Studi tentang Akhir Zaman
Setelah Tuhan Yesus Kristus menubuatkan kehancuran bait suci di Yerusalem, murid-murid-Nya bertanya, “Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?” (Matius 24:3). Mereka mungkin tidak menyangka seberapa panjang diskusi yang akan dipicu oleh jawaban Kristus terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut. Hari-hari ini, doktrin eskatologi (studi tentang akhir zaman) menjadi bahan yang penuh perdebatan
Diskusi mengenai akhir zaman seringkali menjadi kacau karena adanya berbagai pemikiran yang salah mengenai akhir dari zaman ini dan kedatangan Kristus yang kedua. Dalam artikel ini kita akan membahas dan membantah lima mitos tentang akhir zaman—yaitu, (1) bahwa akhir zaman adalah janji yang gagal ditepati, (2) bahwa akhir zaman telah sepenuhnya digenapi pada abad pertama, (3) bahwa pada akhir zaman Allah akan menyelamatkan semua orang, atau (4) bahwa Ia akan membinasakan orang-orang jahat, dan (5) bahwa setelah akhir zaman, manusia akan hidup sebagai roh-roh surgawi.
Mitos #1: Akhir Zaman Adalah Janji yang Gagal Ditepati
Menurut beberapa pengajar teologi liberal, Yesus percaya bahwa kerajaan Allah akan datang dalam kemuliaannya selama masa hidup Yesus di bumi—dan harapan itu sayangnya tidak terwujud. Para pengajar tersebut merujuk kepada apa yang Kristus katakan, “Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.” (Matius 16:28). Karena itu, mereka berpendapat bahwa Kristus mengharapkan kerajaan kemuliaan tersebut akan datang pada generasi itu.
Untuk menanggapi hal ini, kita bisa tunjukkan bahwa beberapa murid Kristus memang melihat Anak Manusia dalam kemuliaan kerajaan-Nya. Enam hari setelah Kristus menyampaikan prediksi ini, Ia membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes ke sebuah gunung di mana Kristus “berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari” (Matius 17:2). Ini adalah gambaran sekilas dari kemuliaan kerajaan Allah (Matius 13:43). Para murid kemudian melihat Kristus setelah Ia bangkit dari kematian, yang merupakan awal pemerintahan-Nya sebagai Raja (Mat. 28:18).
Bertentangan dengan teori “janji yang gagal ditepati”, Kristus mengoreksi orang-orang yang “menyangka bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan” (Lukas 19:11). Ia mengajarkan bahwa Ia akan kembali untuk menghakimi hamba-hamba-Nya sesudah waktu yang lama. (Matius 25:19). Hanya setelah Injil “diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa,” kata Yesus, “barulah tiba kesudahannya” (Matius 24:14).
Mitos #2: Akhir Zaman Telah Tergenapi Sepenuhnya pada Abad Pertama
Para pengajar preterisme penuh mengatakan bahwa Allah telah menggenapi semua janji akhir zaman di Alkitab. Mereka mengatakan bahwa “akhir zaman” telah berakhir di abad pertama. Pandangan ini harus dibedakan dengan preterisme sebagian, yang mengajarkan bahwa ada banyak janji yang digenapi, tetapi tidak semuanya.
Kaum preteris berpendapat bahwa peristiwa Kristus “datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya” terjadi pada rentang waktu yang sama dengan kehancuran Yerusalem di tahun 70 M (Matius 24:15–34). Nubuat tentang gangguan kosmik (Matius 24:29) bisa jadi hanyalah simbol dari peperangan yang biasa terjadi antar bangsa (Yesaya 13:1, 9–10, 19; Yesaya 34:4–5). Karena itu, kaum preteris mengatakan bahwa “kedatangan” Kristus terjadi ketika Ia mengirim orang Romawi untuk menghancurkan Yerusalem. Menurut ajaran preterisme penuh, janji mengenai kebangkitan dan penghakiman yang akan datang juga telah digenapi secara tersembunyi atau melalui peristiwa-peristiwa rohani pada abad pertama.
Sebagai tanggapan, dapat kita tegaskan bahwa preterisme penuh merupakan penyangkalan terhadap doktrin dasar Kekristenan. Inti dari iman Kristen adalah pengharapan akan kedatangan Kristus yang kedua kali dalam kemuliaan yang nyata (Matius 24:30; Wahyu 1:7), kebangkitan tubuh (Yohanes 5:28-29; 1 Korintus 15:20-45), hari penghakiman (Matius 25:31-46), dan kerajaan kekal di mana Allah akan tinggal bersama dengan umat-Nya, menjadikan segala sesuatunya baru, dan mengakhiri segala kesedihan mereka (Wahyu 21:1–5). Seperti yang dikatakan Paulus, mereka yang mengklaim bahwa kebangkitan orang mati adalah sesuatu yang sudah terjadi di masa lampau adalah orang-orang yang menghancurkan ajaran iman Kristen dan harus disingkirkan dari gereja (1 Timotius 1:19–20; 2 Timotius 2:17–18).
Mitos #3: Pada Akhir Zaman Allah Akan Menyelamatkan Semua Orang
Doktrin universalisme atau keselamatan universal mengajarkan bahwa pada akhirnya Allah akan menyelamatkan semua ciptaan-Nya sehingga neraka akan kosong atau tidak ada sama sekali. Para pengajar doktrin ini mengutip pernyataan Paulus bahwa “satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup” (Roma 5:18); dan, “Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus” (1 Korintus 15:22). Mereka juga berpendapat bahwa Allah pasti akan menyelamatkan semua orang karena “Allah adalah kasih” (1 Yohanes 4:8).
Menanggapi hal ini, bisa kita katakan bahwa memang benar Allah adalah kasih, namun perlu diingat juga bahwa “Allah adalah terang” (1 Yohanes 1:5), yang berarti Ia adalah kebenaran yang tak terhingga. “Ia senang kepada keadilan dan hukum” (Mazmur 33:5). Keadilan membawa hukuman bagi orang jahat, yaitu mereka yang menolak kebaikan dan kemurahan Allah yang melingkupi mereka di setiap momen kehidupan di bumi (Roma 2:4–5). Allah “membalas setiap orang menurut perbuatannya,” yaitu “murka dan geram, penderitaan dan kesesakan” kepada mereka yang tidak taat dan yang melakukan kejahatan. (Roma 2:6, 8–9).
Mitos #4: Pada Akhir Zaman, Allah Akan Membinasakan Semua Orang Jahat
Menurut doktrin anihilasi, Tuhan akan memusnahkan orang jahat pada hari penghakiman. (Satu pemikiran serupa, yaitu ‘keabadian bersyarat’, berpendapat bahwa orang jahat tidak akan ada lagi (hilang) setelah mereka mati.) Para pengajar anihilasi berpendapat bahwa Alkitab mengatakan bahwa masa depan orang jahat adalah “kebinasaan” (Matius 7:13; 2 Tesalonika 1:9), sama seperti tanaman yang terbakar dalam api (Matius 3:12; 7:19).
Menanggapi pandangan ini, dapat kita kemukakan bahwa istilah “kebinasaan” tidak melulu berarti pemusnahan, melainkan dapat juga berarti kehancuran. Kata yang diterjemahkan sebagai “binasa” atau “hancur” digunakan untuk menggambarkan kantong anggur yang berlubang—yang tidak hilang, tetapi rusak (Matius 9:17). Tanaman yang dibakar merupakan gambaran dari penghakiman terakhir, namun pada kenyataannya penghakiman ini akan berlangsung dengan “api yang tidak terpadamkan” yang tidak akan pernah berhenti menyala (Matius 3:12; 18:8; cf. Markus 9:48).
Satu kebenaran yang dengan keras menyadarkan kita adalah bahwa sesungguhnya Kitab Suci menyatakan bahwa orang jahat akan mengalami hukuman kekal dalam kondisi sadar. Orang-orang jahat “akan disiksa dengan api dan belerang di depan mata malaikat-malaikat kudus dan di depan mata Anak Domba. Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya, dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa” (Wahyu 14:10–11). Sama seperti orang benar akan disambut masuk ke dalam “hidup yang kekal” dalam kondisi sadar untuk menikmati kasih Allah selamanya, demikian pula orang jahat akan dijebloskan ke dalam “tempat siksaan yang kekal” dalam kondisi sadar untuk menderita murka-Nya selamanya (Matius 25:46). “Di sanalah,” Tuhan kita Yesus Kristus memperingatkan, “akan terdapat ratapan dan kertakan gigi” (Matius 13:42). Orang mengalami hukuman ini menderita sesuatu yang jauh lebih buruk daripada ketiadaan: “Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan” (Matius 26:24).
Mitos #5: Setelah Akhir Zaman, Manusia Akan Hidup Sebagai Roh-roh Surgawi
Banyak orang berpikir bahwa mereka akan menjadi roh atau malaikat setelah meninggal dan akan hidup selamanya di alam surgawi. Beberapa kepercayaan, termasuk ajaran Mormon, secara gamblang mengajarkan bahwa para malaikat adalah manusia-manusia yang sudah dimuliakan dan yang sekarang hidup sebagai roh-roh ilahi. Beberapa pengajar neo-ortodoksi berbicara tentang akhir zaman sebagai pemindahan umat manusia dari alam jasmani ini (yang kemungkinan akan dihancurkan) ke dalam alam roh yang abadi. Mereka yang mengajarkan bahwa manusia akan hidup selamanya dalam wujud roh mengutip pernyataan Paulus bahwa “daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah” (1 Korintus 15:50).
Menjawab hal ini, dapat kita kemukakan bahwa Allah menciptakan malaikat dan manusia sebagai dua jenis makhluk yang berbeda, yaitu malaikat sebagai roh (Ibrani 1:14) dan manusia sebagai gabungan dari tubuh dan jiwa, meskipun jiwa manusia akan terpisah sementara dari tubuhnya pada saat kematian (Matius 10:28). Pada saat kebangkitan, orang benar akan menjadi seperti malaikat—karena mereka akan hidup kekal dan tidak lagi masuk dalam pernikahan—tetapi bukan berarti orang benar akan berubah menjadi malaikat (Lukas 20:34–36).
Kebangkitan orang mati merupakan bagian penting dari pengharapan iman Kristiani. Kristus yang bangkit dari kematian memiliki tubuh yang dapat disentuh, bukan sebagai roh belaka (Lukas 24:39). Ketika Ia kembali, Ia akan mengubah tubuh umat-Nya “sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia” (Filipi 3:21). Jika tidak ada kebangkitan orang mati, maka sia-sialah iman kita (1 Korintus 15:12–19). Tubuh orang-orang kudus yang telah ditaburkan seperti benih di tanah akan hidup kembali pada kedatangan Kristus, dengan kehidupan yang mulia dan kekal di dalam Kristus (1 Korintus 15:20–23, 42–44). Apa yang Paulus katakan bahwa “daging dan darah” tidak dapat mewarisi kerajaan Allah (1 Korintus 15:50) merujuk kepada umat manusia yang saat ini masih dalam keadaan “dapat binasa”, sehingga harus “diubah” agar dapat masuk ke dalam kemuliaan (1 Korintus 15:52–53).
Oleh karena itu, “kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah” di akhir zaman bukan berarti pelepasan dari tubuh jasmani, melainkan “pembebasan [/penebusan] tubuh” mereka (Roma 8:21, 23). Roh yang sama yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati juga berdiam di dalam mereka dan mempersatukan mereka dengan Kristus, sehingga orang-orang percaya juga akan dibangkitkan dari antara orang mati (Roma 8:11). Mereka tidak akan tinggal sebagai roh-roh halus tanpa wujud jasmani, melainkan sebagai manusia yang memiliki tubuh kelak di “langit yang baru dan bumi yang baru” (Wahyu 21:1). Di sana, mereka akan melihat dengan langsung Sang Allah Anak yang menjadi manusia, “Anak Domba” yang mati untuk dosa-dosa mereka, dan mereka akan melayani Allah Tritunggal untuk selama-lamanya sebagai nabi-nabi, imam-imam, dan raja-raja-Nya (Wahyu 22:3–5). Haleluya!
Joel R. Beeke adalah rektor dan profesor teologi sistematis dan homiletika di Puritan Reformed Theological Seminary; seorang pendeta di Heritage Reformed Congregation di Grand Rapids, Michigan; editor Banner of Sovereign Grace Truth; ketua dewan Reformation Heritage Books; presiden Inheritance Publishers; dan wakil presiden Dutch Reformed Translation Society.





