Pengejaran yang Gigih dan Penuh Tekad
Mazmur 23:6 berbicara tentang dua hal yang “mengikuti” kita: kebajikan dan kemurahan. Hampir tanpa pengecualian, para penafsir ayat ini menunjukkan bahwa kata kerja “follow (mengikuti)” sebenarnya adalah terjemahan yang sangat lemah. Richard Briggs bahkan mengatakan bahwa ini adalah “satu kata dalam seluruh Mazmur yang menurut saya selalu diterjemahkan dengan buruk dalam bahasa Inggris.”1 Sebenarnya, inti dan makna dari kata tersebut adalah “pursue (mengejar)”. Kebajikan dan kemurahan mengejar Daud; mereka tidak sekadar mengikutinya. Kata tersebut begitu intensif, sering kali digunakan dalam adegan pertempuran di mana orang-orang “dikejar” sampai mati, namun kata itu sendiri tidak negatif dan bisa digunakan dalam cara yang sangat positif dan instruktif:
jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya! (Mzm. 34:15 TB) (Kata “berusahalah mendapatkannya” disini, diterjemahkan sebagai “pursue (mengejar)” dalam versi ESV)
Dalam Mazmur 23:6, kata Briggs, “Hampir seolah-olah ayat ini mengaitkan kemampuan dan inisiatif dengan karakteristik ilahi tersebut, sedangkan ‘mengikuti’ mungkin menyiratkan semacam ikut serta dengan saya. Sebenarnya, kebajikan dan kemurahan [Allah] gigih dan bertekad dalam pengejaran mereka.” 2 Allah telah mengutus mereka untuk mengejar saya.
Mazmur ini menunjukkan betapa aktifnya Gembala itu terhadap kita, dan ini merupakan tanda lain bahwa Tuhan sendiri sedang melakukan sesuatu yang luar biasa bagi kita.
Pengertian ini semakin kuat ketika kita mempertimbangkan dua subjek dalam pengejaran: “kebajikan” dan “kemurahan”. Bukan suatu kebetulan jika keduanya digunakan bersama di sini. Kedua hal itu bukanlah kata benda abstrak yang bisa kita pahami terpisah dari Allah, seolah-olah keduanya adalah kekuatan gaib di dunia ini; sebaliknya, keduanya adalah kata benda perjanjian dari Allah. Dalam Keluaran 33 ketika Tuhan memberi tahu Musa bahwa dia telah mendapat kasih karunia di hadapan-Nya dan bahwa Dia mengenal nama Musa, Musa meminta untuk melihat kemuliaan Allah. Sebagai tanggapan, Allah berfirman: “Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu dan menyerukan nama TUHAN di depanmu: Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani.” (Kel. 33:19). Kemuliaan Allah dinyatakan sebagai kebajikan-Nya dan nama-Nya, dan keduanya dinyatakan dalam kasih perjanjian-Nya kepada umat-Nya yang telah ditebus: “Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: “TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa” (Kel. 34:6–7).
Dalam eksodus dari Mesir, orang-orang yang diselamatkan dikejar oleh kemarahan dan kezaliman Firaun. Dalam penyelamatan mereka dari dosa, mereka dikejar di padang gurun oleh kebajikan dan kemurahan Tuhan perjanjian mereka, yang tidak meninggalkan mereka dalam pemberontakan mereka namun tetap memberikan jalan bagi mereka untuk kembali kepada-Nya. Daud tahu bahwa “kebajikan” yang mengejarnya adalah kebajikan perjanjian Allah: “Engkau baik dan berbuat baik” (Mzm. 119:68). Dia tahu bahwa “kemurahan” yang terus mengejarnya adalah kemurahan perjanjian Allah: hesed, kata untuk kasih Allah yang setia (seperti catatan kaki ESV). Ini adalah kebaikan-Nya yang penuh kasih. Kasih-Nya yang setia dan penuh komitmen. Dengan kata ini, “sifat relasional dari istilah tersebut harus sangat ditekankan. Ini menggambarkan kewajiban, manfaat, dan komitmen yang ditanggung oleh satu pihak terhadap pihak lain sebagai akibat dari hubungan di antara mereka.” 3 Peter Craigie mengatakan, “Dalam arti tertentu, tema Keluaran dan padang gurun yang meresap ke seluruh mazmur mencapai puncaknya dalam ungkapan kasih setia; Allah perjanjian, yang dahulu telah mengekspresikan kasih setia-Nya kepada umat-Nya begitu berlimpah dalam penebusan mereka, akan terus melakukan hal yang sama di masa depan.” 4
Salah satu film favorit saya adalah The Fugitive. Harrison Ford berperan sebagai Dr. Richard Kimble, seorang pria yang salah dituduh dan dijatuhi hukuman penjara karena membunuh istrinya. Kimble kabur dari tahanan dan berakhir dalam pelarian, bertekad untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah serta membersihkan namanya. Sepanjang perjalanan, dia diburu oleh karakter Tommy Lee Jones, Samuel Gerard, Seorang polisi yang kejam dan bertekad.
Di akhir film (spoiler alert), dalam pertarungan terakhir, ada saat ketika Gerard berteriak ke seberang ruangan tempat Kimble bersembunyi: “Aku percaya padamu—aku tahu kamu tidak membunuh istrimu.”
Allah tidak memiliki kebaikan atau kasih yang bisa Dia kirimkan; Dia adalah kebaikan dan kasih itu sendiri.
Pada saat itu, kita melihat kelegaan membasuh wajah Kimble. Semua usahanya membuahkan hasil; dia terbukti benar dan bersih dari tuduhan. Mengapa? Sebab, ternyata pria yang mengejarnya itu baik. Kimble tidak dikejar oleh polisi yang jahat tetapi oleh polisi yang baik, pria yang mampu menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang membutuhkan. Itu mengubah segalanya.
Ketika kita melihatnya atau mengalaminya secara pribadi, kebaikan manusia bisa benar-benar mengagumkan. Itu bisa memberi kehidupan dan membebaskan.
Begitu pula denga kasih yang setia. Pada Januari 2022, Ron dan Joyce Bond dari Milton Keynes, Inggris menjadi berita karena menjadi pasangan yang paling lama menikah di Inggris. Bulan itu mereka merayakan tahun ke delapan puluh satu mereka hidup bersama sebagai pasangan suami istri. Mereka masing-masing berusia 102 dan 100 tahun. Apa yang paling membuat saya tersenyum ketika membaca ceritanya adalah mereka menceritakan bagaimana beberapa orang mengatakan pada hari pernikahan mereka bahwa pernikahan itu tidak akan pernah bertahan lama! Saya melihat foto-foto mereka pada hari itu dan kemudian melihat mereka pada ulang tahun pernikahan mereka yang kedelapan puluh satu, dan saya menyadari bahwa apa yang saya lihat adalah kasih yang setia. Itu adalah kasih yang tidak pergi ke mana pun selain kepada satu sama lain. Itu adalah kasih yang bertahan, mencari, dan melekat.
Dalam Mazmur 23, kata-kata di ayat 6 menceritakan kisah yang paling indah. Setelah semua fokus kita mengikuti Gembala yang baik, sekarang kita melihat ke belakang bahu kita dan melihat dua hal yang mengikuti kita: kebajikan dan kasih yang setia. Ini adalah kasih pernikahan Allah yang dengannya Dia mengejar dan menarik hati umat-Nya Pengejaran seperti itu menyenangkan dan menghormati yang sedang dikejar
Biasanya para pengkhotbah membayangkan “kebajikan” dan “kemurahan” sebagai dua anjing penggembala modern, yang dikirim olehnya untuk menggiring kawanan dari belakang. Spurgeon membayangkan “malaikat pelindung yang hebat” yang “akan selalu ada di belakang saya.” 5 Dale Ralph Davis menganggap mereka sebagai “dua agen khusus” dan “penduduk terkasih” yang berusaha mengejar, menghadang, dan mendampingi Daud, yang menjadi sumber kelegaan yang sangat besar baginya.6
Betapapun kuatnya gambaran-gambaran ini, menurut saya teks ini bermaksud untuk menyampaikan sesuatu yang bahkan lebih menakjubkan: kata-kata ini adalah cara lain untuk mengatakan bahwa Tuhan sendiri sedang mengejar kita. Memang benar bahwa mereka adalah sifat-sifat ilahi-Nya, tetapi fakta bahwa mereka berfungsi sebagai subjek gabungan dari kata kerja tersebut menunjukkan personifikasi mereka sebagai cara untuk menekankan bahwa kata-kata ini mengungkapkan Allah perjanjian itu sendiri kepada kita. Sama seperti kata-kata “Suruhlah terang-Mu dan kesetiaan-Mu datang; / supaya aku dituntun” (Mzm. 43:3) adalah cara pemazmur meminta Allah sendiri untuk membimbingnya ke tempat kudus-Nya, begitu juga di sini. Karena Allah adalah atribut-Nya sendiri. Allah tidak memiliki kebaikan atau kasih yang bisa Dia kirimkan; Dia adalah kebaikan dan kasih itu sendiri. Allah mengirimkan sifat-sifat ini kepada kita sebagai cara untuk memberikan diri-Nya sendiri kepada kita. “Aku sendiri hendak membimbing engkau dan memberikan ketenteraman kepadamu.” (Kel. 33:14). Jadi ketika kita menggabungkan keindahan kata benda ini dan intensitas kata kerja bersama dengan pengertian bahwa Allah dengan sengaja menetapkan agar kita mengalami kehadiran-Nya dalam hidup kita melalui kebaikan-Nya dan kasih setia-Nya, hasil gabungan ini adalah kenyataan indah bahwa Tuhan sendiri yang mengejar umat-Nya.
David Gibson adalah Pendeta Gereja Trinity di Aberdeen, Skotlandia, tempat ia tinggal bersama istrinya, Angela, dan keempat anak mereka. Ia adalah penulis buku The Lord of Psalm 23: Jesus Our Shepherd, Companion, and Host (Crossway, 2023).






