Artikel ini merupakan bagian dari Tough Passagesseries (Bagian-Bagian Alkitab yang Sulit)
Bacalah Bagian Alkitab Ini
1 Ucapan ilahi. Firman TUHAN kepada Israel dengan perantaraan Maleakhi. 2 “Aku mengasihi kamu,” firman TUHAN. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah Engkau mengasihi kami?” ”Bukankah Esau itu kakak Yakub?” demikianlah firman TUHAN. “Namun Aku mengasihi Yakub, 3 tetapi membenci Esau. Sebab itu Aku membuat pegunungannya menjadi sunyi sepi dan tanah pusakanya Kujadikan padang gurun.” 4 Apabila Edom berkata: “Kami telah hancur, tetapi kami akan membangun kembali reruntuhan itu,” maka beginilah firman TUHAN semesta alam: “Mereka boleh membangun, tetapi Aku akan merobohkannya; dan orang akan menyebutkannya daerah kefasikan dan bangsa yang kepadanya TUHAN murka sampai selama-lamanya.” 5 Matamu akan melihat dan kamu sendiri akan berkata: “TUHAN maha besar sampai di luar daerah Israel.”
—Maleakhi 1:1–5 (Alkitab Terjemahan Baru 1974)
Kepengarangan Ilahi
Ayat pertama dari kitab Maleakhi tidak sekadar memberikan informasi tentang penulis manusia kitab ini. Setiap kata mendukung asal-usul dan otoritas ilahi seisi pesan yang disampaikan. Kata yang diterjemahkan sebagai “ucapan ilahi” sering kali menjadi tajuk nubuatan-nubuatan tertulis (misalnya: Yesaya 13:1, 15:1, 17:1) dan kata ini secara harfiah berarti “beban” (lihat Bilangan 4:47, 11:11), yang menyatakan suatu hal yang mendesak. Beban ini diartikan secara lebih lanjut sebagai firman Tuhan (lihat 2 Petrus 1:21) yang disampaikan melalui perantara manusia. Firman ini merupakan pernyataan penuh kuasa dari Sang Raja yang selalu berhasil bekerja dalam sejarah untuk membentuk segala peristiwa sesuai dengan kehendak-Nya (Yesaya 55:11, Yeremia, 1:9–10; 23:29). Firman ini ditujukan kepada Israel; akan tetapi, saat Maleakhi hidup, hanya keturunan Yehuda yang tersisa. Komunitas pascapembuangan merupakan pewaris dari seluruh janji Allah kepada Israel.
Perkataan pertama yang Allah nyatakan melalui Maleakhi bukanlah untuk mengumbar dosa Israel (tidak seperti Yesaya 1:2–3, Yeremia 2:1–3, Yehezkiel 2:3–4) tetapi untuk menyatakan kasih-Nya (‘hb) kepada mereka. Kata ini menggambarkan kasih yang mendalam dan kesetiaan dalam berbagai bentuk relasi manusia, seperti pernikahan (Kejadian 24:67), hubungan antara orang tua dan anak (Kejadian 25:28), dan pertemanan karib (1 Samuel 20:17). Kata ini juga mengingatkan Israel kembali akan janji Tuhan di masa lampau yang tertulis di dalam Pentateukh; Allah telah mengasihi nenek moyang bangsa Israel dan telah memilih mereka (Ulangan 4:37; 10:15); Ia menunjukkan kasih-Nya dengan memberkati mereka dan membuat mereka menjadi banyak (Ulangan 7:13). Kasih-Nya berdaulat dan tidak bersyarat, nyata tanpa suatu alasan pun selain karena sifat Allah yang pengasih dan setia. Bentuk perfektif kata kerja yang dipakai menyatakan kasih Allah sebagai perbuatan yang menyeluruh dan paripurna. Allah memulai kitab yang dipenuhi perdebatan ini dengan menyatakan kasih-Nya yang tidak berubah dan berkekalan bagi umat-Nya.
Kata yang diterjemahkan sebagai “bagaimanakah” terkadang merujuk kepada bukti eksternal bahwa suatu tindakan telah atau akan terjadi (Kejadian 15:8; Keluaran 33:16). Pendengar Maleakhi tidak melihat bukti kasat mata kasih Tuhan kepada mereka. Mereka merasa telah amat tidak dikasihi—dan, seperti yang akan kita lihat, perasaan ini bukannya tidak berdasar sama sekali. Namun, tujuan Maleakhi menyingkapkan kesangsian tergelap bangsa Israel adalah supaya ia dapat mematahkan berbagai syak wasangka tersebut.
Kasih yang Tidak Layak Diterima dan Tidak Berubah
Maleakhi menyanggah pernyataan bangsa Israel, yaitu bahwa mereka tidak dikasihi, dengan cara mengingatkan mereka akan permulaan sejarah mereka. Walaupun kisah Yakub dan Esau rumit adanya (Kejadian 25–36), dan dalam beberapa kejadian, Esau terlihat sebagai seseorang yang tidak peka rohani (25:29–34; 26:34–35; 28:6–9), Kitab Kejadian menunjukkan bahwa perkenanan Allah telah jatuh atas Yakub sebelum keduanya dilahirkan (25:23; lihat Roma 9:10–13). Walaupun kondisi awal Esau dan Yakub sama, dan walaupun kedua belah pihak adalah setara (sebagai saudara), Tuhan menetapkan kasih-Nya kepada Yakub, bukan Esau, tanpa didasari satupun alasan yang berasal dari diri mereka sendiri. Karena kasih ini tidak diperoleh melalui upaya sang penerima, kasih ini tidak berubah. Dari sebelum kelahiran nenek moyang mereka, Allah telah mengasihi Israel. Bentuk imperfektif kata kerja yang mengakhiri Maleakhi 1:2 menyiratkan kasih Allah yang berterusan kepada Yakub. Sementara itu, kata kerja perfektif di permulaan ayat ketiga menunjukkan penolakan Allah terhadap Esau sudah tetap dan tidak berubah.
Sebagaimana kasih Allah menggambarkan rasa sayang dan kesetiaan-Nya, pun kebencian di Perjanjian Lama menunjukkan kebencian dan kejijikan (Mazmur 119:163; Pengkhotbah 2:18) serta penolakan dan penentangan (Mazmur 26:5, Yesaya 66:5; seorang istri yang tidak terlalu dikasihi disebut “dibenci”, Ulangan 21:15). Israel mungkin tidak melihat bukti kasih Tuhan kepadanya, tetapi sudah terdapat bukti yang begitu banyak mengenai kebencian-Nya terhadap Edom, karena Allah telah membuat wilayah perbukitannya tandus. Dalam Perjanjian Lama, gunung sering menjadi simbol kesuburan (Ulangan 33:15; Mazmur 50:10; 72:3) serta kekuatan dan ketetapan (Mazmur 46:3, Yesaya 54:10). Meskipun demikian, bagian Edom yang terlihat paling kukuh dan mengesankan ini telah dijadikan gersang oleh Allah, sehingga tidak ada satupun yang dapat tumbuh. Selain itu, Edom kehilangan hak warisnya; tanah pusakanya (lihat Ulangan 32:8–9) diserahkan kepada hewan pemakan bangkai.* Di bagian lain juga ditemukan gambaran tentang binatang-binatang najis mendiami tempat yang dahulunya merupakan kota atau tanah tempat bermukim, dan kesemuanya merupakan hasil dari penghakiman Allah (Mazmur 44:20; Yesaya 13:22; 34:13; Yeremia 9:11; 10:22; 49:33). Gambaran ini seharusnya memiliki makna tersirat yang menyeramkan bagi bangsa Israel kuno, seolah-olah Edom telah diserahkan kepada kuasa rohani yang gelap.
Mungkin terlihat aneh atau malah terdengar menyinggung hati bahwa Allah membuktikan kasih-Nya kepada suatu bangsa melalui kehancuran dahsyat bangsa lain. Akan tetapi, pembuangan ke Babel merupakan kejahatan yang sangat menggoncangkan jiwa dan menakutkan umat Allah, sehingga sukacita Edom atas keruntuhan Israel (Mazmur 137:7) dan tindakan mereka yang memanfaatkan kerentanan Israel untuk keuntungan pribadi (Yehezkiel 35:15; Obaja 1:10) secara berulang kali dicatat di kitab-kitab para nabi Perjanjian lama sebagai kejahatan yang teramat besar (sesuatu yang kurang lebih sama seperti merayakan pemerkosaan seorang anggota keluarga). Penghakiman Allah atas Edom di masa itu tidak akan dianggap sebagai berlebihan.
Dalam upaya meyakinkan umat-Nya akan kasih-Nya yang tidak berkesudahan itu, Tuhan menutup kemungkinan munculnya pandangan yang berlawanan. Pada zaman Maleakhi, perekonomian Yehuda sedang melemah, sementara itu, peruntungan Edom terlihat membaik (“kami akan membangun kembali”)—Edom percaya diri bahwa mereka akan pulih sebagai suatu bangsa. Tuhan tidak menganggap kemampuan mereka untuk membangun ulang sebagai angan kosong belaka; alih-alih, Ia mewujudkan kebencian-Nya terhadap Edom dengan cara menghancurkan setiap kemajuan yang mereka capai. Bahwa Edom akan disebut sebagai “daerah kefasikan” berarti Allah akan mengukuhkan mereka dalam keberdosaan secara begitu terbuka dan nyata, sehingga tidak akan ada seorangpun yang meragukan mengapa Allah menghakimi bangsa ini.
Dampak Dosa
Nasib rohani Edom digambarkan melalui dua ungkapan: “daerah kefasikan” (secara harfiah: “perbatasan kefasikan”) dan “bangsa yang kepadanya TUHAN murka sampai selama-lamanya.” Kedua ungkapan ini menggambarkan baik wilayah dan penduduknya, serta sebab dan akibat dalam penghakiman Allah yang kekal. Kata yang dipakai untuk menyatakan kemurkaan sepadan dengan kata yang menggambarkan “kutuk” dalam Bilangan 23:7 dan dengan murka-Nya “yang menyala-nyala” dalam Mazmur 69:25, juga Zakharia 1:12. Edom selamanya berada di bawah kemarahan Allah yang adil dan berapi-api karena dosa mereka.
Ayat di penghujung bacaan ini mengakhiri penjelasan mengenai bagaimana Allah melampiaskan kebencian-Nya terhadap Edom, dan beralih kepada cara-Nya menunjukkan kasih terhadap Israel. Kita mungkin mengira Allah akan menjamin Israel bahwa negeri itu, tidak seperti Edom, akan dibangun kembali dan menjadi makmur, atau bahwa mereka tidak akan pernah dimanfaatkan lagi oleh bangsa lain. Sebaliknya, umat Allah mendapati diri mereka terlibat dalam pengagungan diri Allah yang melampaui wilayah bangsa mereka.
Ayat singkat ini kelihatannya sederhana tetapi sangatlah bermakna. Bahwa Israel akan “melihat” membalikkan keraguan mereka di awal tentang kasih Allah, yaitu ketika mereka mengaku tidak pernah melihat bukti kasih-Nya. Sekarang, mereka akan mengatakan hal yang berbeda karena telah diyakinkan oleh apa yang mereka lihat. Meskipun demikian, keseluruhan dari yang mereka katakan adalah mengenai Allah dan kemuliaan-Nya, bukan mengenai diri mereka sendiri. Kebesaran Allah sering terlihat dalam campur tangan-Nya demi Israel (Mazmur 92:6; 126:2–3) atau demi pribadi-pribadi tertentu di tengah-tengah bangsa Israel (Mazmur 35:17; 40:18; 86:11). Membicarakan tentang kebesaran Allah secara tidak langsung juga mengungkapkan kemuliaan-Nya (lihat Yesaya 42:21) dan keagungan-Nya (Mazmur 99:2). Melalui ungkapan singkat ini, Maleakhi melukiskan ketakjuban Israel di masa yang akan datang menyaksikan kemuliaan Tuhan yang nyata tatkala Ia mewujudkan keadilan-Nya di bumi.
Arti penting pengagungan ini bagi seisi dunia tidak boleh dilewatkan—kebesaran Allah akan dikenal “sampai di luar” (secara harfiah: “di atas”) daerah Israel. Kebesaran Tuhan memang berpusat di tengah-tengah umat perjanjian-Nya, tetapi tidak terbatas di sana saja. Inilah cara Allah menyatakan kasih-Nya kepada umat yang telah merasa amat tawar hati dan telah diperlakukan secara tidak adil—Ia menegakkan keadilan di bumi, demi kemuliaan-Nya yang agung.
Catatan penerjemah:
*Penulis mengutip Maleakhi 1:1-5 versi ESV yang pada ayat 3 jika diterjemahkan berbunyi: “Tetapi Esau telah Kubenci. Aku telah membuat daerah pegunungannya menjadi tandus dan menyerahkan tanah pusakanya kepada serigala-serigala padang gurun.”
Artikel ini disadur dari ESV Expository Commentary: Daniel–Malachi: Volume 7, disunting oleh Iain M. Duguid, James M. Hamilton Jr, and Jay Sklar.
Eric Ortlund (PhD, University of Edinburgh) mengajar di Oak Hill College di London, Inggris. Sebelumnya, ia mengajar Perjanjian Lama di Briercrest College and Seminary di Saskatchewan, Kanada. Ia dan istrinya, Erin, memiliki dua orang anak.






