiknya hal itu, tidak sepenuhnya mencapai tujuan tersebut. Dengan menghafal pengakuan iman ini dalam ingatan, kami berusaha berpegang teguh pada keseluruhan pengajaran Kitab Suci, mulai dari apa yang kami percayai tentang Allah Tritunggal hingga pengharapan akan kebangkitan dan pemulihan atas segala sesuatu.
Selama berabad-abad, Pengakuan Iman Nicea telah membantu gereja memahami “ajaran yang sehat” (Titus 2:1). Pengakuan iman ini menetapkan batasan yang jelas antara ajaran yang benar dan yang salah mengenai Allah Tritunggal serta karya-Nya “untuk kita dan untuk keselamatan kita.” Singkatnya, pengakuan iman ini memuat pokok-pokok penting iman Kristen. Di dalam keluarga kami, kami menggunakannya sebagai sarana katekisasi untuk menanamkan pemahaman tentang dunia di mana kita tinggal kepada anak-anak kami (dan diri kami sendiri): “Aku percaya kepada Allah Bapa, yang Maha Kuasa, Pencipta langit dan bumi segala yang kelihatan dan yang tidak kelihatan.” Pengakuan iman ini juga mengajarkan karya keselamatan yang digenapi oleh Sang Anak yang kekal dan tunggal (hal ini diuraikan mulai dari inkarnasi hingga pemerintahan Kristus saat ini dan janji kedatangan-Nya kembali), dan karya Roh Kudus, hakikat gereja, serta pengharapan akan langit yang baru dan bumi yang baru.
“Dengan mengaku percaya bersama-sama, kita menjaga diri dari pemahaman Kekristenan yang terlalu individualistis.”
Pernyataan-pernyataan iman yang singkat ini memuat lebih banyak daripada sekadar garis besar Injil. Pernyataan-pernyataan tersebut menguraikan doktrin Alkitab tentang Allah Tritunggal: “satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa . . . satu Tuhan Yesus Kristus, Anak Allah yang tunggal . . . Roh Kudus . . . yang berasal dari Bapa dan Anak.” Pernyataan-pernyataan tersebut menyatakan bahwa Kitab Suci adalah firman Allah yang jelas dan yang digenapi. Seluruh karya Sang Anak berlangsung “sesuai dengan Kitab Suci”; Roh Kudus adalah Dia “yang telah berfirman dengan perantaraan para nabi.” Pernyataan-pernyataan ini juga melindungi kita dari pandangan yang sempit mengenai gereja: “satu gereja yang kudus, katolik [yang berarti universal], dan kerasulan.”
Kami berdoa agar praktik mingguan ini juga semakin meneguhkan manfaat-manfaat lainnya dalam diri kami. Dengan mengaku bersama-sama, kami menjaga diri dari pemahaman Kekristenan yang terlalu individualistis, serta menyadari bahwa iman yang kami pegang juga merupakan iman saudara-saudari kami di seluruh dunia. Kehidupan Kristen bukan sekadar urusan pribadi; kehidupan Kristen bersifat komunal, yakni kehidupan bersama sebagai tubuh Kristus. Dengan mengaku bersama-sama, kami belajar untuk tunduk kepada otoritas. Iman kami bukanlah sesuatu yang dapat kami tentukan sendiri. Iman itu telah diberikan kepada kami, dan kami menerimanya dengan sukacita. Penggunaan pengakuan iman gereja yang bersejarah mengajarkan kami untuk menerima dengan sukacita otoritas gereja yang semestinya, sekaligus melatih kami untuk mendengarkan dengan rendah hati seluruh tubuh Kristus yang tersebar melintasi ruang dan waktu. Kami belajar bahwa pemikiran mendalam para pendahulu kami dalam iman bukanlah sesuatu yang harus dibantah atau disingkirkan, melainkan sesuatu yang patut dihargai dan didengarkan dengan kesabaran serta kerendahan hati.
Bagaimana Kami Mengaku Percaya
Seperti apakah praktik kami pada Minggu pagi? Kami memulainya dengan katekismus singkat.
Pertanyaan: “Apakah pengakuan iman itu?”
Jawaban: “Pengakuan iman adalah ringkasan dari apa yang diajarkan Alkitab.”
Pertanyaan: “Mengapa kita mengucapkan pengakuan iman pada Minggu pagi?”
Jawaban: “Kita mengaku bersama-sama dengan gereja tentang apa yang kita percayai mengenai Allah.”
Kami ingin membedakan pengakuan iman dari Kitab Suci bagi anak-anak kami, agar mereka memahami bahwa Kitab Suci merupakan otoritas tertinggi kami dalam segala hal. Dan kami ingin menanamkan dalam diri anak-anak kami suatu kasih bukan hanya kepada gereja lokal, melainkan juga kepada gereja universal di seluruh dunia dan sepanjang zaman. Setelah menyelesaikan katekismus, barulah kami mengakui iman kami.
Sebagai orang tua, kami mengucapkan pengakuan iman dengan penuh doa, memohon kepada Bapa surgawi kami agar menuntun anak-anak kami untuk mengasihi kebenaran-kebenaran Injil yang mendalam dan menakjubkan. Kami juga mengaku dengan penuh pengharapan, sambil menantikan dengan penuh kerinduan dan harapan yang besar sesuatu yang sangat kami dambakan: “penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus” (Titus 2:13).
Maukah Anda Mengaku Percaya?
Agar Anda tidak salah memahami keadaan kami, pengakuan iman setelah sarapan jarang berlangsung dengan lancar. Kegiatan ini sering disertai makanan atau minuman yang tumpah, pengingat kepada anak-anak kami yang lebih besar tentang cara berpartisipasi, serta upaya yang tidak selalu berhasil untuk mencegah anak kami yang berusia dua tahun memindahkan semangkuk penuh sereal Cheerios dari nampannya ke lantai dapur. Kami tidak mengharapkan kesempurnaan, dan itu bukanlah tujuan kami. Sebaliknya, kami ingin membesarkan anak-anak kami “di dalam ajaran dan nasihat Tuhan” (Efesus 6:4), agar suatu hari nanti mereka dapat menjalani kehidupan di dunia dengan keyakinan teguh pada iman yang mereka akui.
Dengan mengikrarkan Pengakuan Iman Nicea bersama-sama, kami mengambil bagian dalam suatu cara yang telah dijalankan selama berabad-abad, yang menguatkan gereja dan memuliakan Allah. Maukah Anda mempertimbangkan untuk bergabung bersama kami?
Seth Porch adalah kandidat PhD di University of Aberdeen dan lulusan Bethlehem College and Seminary. Ia bekerja sebagai editor, penulis, dan pengajar. Ia tinggal di Aberdeen, Skotlandia, bersama istri dan ketiga anaknya.






