19 Mei 2020 | Crossway
Artikel ini merupakan bagian dari seri Ayat Kunci Alkitab.
1. Amsal 1:7
Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.
Ini adalah prinsip utama kitab ini: pencarian hikmat dimulai dengan takut akan Tuhan (lih. Mazmur 9:10 dan Mazmur 111:10, “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan”). “Pengetahuan” dan “hikmat” saling berkaitan erat dalam Amsal: “pengetahuan” cenderung berfokus pada pemahaman yang benar tentang dunia dan diri sendiri sebagai makhluk ciptaan Allah yang agung dan penuh kasih, sementara “hikmat” adalah keterampilan yang diperoleh untuk menerapkan pengetahuan itu dengan benar, atau “keterampilan dalam seni hidup yang saleh”. Mengenai takut akan Tuhan, lihat catatan pada Kisah Para Rasul 5:5; 9:31; Roma 3:18; Filipi 2:12–13; 1 Petrus 1:17; 1 Yohanes 4:18. Alasan mengapa takut akan Tuhan merupakan permulaan pengetahuan dan hikmat adalah karena kehidupan moral dimulai dengan rasa hormat dan kerendahan hati di hadapan Sang Pencipta dan Penebus. Gagasan tentang pencarian pengetahuan menempatkan hikmat Alkitab dalam konteks luas pencarian kebenaran di Timur Tengah, dan ayat ini juga meneguhkan bahwa pencarian tersebut sah dan baik. Dengan demikian, ini meneguhkan semacam “wahyu penciptaan,” yaitu gagasan bahwa seseorang dapat menemukan kebenaran moral dan teologis melalui pengamatan terhadap dunia.
Pada saat yang sama, ini membedakan pencarian pengetahuan dan hikmat dalam Alkitab dari budaya di sekitarnya, karena menegaskan bahwa ketundukan kepada Tuhan adalah dasar untuk memperoleh pemahaman yang sejati (lih. Maz. 111:10; Ams. 9:10). Dengan menggunakan nama perjanjian “Tuhan” dan bukan nama yang lebih umum “Allah,” ayat ini menegaskan bahwa kebenaran ditemukan melalui Allah Israel. Selain itu, ayat ini menegaskan bahwa orang bodoh meremehkan hikmat dan didikan, sehingga menetapkan perbedaan antara dua jalan yaitu hikmat dan kebodohan. Perbandingan ini mendominasi seluruh kitab, karena jalan hikmat, kebenaran, dan takut akan Tuhan dipertentangkan dengan jalan kebodohan, kejahatan, dan ejekan.
2. Amsal 3:5–6
Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.
Menyerahkan pemahaman diri sendiri kepada Tuhan sejalan dengan pokok utama Amsal, yaitu bahwa takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan. Kepercayaan kepada TUHAN diperlukan untuk memenuhi setiap cara hidup bijaksana yang diajarkan dalam Amsal; mempercayai Tuhan berhubungan erat dengan “takut” kepada-Nya (lih. Amsal 1:7; 2:5; Amsal 9:10; Amsal 15:33; Amsal 19:23; dll.). “Dengan segenap hatimu” menunjukkan bahwa kepercayaan yang diberikan melampaui persetujuan intelektual, suatu bentuk ketergantungan dan keyakinan yang teguh akan perhatian-Nya dan kesetiaan-Nya akan firman-Nya. “Jangan bersandar kepada pengertianmu sendiri” menjelaskan lebih lanjut tentang percaya kepada Tuhan. “Pemahaman” seseorang dalam Amsal adalah persepsinya tentang tindakan yang benar. Orang bijak akan mengatur diri mereka berdasarkan apa yang dinyatakan oleh Tuhan sendiri, dan tidak akan menentang pengertian-Nya dengan pemahaman mereka yang terbatas dan sering salah.
Membuat jalan seseorang menjadi lurus berarti menjadikan arah hidupnya terus bergerak menuju suatu tujuan. Dalam Amsal, penekanannya terletak pada kualitas moral dari jalan hidup seseorang (di sini, “kelurusan” moralnya).
3. Yakobus 1:5
Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, – yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit –, maka hal itu akan diberikan kepadanya.
Orang percaya harus memiliki iman yang tak terbagi, memohon hikmat dari Allah yang maha bijaksana dan maha murah hati. Yakobus berbicara kepada orang percaya yang kekurangan hikmat dalam menghadapi ujian. Hikmat, seperti dalam Perjanjian Lama, adalah kebijaksanaan tentang masalah praktis dalam hidup yang diberikan oleh Tuhan dan berpusat pada Tuhan. Kebijaksanaan datang dari doa memohon pertolongan Allah. Allah memberi dengan murah hati (dengan kemurahan hati yang “berfokus”) dan tanpa mencela (Dia tidak ingin siapa pun ragu untuk datang kepada-Nya).
Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka. Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka. Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.
Paulus tidak menyuruh orang Kristen untuk menghindari semua kontak dengan orang yang tidak percaya tetapi untuk menghindari bergabung dengan mereka dalam dosa mereka. Alkitab memberikan prinsip-prinsip umum untuk kehidupan, tetapi para pengikut Kristus harus menggunakan hikmat untuk memahami cara menerapkan prinsip-prinsip tersebut pada masalah-masalah konkret dalam kehidupan mereka. Kitab Amsal sangat membantu dalam hal ini. Hikmat tersebut dapat diartikan sebagai “keahlian dalam hidup yang saleh,” yang harus dipertimbangkan, diterapkan, dan dipraktikkan agar dapat hidup dengan cara yang menyenangkan Tuhan.
Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.
Iman Kristen bukanlah kepercayaan rohani yang mudah tertipu.. Pengaruh-pengaruh rohani yang tidak kelihatan, yang membimbing perkataan dan tindakan seseorang, dapat “diuji” dengan memperhatikan ajaran dan perilaku mereka, serta melalui karunia pembedaan rohani (lih. 1 Kor. 12:10; 14:29). Nabi palsu adalah orang-orang yang mengaku berbicara atas nama Allah tetapi sebenarnya berbicara dengan pengaruh setan (1 Yohanes 4:3–4). Dalam era “toleransi” saat ini, ketajaman dalam membedakan dapat dianggap sebagai sikap menghakimi (lih. “Jangan menghakimi,” Mat. 7:1). Namun Yesus juga mengajarkan, “Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.” (Yohanes 7:24).
6. Roma 12:2
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Zaman jahat saat ini masih mengancam mereka yang menjadi milik Kristus, jadi mereka harus melawan tekanannya. Hidup mereka diubah saat pikiran mereka diperbarui (bandingkan Roma 1:28), sehingga mereka mampu “membedakan” kehendak Allah. Dengan menguji, Anda dapat memahami terjemahan kata Yunani dokimazō, yang sering kali memiliki arti mengetahui suatu nilai dengan cara menggunakannya atau mengujinya dalam praktik nyata (lih. Lukas 14:19; 1 Korintus 3:13; 2 Korintus 8:22; 1 Timotius 3:10).
Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan. Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran! Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan. Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai.
Ayat-ayat ini dapat disebut “kisah dua kota”—kerajaan hikmat (yang membingkai bagian dalam Yakobus 3:13, 17) yang dipertentangkan dengan ambisi yang egois. Yang “dari atas” membawa “kedamaian,” sedangkan yang “dari dunia” membawa “kekacauan.”
Kebijaksanaan bagi Yakobus tidak hanya intelektual tetapi juga perilaku. Kelemahlembutan (bahasa Yunani prautēs, diterjemahkan “kelembutan” dalam Galatia 5:23) dianggap sebagai kelemahan oleh orang Yunani, tetapi Yesus mengangkatnya menjadi salah satu kebajikan utama umat Kristen (Matius 5:5; 11:29). Kelemahlembutan tidak berasal dari ketakutan atau kepasifan, melainkan dari kepercayaan kepada Allah dan karena itu dibebaskan dari dorongan diri yang cemas untuk mencari pengakuan.
8. Matius 7:24
Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.
Sebuah perumpamaan mengakhiri Khotbah di Bukit saat Yesus meminta para pendengarnya untuk memutuskan antara Dia dan lembaga keagamaan, menggambar garis pemisah antara diri-Nya dan dasar hidup lainnya. Bukti apakah seseorang benar-benar seorang percaya terletak pada apakah seseorang melakukan perkataan Yesus (lih. Yakobus 1:22–23 dan Yakobus 2:20–22). Murid-murid yang membangun kehidupan mereka di atas dasar Yesus dan pesannya tentang kerajaan surga adalah orang-orang yang benar-benar bijaksana, terlepas dari perubahan budaya atau agama.
Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus.
Permohonan pertama dalam doa Paulus adalah agar Tuhan menjadikan kebajikan utama Kristen, yakni kasih, makin berlimpah dan disertai dengan pengetahuan dan segala macam kebijaksanaan, sehingga kasih jemaat Filipi dapat dinyatakan dalam tindakan-tindakan bijaksana yang sungguh-sungguh memberi manfaat kepada orang lain dan memuliakan Allah. Saat orang Kristen bertumbuh dalam pemahaman mereka tentang apa artinya mengikuti Yesus, mereka akan semakin mampu menegaskan dan mempraktikkan apa yang terbaik. Ketaatan yang penuh sukacita kepada Tuhan akan memberi mereka keyakinan bahwa mereka akan ditemukan murni dan tak bercacat saat Yesus datang kembali. Hal ini tidak berarti kesempurnaan rohani yang instan, melainkan semakin serupa dengan Kristus. Tetapi buah kebenaran tidak dihasilkan dengan kekuatan orang percaya itu sendiri. Karena buah itu datang melalui Yesus Kristus, itu akan menghasilkan kemuliaan dan pujian bagi Allah.
10. Roma 11:33–35
O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!
Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?
Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?
Saat mengakhiri penjelasan tentang rencana besar Allah dalam sejarah keselamatan (Roma 1–11), Paulus memuji Allah. Hikmat dan jalan Allah jauh melampaui pemahaman manusia, oleh karena itu Dia layak menerima segala kemuliaan.
Perkataan Yesaya 40:13 mengajarkan bahwa tidak seorang pun dapat mengetahui pikiran Tuhan selain melalui pewahyuan, dan tidak seorang pun dapat menjadi penasihat Tuhan. Demikian pula kata-kata agung di Ayub 41:11 mengigatkan bahwa pada akhirnya tidak ada seorang pun yang memberikan apa pun kepada Allah. Sebaliknya, segala sesuatu yang dimiliki manusia adalah anugerah dari Allah (1 Kor. 4:7).
Karena segala sesuatu berasal dari Allah, oleh Allah, dan untuk Allah, maka Dia layak menerima segala kemuliaan sampai selama-lamanya. Rencana keselamatan Allah mendatangkan kehormatan, pujian, dan kemuliaan yang besar bagi Dia selama-lamanya.






