Marshall Segal | 1 Oktober 2024
Tahun lalu, delapan belas orang meninggal saat mendaki Gunung Everest, jumlah korban jiwa terbesar di gunung itu dalam waktu satu tahun. Delapan belas kasus tersebut menjadikan jumlah total kematian menjadi lebih dari 340 dalam abad ini — dan jumlah korban itu terus meningkat. Para pendaki meninggal karena jatuh, tertimpa longsor, terkena radang dingin atau krisis kesehatan lainnya, serta akibat runtuhan serac (balok es seukuran rumah yang terlepas dari gletser). Bahayanya sama besarnya pada puncaknya.
Lalu mengapa semakin banyak orang meninggal sekarang dibandingkan sebelumnya? karena lebih banyak orang yang mendaki. Pada tahun sembilan puluhan, kurang dari seratus jiwa pemberani berhasil mencapai puncak di setiap tahunnya. Saat ini, jumlahnya telah mencapai enam kali lipat — meskipun jumlah kematian terus bertambah. Mengapa demikian? Mengapa seseorang mau membayar $100.000 untuk menghabiskan dua bulan penuh mendaki gunung kematian ini? Karena jiwa manusia tidak dapat menghindari ketertarikan pada keagungan. Sebut saja “pertualangan” atau “tantangan” atau “kemenangan” — saya menyebutnya kemuliaan, dan Everest menggoda kita meraih kemuliaan setinggi 29.000 kaki.
J.I. Packer menyebut Roma 8 sebagai “puncak tertinggi Perjanjian Baru dan puncak tertinggi dari semua tulisan Alkitab” (Atonement, 2). John Piper setuju dengan Packer dan berkata,
Roma pasal 8 sangat padat dan penuh dengan kabar baik, kabar baik yang begitu besar, mulia, dan jauh lebih unggul dari semua kabar baik di dunia ini. Entah itu kabar baik tentang kesehatan, keluarga, gereja, pekerjaan, politik, dunia, atau keuangan. Begitu jauh lebih unggul dari semua kabar baik duniawi dan begitu tak henti-hentinya, sampai-sampai sulit untuk kita merasakan kekuatannya sebelum kita mengambil setiap ayat dan menyatakannya kembali sebagai kabar baik yang sesungguhnya.
Oktober ini, tim kami di Desiring God akan menjadi pemandu gunung yang dengan sukacita memandu Anda melewati tebing dan tikungan menuju pemandangan menakjubkan dalam pasal-pasal di Alkitab. Perjalanan ini akan melalui delapan artikel yang tersebar sepanjang bulan.
Mendaki Gunung Bersama Desiring God
Di Desiring God, tim kami — John Piper, David Mathis, Tony Reinke, Jon Bloom, Greg Morse, Scott Hubbard, dan saya sendiri — akan berpikir, berdoa, dan bekerja keras bersama-sama untuk menyusun strategi pengajaran kami di semua platform kami. Semua mimpi dan perencanaan ini dibentuk oleh misi kami:
Sebagai sebuah platform penerbitan ‘Kristen hedonist’, yang meyakini kenyataan Alkitab yang sangat penting bahwa Allah paling dimuliakan ketika kita paling terpuaskan di dalam Dia, kami ada untuk menggerakkan orang untuk hidup bagi kemuliaan Allah. Kami melakukannya dengan cara menolong mereka menemukan kepuasan di dalam Allah di atas segala sesuatu, terutama dalam penderitaan. Serta menyampaikan kebenaran, keindahan, dan nilai segala yang Allah sediakan bagi kita dalam Kristus, yang berakar, diatur, dan dipenuhi oleh Firman Tuhan yang sempurna.
Kalimat tersebut (kalimat favorit saya di seluruh dunia) adalah jalan raya yang menuntun semua yang kami katakan dan lakukan sebagai sebuah pelayanan — dan saya sangat ingin menghabiskan hidup saya di jalan raya itu.
Strategi penyajian artikel kami adalah dengan memilih tema bulanan — sebuah isu, topik, bab Alkitab, atau doktrin yang kami bahas sebagai satu tim dan coba untuk bahas dengan lebih dalam. Mulai dari beberapa bulan sebelumnya, kami membahas bersama topik yang menjadi kebutuhan dan yang akan kami bahas selanjutnya. Sebagai dasar pemikiran, kami dengan senang hati dan sepenuh hati bersandar pada”Desiring God Affirmation of Faith” Kami berdoa dan memilih satu tema untuk tiap bulannya, lalu kami membuat rangkaian artikel yang mencakup tema tersebut (kami biasanya mengembangkan tiga puluh hingga empat puluh gagasan lalu memilih delapan hingga sepuluh untuk diprioritaskan dari kelompok yang lebih besar itu).
Untuk beberapa bulan ke depan, kami telah menyiapkan tema-tema mengenai gereja lokal, nama-nama Kristus (untuk Advent), dan cara praktis untuk berdoa. Untuk bulan ini, kita mempersiapkan diri untuk mendaki gunung kasih karunia yang agung yaitu Roma 8.
Mengintip Ke Dalam Puncak
Saat Anda mulai mendaki bab ini, Anda tidak perlu pergi jauh untuk melihat kemuliaan yang sesungguhnya. Bahkan, lima kata pertama meledak dengan keagungan: “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman” (Roma 8:1). Di akhir minggu ini, perjalanan pertama kita akan berfokus pada keindahan pengampunan dan penebusan kita di dalam Kristus. Orang percaya akan masih tetap mengalami disiplin yang menyakitkan dari Bapa kita selama di dunia ini, tetapi kabar baiknya adalah kita tidak akan pernah merasakan setetes pun dari hukuman ilahi.
Pada minggu berikutnya, kita akan belajar dan diingatkan mengenai Kristus yang tinggal di dalam kita melalui Roh Kudus-Nya. Apa arti dari “tinggal di dalam kita” itu, dan bagaimana Kristus yang tinggal di dalam kita mengubah kehidupan kita yang biasa dan sulit? Kita juga akan melihat bagaimana caranya berjalan dengan Roh yang hidup di dalam kita, yang mematikan perbuatan-perbuatan tubuh dengan kekuatan dan tekad supernatural. Jon Bloom akan membahas ayat 17–25 yang menunjukkan kepada kita bagaimana penderitaan kita akan dipakai Tuhan untuk membawa kita pada kemuliaan yang sesungguhnya di akhir hidup kita nanti , Kemuliaan di masa depan yang bahkan sekarang kita tidak bisa bayangkan. Di akhir bulan, kita akan menghabiskan satu artikel untuk mengerti bagaimana Roma 8 bisa disalahpahami dan diterapkan secara keliru, termasuk ayatnya yang paling terkenal: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28).
Selain tim pengajar kami, kami juga meminta Joni Eareckson Tada, Joshua Greever (profesor madya Perjanjian Baru di Bethlehem College and Seminary), dan Clinton Manley (anggota terbaru tim editorial kami) untuk ikut mendaki bersama kami dan melayani sebagai sesama pemandu, sehingga Anda akan melihat artikel baru dari masing-masing mereka di sepanjang perjalanan.
Pendakian yang mahal
kita mungkin dapat melihat keagungan yang ada di Roma 8 ketika pertama kali membacanya, tetapi tidak semuanya mudah untuk dipahami. Tidak seorang pun ingin mencoba mendaki Gunung Everest tanpa perlengkapan yang tepat dan pemandu yang baik, dan itulah jenis bantuan yang kami harap untuk bisa diberikan dalam seri ini. Kami harap untuk bisa memberikan Anda perspektif yang lebih baik ke dalam realita yang mengubah hidup, menstabilkan jiwa, dan mengobarkan kegembiraan yang muncul dari 39 ayat ini.
Seperti kehidupan Kristen, pendakian ini tidak akan mudah. Paulus bertanya pada satu titik, “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” (Roma 8:35). Mengapa dia menanyakan hal itu? Karena orang Kristen menderita dan bahkan mati akibat dari setiap hal yang disebutkan-nya. Jika kita mengikuti Kristus, kita pasti akan mengalami berbagai macam cobaan yang berat. Tetapi di dalam penderitaan kita, bahkan penderitaan yang parahpun, tidak akan dan tidak dapat memisahkan kita dari janji-janji yang kita sudah diberikan kepada kita untuk kita nikmati.
Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Roma 8: 38–39).
Bergabunglah bersama kami jika Anda berani, dan lihat kembali betapa megahnya Gunung Everest yang agung ini.
Marshall Segal adalah Presiden & CEO dari Desiring God. Ia adalah penulis buku Not Yet Married: The Pursuit of Joy in Singleness & Dating. Ia lulus dari Bethlehem College & Seminary, dan menjabat sebagai diaken di Cities Church. Ia dan istrinya, Faye, memiliki tiga orang anak dan tinggal di Minneapolis, Amerika Serikat.






