Banyaknya Manfaat Memberitakan Yesus

Oleh: Joe M. Allen III24 Januari 2025.

Menghias pohon Natal dengan lampu sempat menjadi hal yang sangat merepotkan. Jaman sekarang, tidak menjadi masalah jika satu bohlam pada rangkaian lampu Natal padam — lampu lainnya tetap menyala karena dihubungkan pada seri paralel. Tetapi ketika saya kecil, lampu pohon Natal menggunakan rangkaian seri, jadi jika satu bohlam padam, seluruh rangkaian lampu akan padam. Satu-satunya cara mengetahui bohlam yang padam adalah dengan susah payah membuka setiap bohlam dan mencoba bohlam yang berfungsi pada setiap soket hingga Anda menemukan bohlam yang rusak. Hanya setelah mengetahui dan mengganti bagian yang rusak, seluruh rangkaian lampu dapat menyala.

Disiplin-disiplin Kristen saling berinteraksi dan memperkuat satu sama lain, layaknya rangkaian seri pada sistem kelistrikan. Mungkin Anda telah setia dalam belajar Alkitab atau berdoa, tetapi Anda masih merindukan kebangkitan dalam hati Anda. Anda ingin mengalami semangat supranatural dalam perjalanan Anda bersama Kristus. Anda mungkin merasa ada yang kurang — bohlam yang padam — dan terobosan menanti jika saja Anda dapat mengetahui apa yang membuat rangkaian lampu itu terputus.

Banyak orang Kristen memiliki satu ‘bohlam’ yang padam, yang secara khusus meredupkan kehidupan rohani mereka yaitu, kurangnya penginjilan.


Disiplin yang Sangat Terabaikan

Jika kita ingin bertumbuh secara rohani, kita perlu menjadikan penginjilan sebagai bagian dari ritme kehidupan. Mengapa? Karena Alkitab memberi peringatan tentang seorang yang hanya menjadi pendengar Firman dan tidak menjadi pelaku (Yakobus 1:22-25; Ibrani 5:12-14). Terus-menerus belajar tanpa pernah berbagi akan mengubah hidup Anda menjadi rawa rohani, bukannya menjadi sungai, saluran, atau sarana berkat yang Tuhan maksudkan bagi Anda. Seperti yang sering seorang teman saya katakan, “Hati-hati, jangan sampai pengetahuanmu melebihi ketaatanmu.”

Dan salah satu cara terbaik untuk memperkaya iman Anda dalam Injil adalah dengan memberitakannya kepada orang lain. Ketika kita memikirkan disiplin rohani, kita biasa menganggapnya sebagai membaca Alkitab, berdoa, bermurah hati, beribadah, bersekutu, melayani, dan bahkan berpuasa. Sering kali, kita lupa menganggap penginjilan sebagai sebuah disiplin rohani. Saat kita menerima bahwa penginjilan bukanlah kegiatan yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang elit atau yang memiliki karunia khusus, melainkan panggilan bagi semua orang Kristen (Matius 28:19; Kolose 4:5-6), kita akan menemukan bahwa hal ini memiliki banyak berkat yang tak terduga.

Karena penginjilan adalah usaha teologis, relasional, dan praktis yang melibatkan seluruh diri seseorang, maka penginjilan dapat secara unik memberi energi pada disiplin rohani lainnya, sebuah dinamika yang saya sebut “berkat tambahan dari penginjilan.” Dalam perang, kerugian tambahan terjadi ketika serangan terhadap sasaran militer secara tidak sengaja melukai warga sipil atau menghancurkan sekolah atau rumah sakit di dekatnya. Sebaliknya, berkat tambahan terjadi ketika ketaatan dalam memberitakan Injil secara tak terduga mendatangkan manfaat bagi aspek-aspek lain kehidupan rohani Anda. Berkat penginjilan datang kepada mereka yang tidak hanya membicarakannya tetapi melakukannya. Jadi pikirkanlah sembilan berkat tambahan dari mempraktikkan penginjilan secara rutin.


Sembilan Berkat Tambahan dari Penginjilan

1. Kehidupan Doa yang Mendalam

Ketika Anda mulai memberitakan Injil kepada orang lain, Anda mengingat bahwa hanya Roh Kudus yang dapat mengubah hati, sehingga Anda terdorong untuk berdoa memohon pekerjaan-Nya yang menjamah dan memperbaharui. Anda memohon kepada Roh Kudus untuk memberi kata-kata yang Anda butuhkan saat berdoa. Para penginjil menghadapi tantangan besar dari Setan dan pengikutnya, karena upaya mereka menyebarkan kebenaran mengusik kekuatan kegelapan. Peperangan rohani akan mempertajam kesadaran Anda akan ketergantungan Anda kepada Allah dan mendorong Anda untuk berdoa.

2. Kerinduan akan Kitab Suci

Saat Anda mulai menginjil, Anda mungkin mengetahui beberapa ayat Injil yang kuat, seperti Yohanes 3:16 dan Roma 6:23 — dan puji Tuhan bahwa beberapa ayat Alkitab saja sudah cukup untuk menuntun seseorang untuk percaya. Namun Anda tidak akan merasa puas hanya dengan beberapa alat yang Anda miliki; Anda akan ingin mengumpulkan sebanyak mungkin ayat-ayat Injil.

3. Hidup Kudus

Anda menyadari bahwa jiwa sangat berharga, jadi Anda tidak ingin dosa apa pun dalam hidup Anda menghalangi efektivitas Anda sebagai penginjil atau menghalangi Anda untuk sepenuhnya siap dalam apa pun yang dikerjakan (2 Timotius 3:17). Anda akan memupuk rasa lapar dan haus akan kebenasan dan bertumbuh untuk semakin membenci dosa.

Saat Anda berfokus pada diri sendiri, Anda cenderung menjadi lesu, gelisah, dan egois. Penginjilan mengarahkan perhatian Anda kepada orang lain. Hal itu menumbuhkan kasih di hati Anda terhadap mereka yang tersesat sehingga membentuk pilihan gaya hidup Anda.

4. Teologi yang Lebih Dalam

Ketika seseorang menghentikan upaya penginjilan Anda dengan mengutip kata-kata singkat dari YouTube atau TikTok, Anda perlu menguasai teologi secara mendalam. Pertanyaan seputar sifat dan karakter Allah tidak lagi bersifat teoritis, tetapi sangat relevan dengan percakapan penginjilan Anda. Para teolog ingin mengenal Allah, dan para penginjil ingin orang lain mengenal Allah. Matius Barrett menggabungkan kedua hal ini ketika dia menulis, “Menatap keindahan Tuhan adalah ambisi utama seorang teolog, tetapi tugas seorang teolog tidak akan utuh jika tatapan surgawinya hanya untuk dirinya sendiri.”

Teologi yang benar mendorong kita untuk memberitakan Injil, karena siapa pun yang terpesona oleh keagungan Allah akan rindu melihat orang lain mengalami sukacita yang datang dari pengenal Allah. Ada sebuah kerinduan yang mengalir untuk memberitakan Injil. Bukan hanya itu saja, para penginjil juga menempatkan orang percaya baru pada suatu jalur teologis tertentu. Oleh karena itu, penting bagi mereka untuk memberikan dasar teologis yang kokoh. Seperti yang pernah dikatakan salah seorang profesor saya, “Para penginjil adalah teolog garis depan.”

5. Apologetika yang Aktif

Anda tidak pernah tahu siapa yang Anda temui, jadi Anda ingin dapat memberikan jawaban yang bijaksana dan meyakinkan terhadap segala sanggahan yang mungkin terjadi dari budaya dan agama lain. Menjadi ahli dalam setiap pandangan hidup adalah hal yang mustahil, dan tujuannya bukanlah untuk mengalahkan orang lain dalam berdebat. Namun, memiliki pemahaman yang luas tentang berbagai sudut pandang menunjukkan kepedulian dan rasa hormat terhadap sesama. Selain itu, memahami berbagai sudut pandang memungkinkan kita menyampaikan Injil dengan cara yang lebih relevan dan bermakna bagi pendengar kita (1 Korintus 9:19–23). Tentu saja, Anda tidak seharusnya menunggu hingga menjadi ahli untuk berbicara, tetapi jangan pula terus berada di situ. Allah memberkati persiapan yang rendah hati, bukan keangkuhan.

6. Sukacita Lebih

Adalah salah satu pengalaman paling menggembirakan yang pernah Anda alami ketika Anda dipakai oleh Allah untuk menuntun seseorang mengenal Yesus. Tidak ada manusia yang dapat menciptakan pertobatan sejati, tetapi penginjil dapat berperan sebagai bidan rohani saat orang-orang dilahirkan kembali. Mereka yang hanya berada di zona nyaman sesungguhnya melewatkan sukacita yang datang ada dari memberitakan Injil keselamatan.

7. Kasih untuk yang Terhilang

Mudah bagi kita untuk mengurung diri dari dunia, dan lupa bahwa kita dipanggil untuk menjadi garam dan terang. Penginjilan mengingatkan Anda bahwa masih banyak orang yang terjerat oleh iblis (2 Timotius 2:26) dan diperbudak oleh nafsu duniawi (Titus 3:3) — sama seperti yang pernah Anda alami. Karena sangat berhubungan dengan relasi, penginjilan memberikan kesempatan untuk menjalankan Hukum Kedua yang Terbesar, yaitu mengasihi sesama seperti diri sendiri (Matius 22:39). Salah satu tindakan paling penuh kasih yang bisa Anda lakukan untuk orang lain adalah membagikan Injil kepada mereka. Saat Anda membagikan Injil, Anda akan semakin peduli terhadap pergumulan, kebingungan, pertanyaan, dan kesulitan yang dialami oleh mereka yang belum mengenal Kristus.

8. Harapan Surgawi

Injil adalah pesan harapan yang tertinggi. Injil mengarahkan kembali pandangan surgawi Anda. Semakin Anda mendengar Injil, semakin Anda memandang ke surga. Ketika Anda mengabarkan Injil, Anda tidak hanya menyatakan harapan ini kepada mereka yang jauh dari Tuhan tetapi juga mengingatkan diri Anda sendiri kebenaran itu. Semakin Anda menghayati Injil, semakin mudah bagi Anda untuk menampaikannya. Semakin Anda menghargai kasih Tuhan yang dinyatakan melalui kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus, semakin penginjilan menjadi luapan sukacita dari pengalaman yang semakin dalam akan kasih-Nya.

9. Kemuliaan Allah

Allah dipermuliakan ketika hidup kita berbuah (Yohanes 15:8). Seperti tulisan J.I. Packer, “Kita memuliakan Allah dengan penginjilan bukan hanya karena penginjilan merupakan tindakan ketaatan, tetapi juga karena dalam penginjilan kita memberi tahu dunia tentang hal besar yang telah Allah lakukan untuk keselamatan orang berdosa. Allah dipermuliakan ketika karya-karya anugerahNya yang besar dinyatakan” (Evangelism and the Sovereignty of God, 75). Terutama ketika kita menyampaikannya dengan sukacita yang nyata.


Belajar, Mengasihi — dan Bekerja

Pemuridan melibatkan keutuhan seorang pribadi: kepala, hati, dan tangan. Murid-murid perlu belajar, mengasihi – dan bekerja agar orang lain belajar apa yang mereka telah pelajari dan mengasihi apa yang mereka kasihi. Mereka membutuhkan informasi, kasih sayang, dan penerapan. Pendekatan yang terlalu sempit hanya akan menghasilkan murid yang terhambat dan tidak berkembang dengan baik. Seluruh pribadi harus disucikan.

Tentu saja, penginjilan bukanlah satu-satunya yang dibutuhkan untuk melakukan pemuridan yang sehat, tetapi itu adalah hal yang sering diabaikan. Penginjilan merupakan alat yang ampuh untuk pemuridan karena menggerakkan orang percaya untuk bertumbuh dalam pengetahuan, kasih, dan ketaatan. Setelah menjadi bagian dari ritme kehidupan seorang percaya, penginjilan menciptakan banyak manfaat tambahan yang luar biasa.

Joe M. Allen III and his family served in south Asia in Muslim and Hindu contexts for fourteen years. Joe now serves as the chair of missions and evangelism at Midwestern Baptist Theological Seminary in Kansas City.

Tags :

Langganan Newsletter

Jangan lewatkan artikel, renungan yang mendalam, berpusat pada Injil, dan meninggikan Kristus. Kami hadirkan panduan untuk hidup Kristen Anda setiap minggu.

Layanan Pelanggan

Ikuti Kami

Dapatkan informasi terbaru dari Living Word melalui media sosial kami. Klik icon yang ada dibawah ini

Copyright ©Living Word (PT Berita Baik Indonesia). All Rights Reserved

Discover more from Living Word

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading