Resistensi Digital: Tiga Kebiasaan di Era Internet 

Selama beberapa tahun terakhir, saya telah mempelajari bagaimana teknologi Internet membentuk cara kita berpikir, perasaan, dan kehidupan rohani. Ketika membahas buku saya Digital Liturgies, orang sering bertanya, “Apa yang harus kita lakukan tentang ini?”

Pertanyaan ini sulit karena lebih mudah mengidentifikasi masalah daripada menemukan solusi praktis. Reaksi pertama kita saat membahas kehidupan digital sering kali adalah mencoba hal-hal yang tidak mungkin: menghentikan kemajuan teknologi atau membalikkan dampaknya. Bahkan jika kita menghapus semua akun dan perangkat kita, itu tidak akan mengubah dunia kehidupan kita. Kesetiaan kepada Yesus tidak berarti mencoba kembali ke masa lalu. Jadi, ketika orang bertanya, “Apa yang harus kita lakukan?” Kita harus fokus pada perlawanan, bukan mundur.

Pengaruh Internet sudah begitu mendalam dalam kehidupan modern sehingga kita tidak bisa sepenuhnya menghindarinya. Namun, kebiasaan yang membuat ketergantungan online begitu kuat juga adalah apa yang membuat perlawanan terhadapnya efektif. Jika Tuhan menciptakan kita sebagai makhluk fisik yang perlu hidup di dunia nyata, maka terlibat dengan dunia nyata bukanlah trik yang harus kita buat, melainkan sesuatu yang sesuai dengan sifat kita yang diciptakan.

Perlawanan secara analog berarti menjalankan kebiasaan yang sesuai dengan kebutuhan dasar kita sebagai makhluk ciptaan Allah. Berikut adalah tiga kebutuhan tersebut dan kebiasaannya.

Kebutuhan #1: Kata-kata Abadi 

Zaman Internet membombardir kita dengan kata-kata. Di pagi hari, orang sering meraih ponsel mereka, yang menampilkan berita, pembaruan, atau pesan sebelum mereka bangun dari tempat tidur. Tidak ada batasan untuk jenis informasi yang bisa kita terima di zaman digital ini.

Karena apa yang kita pikirkan membetuk postur hati kita, banjir informasi online membuat kita sangat membutuhkan sesuatu yang tetap: dasar kebenaran yang kokoh untuk menangkis tren terbaru, godaan, dan kekhawatiran, yang dengan cepat menjadi sesuatu yang tidak bertahan lama.

Kebiasaan 1: Renungkan Kitab Suci setiap hari. 

Kitab Suci adalah dasar yang kokoh itu. Kata-kata dari Alkitab, yang berasal langsung dari Sang Pencipta, memberikan rasa kekekalan. Bayangkan bangun setiap hari di tempat baru, di samping orang yang berbeda, dan melakukan pekerjaan yang berbeda. Meskipun tampaknya menarik pada awalnya, kita akan cepat merasa putus asa karena kurangnya kestabilan. Mengapa kita tidak mengharapkan kekosongan spiritual yang sama ketika pikiran kita sehari-hari terus berubah?

Merenungkan Kitab Suci setiap hari membantu kita melawan ketidakstabilan zaman digital. Ketika dengan secara rutin kita kembali kepada Firman yang tidak berubah, kita membangun dasar yang kuat yang tidak bisa diganggu oleh konsumsi media. Kontroversi yang memicu kemarahan saat ini menjadi kurang penting dibanding perintah untuk tinggal diam dan tenang (Amsal 17:27-28). Sumber kecemasan akan terasa kurang menakutkan ketika kita mengingat orang-orang kudus yang telah mendahului kita yang menghadapi bahaya yang lebih besar, namun tidak pernah menyerah (Ibrani 12:1). Lawan kekhawatiran kosong dari budaya dengan Firman yang abadi.

Kebutuhan #2: Perhatian yang Terarah pada Tuhan 

Kitab Suci menekankan pentingnya di mana kita memfokuskan perhatian kita. Musa memerintahkan orang Israel untuk tidak hanya mengingat firman Tuhan, tetapi juga mengikuti festival, ritual, dan aturan tentang makanan serta pakaian yang secara terus-menerus mengingatkan mereka akan identitas dan asal-usul mereka (Ulangan 11:18–19; 12 :10–12). Sastra hikmat menekankan pentingnya mendengarkan pengajaran yang benar (Amsal 4:20), dan penulis Ibrani mendorong kita untuk memperhatikan Injil dengan lebih serius lagi (Ibrani 2:1). 

Perhatian adalah sumber daya yang terbatas. Terlepas dari apa yang sering kita katakan, “multitasking” sebenarnya tidak efektif; untuk benar-benar fokus pada sesuatu, kita harus sementara waktu mengalihkan perhatian dari hal-hal lain. Di era digital, perhatian kita tidak hanya tersebar tipis, tetapi juga secara aktif dieksploitasi oleh perusahaan online. Berjuang untuk mengarahkan perhatian kita dengan benar seperti berenang melawan arus budaya online.

Kebiasaan 2: Mengadopsi struktur yang disengaja. 

Dalam bukunya The Tech-Wise Family, Andy Crouch menyarankan agar kita tidak hanya bertekad untuk menggunakan teknologi dengan lebih baik, tetapi juga menerapkan perubahan fisik dalam hidup kita untuk mempermudah penggunaan perhatian yang bijaksana dan menyulitkan penggunaan yang tidak bijaksana. Ini bisa berarti menyimpan ponsel di ruangan terpisah di malam hari agar lebih sulit dijangkau di pagi hari, memindahkan penggunaan komputer ke ruang keluarga bersama, dan menggunakan aplikasi yang memblokir konten yang mengalihkan perhatian atau adiktif. Tujuannya adalah agar penggunaan teknologi kita mencerminkan apa yang benar-benar penting. 

Kebutuhan #3: Istirahat yang Tenang 

Dalam bukunya And So to Bed: A Biblical View of Sleep, Adrian Reynolds mengamati bahwa tidur, secara teologis, mengingatkan kita pada kematian, karena tidur mirip dengan kematian. Namun, Alkitab mengatakan bahwa Allah “memberikan tidur kepada yang dikasihiNya” (Mazmur 127:2). Bagaimana mungkin sesuatu yang membuat kita rentan dan menghentikan produktivitas kita bisa menjadi sebuah anugerah? Karena ketika kita tidur maupun dalam kematian sekalipun tidaklah dapat menghentikan kedaulatan Allah untuk tetap memelihara kita dan dunia-Nya. Meskipun kita berhenti dari kesibukan mental dan fisik, kuasa dan kasih Allah tetap berlanjut.

Kebiasaan 3: Beristirahatlah secara teratur. 

Di era digital, kita bisa melawan dengan mengadopsi dua bentuk istirahat yang penting. Pertama, kita bisa memilih untuk tidur daripada mengonsumsi konten digital. Pendiri Netflix menyebutkan bahwa tidur adalah pesaing terbesar mereka. Ini bukan hanya lelucon. Hiburan digital cenderung menggoda kita untuk mengabaikan tidur dan terus menonton atau scrolling. Ini telah menyebabkan apa yang disebut sebagai “utang tidur” pada generasi muda, yang mengakibatkan kesehatan fisik dan emosional yang buruk.

Coba lihat kebiasaan Anda sendiri. Apakah Anda bangun dengan merasa lelah? Apakah Anda sering terlalu lelah untuk bekerja dengan baik, untuk membantu orang lain, atau mengasuh anak dengan sabar dan penuh kasih? Apakah kebiasaan menggunakan ponsel atau menonton sudah mengganggu Anda untuk menikmati karunia tidur dari Allah.

Cara kedua untuk melawan adalah dengan berhenti mengonsumsi konten online selama jangka waktu tertentu. Cara terbaik adalah dengan bantuan orang lain. Contohnya, hanya istri saya yang mengetahui password Twitter saya, sehingga saya tidak bisa login dengan sendiri. Ini membatasi seberapa sering saya menggunakan Twitter dan membuat penggunaannya transparan kepada istri. Istri saya bisa melihat seberapa sering saya memintanya untuk login dan juga dapat mengingatkan akan komitmen yang telah saya buat. Ini bukan solusi ajaib, tetapi telah membuat perbedaan yang signifikan dalam hidup saya.

Secara teratur berhenti mengonsumsi digital untuk kembali terhubung dengan dunia nyata dan orang-orang di sekitar Anda. Bagi saya, kebiasaan ini memiliki dampak terbesar dan tercepat. Jika Anda sering merasa seperti tenggelam dalam liturgi digital, mengambil istirahat yang disiplin untuk beristirahat bisa menjadi cara yang baik. Belajarlah untuk mematikan dunia digital dan nikmati karunia istirahat. Anda mungkin menemukan rasa ketenangan dan kebebasan baru, dan pengalaman ini dapat mengingatkan Anda pada hal-hal terpenting dalam hidup dan kasih Sang Juru Selamat.

Samuel James adalah seorang editor akuisisi madya di Crossway Books. Ia adalah seorang penulis buku berjudul Digital Liturgies. Ia tinggal di Wheaton, Illinois, Amerika Serikat bersama istrinya Emily dan putranya Charlie.

Tags :

Langganan Newsletter

Jangan lewatkan artikel, renungan yang mendalam, berpusat pada Injil, dan meninggikan Kristus. Kami hadirkan panduan untuk hidup Kristen Anda setiap minggu.

Layanan Pelanggan

Ikuti Kami

Dapatkan informasi terbaru dari Living Word melalui media sosial kami. Klik icon yang ada dibawah ini

Copyright ©Living Word (PT Berita Baik Indonesia). All Rights Reserved

Discover more from Living Word

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading