Menggembalakan Anak-Anak Saat Mengalami Kehilangan Orang Tercinta 

Kathryn Butler |15 Februari 2025

Selama berminggu-minggu, kedua anak kami berlatih menghafalkan ayat-ayat Alkitab untuk National Bible Bee’s Proclaim Day (acara khusus dalam program National Bible Bee, tempat peserta menunjukkan kemampuan menghafal dan mendeklamasi ayat sebelum kompetisi nasional). Ketika mereka akhirnya naik ke panggung, tangan mereka gemetar dan langit-langit yang tinggi membuat mereka tampak kecil, suara firman Tuhan yang keluar dari mulut mereka menggerakkan kami untuk bertepuk tangan dan mengucap syukur. Namun, saat tepuk tangan mereda, putra kami yang berusia 11 tahun, Jack, mengejutkan kami dengan naik ke panggung untuk kedua kalinya. 

“Saya ingin membagikan sebuah ayat yang menurut saya sangat menghibur,” katanya. “Kami sering membaca ini ketika ada teman kami yang meninggal dunia.” Kemudian dia membacakan 2 Korintus 4:16–18 dari ingatannya: 

Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal. 

Suami saya dan saya saling menatap dengan kagum. Kami belum pernah berlatih ayat-ayat ini dengan Jack. Sebaliknya, kami membacanya selama ibadah keluarga saat seorang teman baik kami sedang sekarat di rumah sakit, dan berkat kebaikan Allah, Jack menyimpannya di dalam hatinya. Allah telah bekerja melalui momen kesedihan dalam keluarga kami untuk menguatkan iman putra kami, dan melalui hal itu, Dia mengingatkan kami semua tentang kasih karunia-Nya di tengah kehilangan. 

Membimbing Anak-Anak Melintasi Lembah 

Saat orang yang kita kasihi meninggal dunia dan kesedihan menyelimuti kita, kita mungkin kesulitan menentukan cara membimbing anak-anak kita. Hati mereka begitu lembut, pikir kami. Tidakkah kenyataan pahit tentang kematian akan melukai mereka? Kami bertanya-tanya apakah kami harus menahan kesedihan kami sendiri agar tidak membuat mereka terganggu. Berapa banyak yang harus kami katakan? Seberapa banyak yang harus kami sembunyikan? 

Sebagai seorang pensiunan ahli bedah trauma, saya telah duduk di samping teman-teman dan orang-orang terkasih yang sekarat dengan frekuensi yang tidak biasa. Menjalani pengalaman-pengalaman tersebut sambil membesarkan anak-anak telah menyoroti perlunya kebijaksanaan dan kepekaan dalam menghadapi hal-hal yang sensitif seperti itu. Hati anak-anak rentan hancur, dan kita perlu menanganinya dengan lembut. Kita harus mengikuti tuntunan Tuhan kita untuk tidak mematahkan buluh yang terkulai atau memadamkan sumbu yang pudar nyalanya (Yesaya 42:3; Matius 12:20). 

Meskipun naluri alami kita sebagai orangtua adalah melindungi anak-anak kita dari rasa sakit, penggembalaan jarang berarti mengasingkan diri. Anak-anak kita akan mengalami kematian pada suatu saat dalam hidup mereka. Waktu mereka bersama kita di rumah adalah kesempatan berharga untuk memberikan mereka kerangka berpikir Kristiani tentang kematian dan untuk memberi contoh respons yang menekankan harapan kita di dalam Kristus. Allah dapat bekerja melalui kematian dan dukacita untuk menarik orang-orang yang dikasihi-Nya lebih dekat kepada-Nya (Mazmur 34:18; Roma 8:28) — bahkan jiwa-jiwa terkecil yang dipercayakan kepada kita. 

Bagaimana kita menavigasi lembah yang kelam bersama anak-anak kita? Bagaimana kita mengarahkan mata mereka kepada hal-hal yang tak terlihat dan kekal? Berkali-kali saya menyaksikan kasih karunia dan belas kasihan Allah bekerja dalam kehidupan anak-anak saya di saat-saat kehilangan. Berdasarkan pengalaman-pengalaman tersebut, dengan rendah hati saya menyampaikan lima saran berikut untuk membantu membimbing Anda dalam menggembalakan anak-anak melewati masa kehilangan. 

1. Ciptakan ruang untuk diskusi. 

Jack berusia empat tahun ketika teman kami David masuk rumah sakit, dan suatu malam sebelum tidur, saya tahu bahwa pikirannya mengganggunya. Ketika saya bertanya, dia menanyakan bagaimana David bisa terkena emfisema dan mengapa kematian terjadi. Kemudian dia meminta agar kami mengunjungi David setiap hari hingga ia berpulang — dan kami melakukannya. 

Sementara itu, setelah pemakaman teman kami Carolyn, putri kami yang berusia sembilan tahun, Christie, tampak sangat diam, tidak seperti biasanya. Dengan sedikit dorongan lembut, dia mengakui bahwa berdiri di pemakaman selama pemakaman jenazah membuatnya takut. Kami berdiskusi panjang setelahnya tentang bagaimana budaya populer secara keliru menggambarkan kuburan sebagai tempat yang menakutkan, dan kami menekankan kebenaran: Carolyn bersama Yesus, dan hanya tubuhnya yang tersisa di bumi. 

Seperti yang terungkap dari anekdot ini, anak-anak bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan besar dan perasaan-perasaan yang lebih besar. Setelah kepergian orang yang mereka kasihi, mereka mungkin tidak langsung mengungkapkan pikiran-pikiran yang meresahkan, tetapi diamnya mereka tidak berarti mereka tidak bergumul. Untuk mengasihi anak-anak Anda di saat-saat kehilangan dengan sebaik mungkin, ciptakan ruang bagi mereka untuk berbicara dengan Anda dan berbagi ketakutan, kesedihan, serta kekhawatiran mereka. Tanyakan keadaan mereka sebelum tidur. Berhentilah sejenak saat ibadah keluarga. Yang terpenting, undang mereka untuk berbicara dengan Anda dan mengajukan pertanyaan. Beri mereka izin untuk mengeksplorasi pikiran dan perasaan kompleks mereka bersama Anda. Yakinkan mereka bahwa tidak ada pertanyaan yang memalukan dan kekhawatiran mereka tidak akan memperburuk rasa duka Anda. Ciptakan kesempatan untuk berdialog secara terbuka dalam konteks yang penuh kasih. 

2. Normalisasikan duka sebagai waktu untuk menangis. 

Sebagai orangtua, kita bergegas menghibur anak-anak kita begitu air mata mereka mulai mengalir. Dengan kecenderungan seperti itu, ketika anak-anak melihat kita menangis, mereka mungkin merasakan dorongan yang sama dan merasa gelisah ketika air mata kita tidak berhenti. 

Daripada menahan air mata atau membiarkan anak Anda mengatasi emosinya sendirian, dampingilah mereka dalam proses berduka. Bantu mereka memahami bahwa kesedihan dan tangisan merupakan respons normal yang diberikan Tuhan atas kematian orang yang dicintai. Untuk membantu menguatkan kata-kata Anda di pikiran mereka, hubungkan mereka dengan firman Tuhan. Bahaslah bagaimana “ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari” (Pengkhotbah 3:4). Tinjau kembali bagaimana Ayub mengoyak jubahnya dan jatuh ke tanah dalam perkabungan ketika anak-anaknya meninggal (Ayub 1:20), bagaimana Daud menangisi Absalom (2 Samuel 19:4), dan bahkan bagaimana Yesus menangis ketika Lazarus meninggal (Yohanes 11:35). 

Validasi perasaan anak-anak Anda saat mereka berduka. Terutama ketika mereka masih kecil, anak-anak mungkin tidak merasakan kesedihan atas kehilangan orang yang dicintainya dan khawatir bahwa respons mereka salah ketika semua orang bersedih. Dampingilah anak-anak Anda dan bantu mereka memahami bahwa dukacita itu kompleks. Ia pasang surut, memengaruhi setiap orang secara berbeda, dan membangkitkan emosi yang bisa sangat bervariasi. Normalisasikan kebingungan, kesedihan, dan perasaan yang campur aduk — yang semuanya kita lihat dalam mazmur ratapan (seperti Mazmur 22, 77, 130) saat orang percaya bergumul dengan dukacita mereka. 

3. Jelaskan kematian sebagai akibat dari kejatuhan manusia. 

Tidak peduli berapa pun usia orang yang merenungkannya, pertanyaan tentang kematian menyentuh inti dari kejatuhan kita sebagai manusia. Penyakit menimpa kita karena dosa menodai seluruh ciptaan Allah (Kejadian 3:17–19). Kematian adalah upah dosa kita dan menimpa semua orang (Roma 5:12; 6:23). Kematian itu suram, gelap, dan menyakitkan karena mencerminkan kerusakan pada rancangan asli Allah (Kejadian 2:9). 

Berbicara secara terbuka tentang kematian sebagai konsekuensi pasti dari kejatuhan membantu anak-anak untuk mengatasinya saat hal tersebut menimpa lingkungan mereka sendiri. Mereka belajar bahwa kematian adalah bagian dari kehidupan di dunia yang jatuh ini, sesuatu yang harus diterima dan bukan ditakuti. Yang terpenting, ketika kita menjelaskan kematian kepada anak-anak kita dalam konteks kejatuhan, kita dapat mengarahkan mereka kepada Kristus. Masalah dosa ada solusinya. Karena sekarang kita mengeluh, tetapi Kristus telah mengalahkan maut (1 Korintus 15:55–57). 

4. Teladankan kepercayaan kepada Allah. 

Bila memungkinkan, renungkan bersama anak-anak Anda tentang kedaulatan dan penyediaan Allah dalam menghadapi kematian. Tunjukkan teladan untuk percaya kepada-Nya bahkan saat kita tidak mengerti. Percayalah pada kebenaran bahwa jalan-jalan-Nya lebih tinggi dari jalan-jalan kita (Yesaya 55:9). 

Mazmur 23 merupakan pasal yang bagus untuk dibaca bersama. Meskipun kita semua akan berjalan melalui lembah kekelaman, kita tidak perlu takut karena Allah akan menyertai kita (Mazmur 23:4). Di bagian lain, Dia berjanji tidak akan meninggalkan atau melupakan kita (Ulangan 31:8). Masa hidup kita ada di tangan-Nya (Mazmur 31:15). Firman-Nya meyakinkan kita bahwa tidak ada apa pun — bahkan maut! — yang dapat memisahkan kita dari kasih-Nya bagi kita di dalam Kristus Yesus (Roma 8:38–39). 

5. Tunjukkan harapan kita di dalam Kristus. 

Bagi orang percaya, pengorbanan dan kebangkitan Yesus telah mengubah kematian dari musuh terakhir (1 Korintus 15:26) menjadi jalan menuju rumah surgawi kita. “Akulah kebangkitan dan hidup,” kata Yesus kepada Marta. “Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya” (Yohanes 11:25–26). Meskipun kita semua semakin merosot, penderitaan dan kematian kita hanyalah penderitaan ringan yang bersifat sementara, yang mempersiapkan kita untuk kediaman kekal bersama Allah (2 Korintus 4:16–18; Wahyu 21:3). 

Tunjukkan kebenaran ini kepada anak Anda sedini mungkin dan sesering mungkin. Saat Anda menyeka air mata di pipi mereka, ingatkan mereka bahwa meskipun menangis setelah kehilangan adalah hal yang wajar, kita juga berpegang pada sukacita. Kita berpegang teguh pada kebenaran bahwa orang yang kita kasihi yang beriman kepada Kristus telah meninggalkan penderitaan dunia yang penuh dosa ini dan kini bersukacita di hadapan takhta Allah, di mana tidak ada lagi kematian, kesakitan, dan tangisan (Wahyu 21:3). 

Beberapa anak khawatir bahwa orang terkasih yang tidak menghadiri gereja atau menyatakan iman kepada Yesus tidak akan berada di surga. Pada saat-saat seperti itu, arahkan mereka kepada kesetiaan, belas kasihan, dan kedaulatan Allah. Ajarkan mereka tentang pencuri di kayu salib, yang kepadanya Allah mengaruniakan keselamatan bahkan di saat-saat terakhir hidupnya (Lukas 23:43). Ingatkan mereka bahwa meskipun kita mungkin tidak yakin tentang iman orang yang kita kasihi, Allah itu setia, adil, dan pengampun (1 Yohanes 1:9), dan kita dapat memercayai kehendak-Nya yang baik dan sempurna dengan sepenuh hati, tidak peduli pertanyaan apa pun yang mengganggu kita. 

Setelah pengalaman Bible Bee kami, Jack menguraikan kesukaannya pada 2 Korintus 4:16–18. “Ini membantu saya mengingat bahwa kita memiliki harapan karena Yesus,” katanya. Perkataannya menangkap jawaban bagi kita semua — dari usia 0 hingga 99 tahun — ketika kematian menyerang: iman kepada Kristus. Penghiburan, kedamaian, dan ketenangan berada di dalam Dia (Matius 11:28). Bahkan saat kita menangis menghadapi kematian, oleh bilur-bilur Kristus kita disembuhkan (Yesaya 53:5). 

Kathryn Butler is a trauma and critical care surgeon turned writer and homeschooling mom. She is author of The Dream Keeper Saga. She and her family live north of Boston.

Tags :

Langganan Newsletter

Jangan lewatkan artikel, renungan yang mendalam, berpusat pada Injil, dan meninggikan Kristus. Kami hadirkan panduan untuk hidup Kristen Anda setiap minggu.

Layanan Pelanggan

Ikuti Kami

Dapatkan informasi terbaru dari Living Word melalui media sosial kami. Klik icon yang ada dibawah ini

Copyright ©Living Word (PT Berita Baik Indonesia). All Rights Reserved

Discover more from Living Word

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading