Bagaimana Seorang Ibu Memuridkan Bayinya yang Baru Lahir 

Hari-hariku berjalan lambat tetapi sibuk. Memberi makan bayi; mengganti popok; mencuci piring; mengganti dot. Tugas demi tugas, hari terus berlalu. Saya sangat gembira untuk pertama kalinya menjadi ibu, tetapi hari-hari ini dipenuhi dengan kemonotonan yang tampaknya tidak memiliki tujuan yang kekal. Keinginan saya adalah membesarkan anak yang mencerminkan gambaran Allah, yang akan memuliakan Allah, dan memiliki hati bagi mereka yang paling lemah. Namun, di mana terletaknya permuridan dengan jadwal tidur, jenis botol susu, dan membedong bayi? 

Di tengah keputusasaan saya, saya menerima liturgi yang ditulis untuk saat mengganti popok. Kalimat-kalimat ini langsung menarik perhatianku: 

Dengan kasih dan pelayanan, saya merawat hati yang sedang bersemi, yang berakar sejak dini dalam pengabdian yang penuh anugerah, yang mungkin suatu hari nanti lebih siap untuk tunduk pada keyakinan Anda yang penuh belas kasihan. (Every Moment Holy, 1:53) 

Sebuah percikan pun menyala, dan keyakinan baru mulai terbentuk. Saya jauh lebih dekat dalam merawat hati yang sedang bertunas daripada yang saya sadari. Dua belas bulan pertama kehidupan putri saya bukan hanya tentang memastikan dia tetap hidup, tetapi tentang meletakkan dasar kesetiaan yang akan menjadi pijakan dari pemuridan seluruh keluarga kami. 

Panggilan yang Sulit, Tinggi, Bahagia 

Saya tahu rasa takut yang menyelimuti Anda di sore hari karena malam yang akan datang mungkin akan dipenuhi dengan kesepian dan kurangnya istirahat. Saya telah melawan rasa takut yang tidak masuk akal dan yang terus datang, tidak peduli seberapa banyak janji yang Anda katakan. Saya pernah merasakan pengalaman yang membingungkan, saat saya melihat ke cermin dan tidak mengenali bayangan yang saya lihat. Saya telah bergumul untuk membuat keputusan yang tepat tanpa damai di hati. Saya mengerti. Jadi, bukankah menambahkan tugas pemuridan justru akan semakin memperumit musim yang sudah penuh tantangan ini? 

Saya ingin memijat bahu Anda dan mengatakan bahwa pemuridan mula-mula ini tidak akan memperburuk keadaan; sebaliknya, itu akan membawa terang dan kehidupan. Kewajiban orangtua adalah untuk mengenalkan karya-karya Allah kepada anak-anak dan cucu-cucu kita (Ulangan 4:9). Ceritakan tentang keselamatan-Nya, bahwa Ia mendengarkan teriakan permintaan tolong kita, turun dari surga dan membebaskan kita dari belenggu dosa, sehingga bangsa yang diciptakan nanti akan memuji Tuhan (Mazmur 102:18–20). Pergilah dan jadikanlah murid-murid (bahkan yang kecil sekalipun!) dengan mengajar mereka untuk menaati firman Allah (Matius 28:19–20). 

Sungguh suatu panggilan yang mulia. Panggilan yang memiliki implikasi yang kekal. Bila kita mengingat tujuan ini, tantangan-tantangan saat merawat bayi baru lahir akan berubah menjadi momen peneguhan yang penuh tujuan (Yakobus 1:3–4). Apakah akan tetap sulit? Tentu, namun kita tidak akan lagi tenggelam dalam pikiran kita yang sia-sia, yang hanya akan membawa penderitaan lebih lagi.  Kita akan masuk ke dalam kehidupan yang penuh makna dan sukacita bahkan saat menggendong bayi kita.  

Jika ini pertama kalinya kamu menjadi ibu, ketahuilah bahwa waktu-waktu ini tidak harus terasa begitu melelahkan. Hari-hari saat bayi masih kecil, sama seperti seluruh perjalanan keibuan, memberikan ruang di mana Allah dapat dimuliakan dan dinikmati—saat ini oleh para ibu, dan kelak (kita berdoa) oleh anak-anak kita. Jadi, mari kita renungkan dua cara seorang ibu dapat merawat bayi sambil memelihara jiwanya (dan jiwa anaknya). 

1. Tetap aktif dalam keheningan. 

Tidak lama setelah putri saya lahir, saya meratapi betapa tidak produktifnya saya saat menyusui. Berjam-jam setiap siang (dan malam), tubuh saya diam — dan pikiran saya sebagian besar kosong. Saya mulai diyakinkan bahwa saat-saat yang tampaknya membosankan seperti ini adalah waktu yang harus digunakan untuk memuliakan Allah. Daripada menatap ponsel atau mengkhawatirkan perkembangan putri saya, saya dapat berbicara dengan Bapa surgawi. Sungguh cara yang indah untuk mengisi saat-saat heningku! 

Kebiasaan berdoa akan memberkati anak-anak kita; dan juga memberkati kita. Berdoa bukanlah kebiasaan yang asal-asalan, yang hanya berguna saat kita membutuhkan sesuatu. Doa merupakan hak istimewa dan jalan kehidupan untuk memuji dan memohon kepada Allah semesta alam (Ibrani 4:16). Kita dapat memakai waktu saat anak kita masih kecil untuk melatih jiwa kita berpaling kepada Pencipta kita. Hasilnya adalah seorang ibu yang teguh, yang memuliakan Allah saat ia berseru dan dengan sukacita berserah kepada-Nya (Ibrani 6:19). 

Memuridkan bayi kita yang baru lahir dimulai di sini — dengan doa. Kita dapat menjalani hari-hari yang kelihatannya sangat biasa sebagai hadiah dari Bapa kita yang penuh kasih. Dia memberi kita banyak waktu untuk belajar memanggil dan berseru kepadaNya. Dan jika kita mengijinkannya, kebiasaan ini dapat membentuk pola kita sebagai seorang ibu sepanjang sisa hidup kita. Tidak peduli usia, musim, atau seberapa dekat anak kita dengan kita, doa akan selalu menyelaraskan hati kita dengan kebaikan dan kedaulatan Allah. 

Betapa indahnya fondasi yang kita siapkan bagi bayi kita saat kita memenuhi kehidupan mereka dalam doa. Bagaimana jika sejak kecil mereka melihat dan mendengar ibu mereka berserah kepada Allah? Mereka akan melihat seperti apa percaya bahwa Allah mendengarkan kita (1 Yohanes 5:14), mereka akan mendengar bagaimana rasanya percaya bahwa Ia menghidupkan kembali hati yang hancur (Yesaya 57:15), dan mereka akan beristirahat dalam ketenangan seorang ibu yang tidak takut terhadap apa pun yang menakutkan (1 Petrus 3:6). Sebab dalam hari-hari yang tampak biasa dan menjenuhkan, mereka mendengar ibunya menyerahkan segala kekhawatirannya kepada Tuhan (1 Petrus 5:7). 

Jika Anda tidak yakin bagaimana cara memulai disiplin rohani ini, bolehkah saya mendorong Anda untuk memulai dengan firman Allah kepada kita? Saya belajar berdoa menggunakan Kitab Suci dari ibu saya, saat saya menyaksikannya dengan setia berdoa Kolose 1:9–13 untuk keluarga kami selama bertahun-tahun. Saya dapat bersaksi bahwa kehidupan doa saya sendiri diubahkan dengan berdoa berdasarkan firman Allah. Itu menuntun saya untuk tidak mendoakan doa-doa yang mementingkan diri sendiri yang secara alami terucap dari bibir saya dan mengarahkan saya untuk berdoa dengan Allah sebagai pusatnya. Bolehkan saya menantang Anda untuk memulai dari hal yang kecil? Cobalah tuliskan Kolose 1:9 pada sebuah kertas dan tempelkan di dekat wastafel tempat Anda mencuci piring. Percayalah, Anda akan mulai melihat kehidupan doa Anda bertumbuh. 

2. Lihatlah kemuliaan dalam jemari kaki yang mungil. 

Jonathan Edwards percaya bahwa “setiap detail terkecil dalam segala hal, dari laba-laba dan ulat sutra hingga pelangi dan mawar, semuanya menyatakan pengetahuan tentang Kristus dan jalan-Nya” (Rejoicing in Christ, 25). Didorong oleh visinya untuk melihat segala sesuatu di dunia sebagai petunjuk kemuliaan Allah, saya mulai memfokuskan mata saya untuk melihat melampaui tugas-tugas yang tidak pernah habis untuk apa yang dapat saya pelajari tentang Kristus. Tak lama, Allah mulai menyatakan karakter-Nya yang mengagumkan, tidak peduli seberapa remeh momen itu atau seberapa saya merasa tidak terlihat. Pikiran saya mulai berubah dari stres memikirkan seberapa nyenyak putri saya tidur menjadi rasa kagum yang diilhami Allah. 

Mari kita lihat bersama beberapa contoh bagaimana hari-hari awal saat bayi baru lahir menyatakan pengetahuan tentang Kristus (Mazmur 19:2). Cara tangan mungilnya menggenggam jari Anda dapat mengingatkan Anda bagaimana kita sendiri dapat menggenggam tangan kuat Bapa kita (Mazmur 63:8). Pertama kali dia tersenyum, kita dapat mengingat bahwa sebagai orang percaya, Allah telah membuat wajah-Nya bersinar kepada kita (Bilangan 6:25). Dan ketika anak-anak kita menangis untuk menyampaikan bahwa mereka membutuhkan kita, kita dapat mengingat bahwa kita juga dapat (dan diperintahkan) untuk menyampaikan permohonan kita kepada Tuhan (Filipi 4:5–7). 

Sebagai ibu, kita mendapatkan hak istimewa untuk menarik perhatian anak-anak kita pada kenyataan-kenyataan ini sejak momen-momen awal mereka. Melihat dan berbicara tentang kemuliaan Allah — baik di dunia maupun dalam Injil — akan merajut 

pemuridan ke dalam rutinitas keluarga kita. Sebelum Anda menyadarinya, anak kecil Anda akan menunjuk ke langit dan berkata, “Allah yang menciptakan ini!” karena dia telah melihat dan mendengarkan Anda yang menikmati kemuliaan Kristus. 

Persekutuan Ibu-Ibu yang Memuridkan 

Setiap langkah yang Anda ambil tanpa mengeluh, walaupun mengantuk, memuliakan Allah. Setiap botol yang dicuci dengan doa memuliakan Allah. Setiap goyangan dan gerakan saat Anda menyanyikan lagu pujian memuliakan Allah. Setiap air mata yang keluar saat Anda berjuang untuk beristirahat dalam pemeliharaan Allah, memuliakan Dia. Kesetiaan terhadap jiwa-jiwa kecil tidaklah sia-sia. Itu memiliki potensi untuk menghasilkan buah untuk generasi mendatang. 

Sebagai ibu dan anak Tuhan, kita dapat menjadi teladan dan saling mengajak untuk memiliki ketekunan yang penuh sukacita seperti ini. Saya menyesali banyaknya waktu yang saya buang untuk mengeluh tentang kesulitan merawat bayi kepada ibu-ibu lain. Persahabatan Injil yang terhubung melalui pengalaman yang sama hancur menjadi percakapan tentang siapa yang bayinya tidur paling buruk. Tapi bagaimana jika kita meratapi kesedihan itu, berpaling kepada satu-satunya yang bisa menolong, dan kemudian berbagi ide untuk menanamkan kebenaran kepada anak-anak kita (dan diri kita sendiri)? Memenuhi hari-hari awal bayi dengan 

pemuridan akan membantu kita bersama-sama berjuang untuk taat ketika kita merasakan keinginan untuk menggerutu (Filipi 2:14). Bayangkan efeknya yang akan meluas ke keluarga dan gereja kita jika lingkungan ibu-ibu menjadi tempat tukar pikiran untuk pemuridan yang intensional! 

Saat ini, Anda sedang menumpuk serpihan kayu yang mungkin suatu hari dapat menyulut iman anak Anda. Keselamatan bukanlah milik kita untuk diberikan, tetapi kita diberi tugas yang tinggi dan kudus untuk membimbing dengan cara yang menjelaskan karakter mulia Allah. Doa saya adalah agar kita melihat generasi baru orang Kristen yang seluruh hidupnya dibangun atas mengenal dan mengasihi Allah, bahkan sejak awal kehidupan. 

Ellie Fiedler is a wife and mother in Phoenix, Arizona. She shares her own writing and motherhood resources on her website.

Tags :

Langganan Newsletter

Jangan lewatkan artikel, renungan yang mendalam, berpusat pada Injil, dan meninggikan Kristus. Kami hadirkan panduan untuk hidup Kristen Anda setiap minggu.

Layanan Pelanggan

Ikuti Kami

Dapatkan informasi terbaru dari Living Word melalui media sosial kami. Klik icon yang ada dibawah ini

Copyright ©Living Word (PT Berita Baik Indonesia). All Rights Reserved

Discover more from Living Word

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading