Allah Itu Penuh Kasih Karunia—Jadi Kita Tidak Perlu Membuktikan Diri
Saya terbaring terjaga hingga larut malam, mengulang-ulang percakapan itu dalam pikiran saya. Keesokan paginya, saya masih terus merenungkannya dengan resah. Pertemuan tim kami telah berkembang menjadi sesuatu yang kemudian digambarkan oleh putri saya sebagai “perang”.
Di tempat yang sama, pada waktu yang sama, tetapi pada malam sebelumnya, seorang perempuan di gereja kami datang kepada saya dengan pergumulan pastoral yang sangat berat. Malam itu, saya tidur nyenyak. Betapa anehnya! Saya bisa melupakan krisis yang nyata dan dengan senang hati menyerahkannya ke dalam tangan Allah, tetapi sebuah pertengkaran sepele justru sepenuhnya menyita pikiran saya. Keinginan saya untuk membuktikan bahwa saya benar telah menguasai diri saya. Itulah sebabnya saya turut berperan dalam menciptakan konflik tersebut sejak awal. Saya ingin membuktikan bahwa saya benar, maka saya terus berjuang. Kebenaran bahwa Allah penuh kasih karunia membebaskan saya dari pikiran yang berpusat pada diri sendiri itu. Saya tidak perlu membenarkan diri sendiri. Saya pun tidak mampu membenarkan diri sendiri. Tetapi Allah telah dengan penuh kasih karunia membenarkan saya melalui karya Kristus yang telah selesai. Allah adalah “Allah yang sudi mengampuni, yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya” (Nehemia 9:17).
Perumpamaan tentang anak yang hilang dalam Lukas 15 menyingkapkan kasih karunia Allah yang luar biasa. Meminta bagian warisannya sama artinya dengan adik bungsu itu mengatakan, “Aku berharap Ayah telah mati.” Menjual habis warisan itu merupakan tindakan yang memalukan karena berarti kehilangan tanah milik keluarga. Pindah ke kota lain merupakan penolakan terhadap keluarganya. Dan kita bahkan belum membahas kehidupannya yang liar berfoya-foya! Bagi seorang Yahudi yang saleh, memberi makan babi merupakan pekerjaan yang serendah-rendahnya, sebab babi adalah binatang najis, apalagi sampai ingin memakan makanan babi! Putra ini menggambarkan diri Anda dan saya. Kita telah berharap Allah mati, menolak kasih-Nya, dan menjauh dari-Nya sejauh mungkin. Kita berusaha melepaskan diri dari kasih dan akhirnya justru terpuruk di kandang babi, merindukan dipuaskan oleh sampah.
Namun, tindakan sang ayah yang penuh kasih karunia bahkan lebih mengejutkan. Hal ini tentu membuat para pendengar Yesus tercengang. Jika seorang anak meminta warisannya kepada ayahnya ketika ayahnya masih hidup, sang ayah akan menghapus hak waris anak tersebut. Jika seorang anak berusaha melepaskan diri dari kekuasaan ayahnya, sang ayah akan memukulnya. Jika seorang anak meninggalkan rumah untuk hidup liar berfoya-foya, sang ayah akan tidak mengakuinya lagi sebagai anak. Tetapi ayah yang ini berlari menemui anaknya yang kembali. Dia tidak menunggu anaknya menghormati dia, tetapi justru menghormati anak itu dengan jubah, cincin, dan pesta. Inilah Allah: memeluk kita, menyambut kita, menghormati kita.
Dahulu saya berpikir bahwa ketika saya mengecewakan Allah, mungkin saya akan mengalami hari yang buruk atau doa-doa saya tidak akan dijawab. Saya menganggap bahwa Allah akan bertindak sebagaimana saya bertindak ketika orang mengecewakan saya, yaitu bersikap dingin kepada mereka. Atau saya berpikir bahwa saya dapat menebus kesalahan dengan menjalani hari yang menyedihkan atau bersusah payah dalam doa, seolah-olah kematian Yesus belum benar-benar menyelesaikan semuanya. Ketika kita berpikir seperti ini, kita berdiri jauh dari Allah. Dan sepanjang waktu itu Dia sedang mencari kita, siap memeluk kita, siap menyambut kita pulang. Memang, sebagaimana diingatkan oleh perumpamaan-perumpamaan lain dalam Lukas 15, Allahlah yang mengambil inisiatif untuk membawa kita pulang (Lukas 15:3–10).
Jika kisah tentang adik bungsu tersebut menyingkapkan kasih karunia Allah, dalam diri kakaknya kita melihat banyak ciri orang yang sebenarnya tidak sungguh-sungguh percaya bahwa Allah adalah penuh kasih karunia.
1. Amarah yang Gelisah
“Tetapi ia menjadi marah dan ia tidak mau masuk” (Lukas 15:28). Dia marah karena adiknya dihormati seolah-olah adiknya yang benar. Seluruh kerja keras sang kakak tampak tidak ada artinya. Itulah skandal kasih karunia Allah. Tanpa kasih karunia, kita memandang hidup sebagai sebuah kontrak antara kita dan Allah: kita melakukan perbuatan baik, dan sebagai gantinya, Dia memberkati kita. Ketika segala sesuatu berjalan baik, kita dipenuhi kesombongan. Tetapi ketika segala sesuatu berjalan buruk, kita entah
- menyalahkan diri sendiri (kita merasa bersalah atau marah kepada diri sendiri) atau
- menyalahkan Allah (kita merasa getir dan marah kepada Allah).
Karena kita sering mengeluarkan Allah dari penjelasan kita, kemarahan terhadap Allah ini mungkin tidak jelas bentuknya. Kita bahkan tidak yakin mengapa kita marah.
Kenyataannya, kontrak atau perjanjian antara kita dan Allah sudah berbunyi, “Sudah lunas oleh darah Yesus.” Hanya ketika kita memahami kasih karunia Allah, kita dibebaskan untuk melayani Dia demi Dia sendiri, bukan demi upah.
2. Kewajiban Tanpa Sukacita
“Sudah bertahun-tahun aku melayani bapa” (Lukas 15:29). Secara harfiah, dia mengatakan bahwa dia telah “menjadi budak” bagi ayahnya. Sang kakak tidak menganggap dirinya “bermitra” atau “bekerja” bersama ayahnya, melainkan “menjadi budak”. Sekarang bayangkan seorang pengantin perempuan muda yang suaminya penuh perhatian, baik hati, dan penuh kasih. Apa pun yang disajikannya, sang suami menganggapnya luar biasa karena ia menerimanya dengan penuh kasih. Apakah pengantin perempuan yang dikasihi itu menganggap pekerjaannya sebagai beban yang menjemukan? Tentu saja tidak. Jika kita memandang Allah sebagai manajer yang tidak peduli, sikap kita akan diwarnai kewajiban yang dijalankan tanpa sukacita. Namun, ketika kita melihat-Nya sebagai Bapa yang penuh kasih karunia, kita akan terdorong untuk melayani-Nya dengan sukacita.
3. Kinerja yang Dilandasi Kecemasan
“Aku tidak pernah melanggar perintah bapa” (Lukas 15:29). Sang kakak ingin orang-orang mengetahui perbuatan-perbuatan baiknya karena dia sedang berusaha membuktikan dirinya. Ada orang-orang yang terus berusaha menunjukkan kinerja terbaik mereka hari demi hari, seperti para pemimpin Kristen yang berusaha menyampaikan khotbah yang luar biasa setiap minggu, para orang tua yang berusaha membesarkan anak-anak yang berperilaku baik, dan para pekerja yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk bekerja. Semua itu dilakukan dalam upaya mati-matian untuk membuktikan kemampuan diri. Pada minggu-minggu tertentu, mereka merasa telah berhasil melakukannya. Namun, pada minggu-minggu lainnya, semua pencapaian itu terasa begitu rapuh, seolah-olah semuanya bisa hancur berantakan sewaktu-waktu. Jadi mereka hidup dalam keadaan yang terus-menerus stres dan sibuk, selalu berusaha menghasilkan performa hebat berikutnya, selalu khawatir bahwa sandiwara itu akan terbongkar. Kebenarannya adalah bahwa kita tidak dapat membenarkan diri kita sendiri, tetapi kita memang tidak perlu melakukannya! Allah penuh kasih karunia: Dia merangkul kita seperti sang ayah merangkul anak yang hilang ketika anak itu kembali.
4. Perbandingan yang Angkuh
“Anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur” (Lukas 15:30). Inilah pertama kalinya pelacur disebutkan. Tetapi sang kakak menganggap hal itu untuk menggambarkan adiknya dengan gambaran yang seburuk mungkin. Kita menonjolkan kesalahan orang lain supaya kita terlihat lebih baik. Atau kita menyamarkan kesombongan sebagai kebaikan dan bersikap merendahkan orang lain. Kita menganggap kebenaran sebagai suatu tangga dan posisi kita di tangga itulah yang penting. Kita merasa baik tentang diri sendiri ketika kita dapat melihat orang-orang di bawah kita yang kurang saleh, kurang berpengetahuan, dan kurang berbuah. Tetapi kasih karunia Allah membalikkan penilaian kita. Kita semua berdiri bersama di kaki salib, sama-sama bersalah dan sama-sama diterima. Yesus menceritakan perumpamaan tentang anak yang hilang karena orang-orang Farisi menggerutu tentang Yesus yang menerima orang-orang berdosa dan makan bersama mereka (Lukas 15:1–2). Ternyata Anak Allah tidak tertarik pada kehormatan atau kebenaran diri; Dia tertarik kepada orang-orang berdosa yang bertobat. Yesus memang tepat untuk berpesta bersama orang-orang berdosa yang ternama, karena surga adalah pesta bagi orang-orang berdosa (Lukas 15:7, 10, 23–24).
Banyak dari kita meyakini bahwa pada hari terakhir kita akan dibenarkan, yakni dinyatakan tidak bersalah di hadapan Allah melalui kematian Yesus. Tetapi bagaimana dengan pembenaran hari ini dan besok? Apakah Anda masih berusaha membuktikan diri Anda?
- Apakah Anda pernah marah atau terus merenung setelah suatu pertengkaran karena Anda ingin membuktikan bahwa Anda benar?
- Apakah pelayanan Kristen Anda terasa seperti kewajiban tanpa adanya sukacita?
- Apakah Anda pernah merasakan tekanan untuk membuktikan diri?
- Apakah Anda melayani orang lain supaya Anda dapat merasa baik tentang diri sendiri atau membuat orang lain terkesan?
- Apakah Anda memandang rendah orang lain atau membesar-besarkan kegagalan mereka?
- Apakah Anda khawatir bahwa Anda tidak akan mencapai standar dalam hidup?
- Apakah Anda menikmati percakapan tentang kekurangan orang lain?
Kakak sulung tidak melihat dirinya sebagai anak sama sekali, melainkan sebagai budak. Sang ayah memiliki ketaatan kakak sulung, tetapi tidak memiliki kasihnya. Apakah Allah Bapa memiliki ketaatan Anda tetapi tidak memiliki kasih Anda?
Inilah kebenaran yang mengejutkan: Tanpa iman yang membenarkan, orang “tidak pernah melakukan sesuatu karena kasih kepada Allah, melainkan hanya karena kasih kepada diri sendiri atau takut akan kebinasaan.”¹ Ada tindakan-tindakan yang tampaknya seperti perbuatan baik, tetapi sebenarnya mencerminkan keyakinan bahwa cara terbaik untuk mendapatkan perkenanan Allah atau membuktikan diri kepada orang lain adalah melalui apa yang saya lakukan. Pada dasarnya, saya menyatakan diri saya sebagai juruselamat yang lebih baik daripada Yesus. Kita berpikir bahwa kita harus menyelesaikan apa yang belum diselesaikan oleh Kristus. Itulah sebabnya Yesus berkata, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah” (Yohanes 6:29). Hanya ada satu hal yang Allah ingin kita lakukan, yaitu percaya kepada Anak-Nya. Segala sesuatu yang lain akan mengalir dari kepercayaan itu.
Richard Lovelace menyatakan bahwa alasan utama orang-orang Kristen tidak berubah adalah kegagalan untuk sungguh-sungguh memahami anugerah Allah:
Orang-orang Kristen yang tidak lagi yakin bahwa Allah mengasihi dan menerima mereka di dalam Yesus, terlepas dari pencapaian rohani mereka saat ini, secara bawah sadar merupakan orang-orang yang sangat tidak aman. . . . Ketidakamanan mereka tampak dalam kesombongan, penegasan yang keras dan defensif terhadap kebenaran diri mereka sendiri, serta kritik defensif terhadap orang lain.²
Semuanya belum berakhir. Sang ayah pergi keluar untuk memohon kepada kakak sulung (Lukas 15:28). Dia menyambut anaknya yang hilang, dan dia juga menyambut anaknya yang merasa dirinya benar. Pada akhir kisah itu, sang kakak sulung masih berada di luar pesta. Kita dibiarkan bertanya-tanya apa yang akan dia lakukan. Hal itu memaksa kita bertanya-tanya apa yang akan kita lakukan, apa yang akan kita lakukan nanti. Akankah kita hidup dengan percaya bahwa Allah penuh kasih karunia?
Di dalam Bait Allah, pekerjaan pendamaian tidak pernah selesai. Para imam melakukannya hari demi hari (Ibrani 10:11–12). Tetapi pekerjaan Yesus sudah selesai. Dia telah melakukan segala sesuatu yang diperlukan. Jadi kita juga dapat duduk. Kita tidak perlu terus bangun dan sibuk melakukan pendamaian, membuktikan diri, memperoleh berkat Allah, dan mengejar performa.
Pandanglah Dia tersungkur di taman;
di tanah terbaring Pencipta Anda;
kemudian di pohon Kalvari pandanglah Dia,
dengarlah Dia berseru sebelum mati:
“Sudah selesai! Sudah selesai!”
Orang berdosa, bukankah ini cukup?³
Kesimpulan
Kita dapat jatuh ke dalam dosa ketika kita kehilangan perspektif secara drastis atau melupakan bahwa Allah itu agung dan baik. Tetapi itulah yang berulang kali kita lakukan. Kita melupakan Allah kita dan identitas yang telah Dia berikan kepada kita.
Perubahan terjadi melalui iman kepada Allah kita yang agung dan baik. Perubahan terjadi ketika kita memberitakan kebenaran kepada hati kita. Ini bukan berarti bahwa hal tersebut mudah. Yesus berkata, “Jangan takut, percaya saja!” (Markus 5:36), karena iman, dan hanya imanlah, yang membuat perbedaan. Tetapi “hanya” itu bukanlah hal yang kecil! Iman adalah pergumulan setiap hari. Kebohongan tentang Allah ada di sekeliling kita: dunia, daging, dan Iblis terus-menerus membisikkan kebohongan itu kepada hati kita. Ini adalah sebuah pergumulan. Tetapi hal itu juga sanggup dilakukan: “Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita” (1 Yohanes 5:4).
Apa artinya hal ini dalam praktik? Pertama, kita perlu memelihara kepercayaan kita kepada kebesaran Allah, rasa takut akan kemuliaan Allah, sukacita di dalam kebaikan Allah, kerinduan akan masa depan yang Allah sediakan, dan perhentian di dalam kasih karunia Allah. Kita perlu melakukan hal ini hari demi hari melalui firman, doa, dan komunitas Kristen.
Kedua, ketika kita menghadapi pencobaan, kita perlu berkata bukan hanya, “Saya tidak boleh melakukan ini,” tetapi juga, “Saya tidak perlu melakukan ini.” Ketika dicobai untuk iri hati, kita seharusnya berkata bukan hanya, “Saya tidak boleh iri hati,” tetapi juga, “Saya tidak perlu iri hati karena saya memiliki Kristus.” Ketika dicobai untuk khawatir, kita seharusnya berkata bukan hanya, “Saya tidak boleh khawatir,” tetapi juga, “Saya tidak perlu khawatir karena Allah memegang kendali.” Apa pun yang ditawarkan dosa, Allah lebih besar dan lebih baik. Berkata kepada pencobaan, “Saya tidak boleh melakukan ini,” adalah legalisme. Berkata, “Saya tidak perlu melakukan ini karena Allah lebih besar dan lebih baik,” adalah kabar baik.
Catatan:
Pengakuan Iman Belgia, pasal 24.
Richard F. Lovelace, Dynamics of Spiritual Life: An Evangelical Theology of Renewal (IVP Academic, 1979), 211–12.
Joseph Hart, “Come, Ye Sinners, Poor and Wretched” (1759). Domain publik.
Artikel ini diadaptasi dari You Can Change: God’s Transforming Power for Our Sinful Behavior and Negative Emotions karya Tim Chester.
Tim Chester (PhD, University of Wales) adalah direktur studi teologi dan dosen pembentukan rohani di Crosslands. Dia memiliki pengalaman lebih dari 25 tahun dalam pelayanan pastoral, serta merupakan penulis atau penulis bersama lebih dari empat puluh buku, termasuk A Meal with Jesus; Reforming Joy; dan, bersama Michael Reeves, Why the Reformation Still Matters.






