Justin Dillehay | 29 Februari 2020
Tahun ini perayaan Paskah Yahudi akan dimulai pada hari Rabu, 8 April 2020, dua hari sebelum perayaan Jumat Agung bagi umat Kristen. Perbedaan dua hari dari agama ini bukanlah hal baru. Ini mengingatkan kita bahwa Yesus disalibkan saat Paskah, namun Ia datang ke Yerusalem untuk merayakannya sebagai orang Yahudi.
Tapi apakah itu hanya sebuah kebetulan? Apakah kematian Yesus di saat Paskah hanyalah sebuah kebetulan?
Alkitab mengatakan tidak. Alasan dia datang ke Yerusalem pada saat terakhir bukan hanya untuk merayakan Paskah, tetapi untuk menjadi Paskah bagi kita. Seperti yang dikatakan rasul Paulus dalam 1 Korintus 5:7, “Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus.”
Tapi apa artinya?
Untuk mengetahui jawabannya, kita perlu mulai dari Keluaran 12, kisah Paskah pertama. Di sana kita akan melihat mengapa Paskah itu penting dan apa artinya. Setelah mempelajari makna Paskah, kita akan melihat bagaimana Kristus menjadi Paskah kita.
Keluaran 12 dan Paskah Pertama
Semua berawal di Mesir yang pada saat itu kacau. Mesir baru saja dilanda oleh sembilan tulah. Dan ini bukan sekedar rangkaian nasib buruk namun Allah pada saat itu sedang menghakimi Mesir. Lebih dari itu, Allah menepati janji-Nya (Kel. 2:23-25). Allah telah bersumpah kepada Abraham, Ishak, dan Yakub bahwa keturunan mereka akan menerima tanah Kanaan sebagai warisan (Kej. 15:18–21), namun mereka terjebak di Mesir selama berabad-abad. Sudah waktunya bagi Tuhan untuk mengeluarkan mereka dan membawa mereka pulang.
Namun pertama-tama, ada satu wabah terakhir, yang paling parah dari semuanya. Israel telah dikecualikan dari semua (atau setidaknya sebagian besar) tulah sebelumnya. Ternak mereka tidak mati (Kel. 9:6). Hasil panen mereka tidak dihujani dengan es (Kel. 9:26). Bahkan tanah mereka tidak menjadi gelap (Kel. 10:23). Mereka tidak berbuat apa-apa untuk menghindari malapetaka lainnya; Tuhanlah yang menjauhkannya mereka.
Tetapi, wabah terakhir akan berbeda. Kali ini, Tuhan akan menargetkan pada semua orang. Selain adanya penyediaan yang tak terduga, Allah akan membunuh semua anak sulung di Mesir, termasuk anak sulung Israel.
Mengapa?
Karena meskipun Israel adalah umat pilihan Tuhan, dan meskipun mereka telah ditindas selama berabad-abad, kenyataannya mereka juga adalah orang berdosa. Yehezkiel 20:4–10 memberi tahu kita bahwa mereka bahkan menyembah dewa-dewa palsu Mesir! Tuhan tidak bisa mengabaikan dosa itu begitu saja.
Pesan dari tulah ke-10 menunjukkan bahwa Tuhan itu kudus dan adil. Namun pesan Paskah adalah bahwa Tuhan juga penuh belas kasihan. Pada Paskah pertama itu, Tuhan merancang suatu cara di mana Dia bisa bersikap adil dan penuh belas kasihan di saat yang sama. Kita mungkin menyebutnya keselamatan melalui penggantian.
Penyediaan Tuhan sederhana: ambillah seekor domba. Seekor jantan dewasa berumur satu tahun dan tidak bercacat (Kel. 12:3–5). Periksa selama empat hari untuk memastikan tidak ada cacat di dalamnya (12:6). Dan akhirnya, pada hari ke-14 bulan itu—malam ketika malaikat maut membunuh anak sulung—bunuhlah domba itu. Lalu oleskan darahnya pada tiang pintu rumahmu (12:7), dan ketika Allah melihat darah itu, Ia akan melewatimu (12:13).
Itulah artinya. Allah mengampuni anak-anak Israel, bukan karena mereka lebih baik dari anak-anak Mesir, tetapi karena seekor domba yang tak bercacat mati menggantikan mereka dan darahnya menutupi pintu rumah mereka.
Keselamatan melalui penggantian. Dan menurut Perjanjian Baru, pesan Paskah juga merupakan pesan Jumat Agung.
Jumat Agung dan Domba Paskah Sejati
Jika Anda bertanya-tanya bagaimana hewan dapat menggantikan manusia, jawabannya adalah pada akhirnya tidak mungkin (Ibr. 10:4). Bagaimana Allah dapat melewati dosa manusia hanya karena seekor binatang mati merupakan persoalan yang masih menuntut penyelesaian (Rm. 3:25).
Jumat Agung adalah saat Tuhan akhirnya menyelesaikannya.
Sama seperti bangsa Israel pun harus menanggung murka Allah dalam tulah ke-10 karena penyembahan berhala mereka, demikian pula kita semua harus menanggung murka Allah karena penyembahan berhala kita. Kita semua telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan-Nya. Dan kecuali beberapa penyediaan, setiap orang di antara kita akan binasa selamanya di bawah murka Tuhan dalam api abadi yang disiapkan bagi Iblis dan para malaikatnya. Karena Tuhan itu suci dan adil.
Namun karena kasih-Nya yang tak terbatas, Tuhan merancang cara untuk bersikap adil dan penuh belas kasihan di saat yang sama. Keselamatan melalui penggantian. Paskah dimaksudkan untuk menggambarkan hal itu, tetapi itu bukan hal yang sebenarnya. Namun ketika kita membaca Injil, penggantinya yang sejati ada di sini. Dalam kata-kata Yohanes Pembaptis, “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia!” (Yohanes 1:29).
Seperti halnya semua tipologi, Yesus lebih besar dari tipe Perjanjian Lama. Kali ini Tuhan tidak meminta kita menyediakan Anak Domba—Dia sendiri yang menyediakan Anak Domba itu. Dan Anak Domba ini bukanlah binatang—dia sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia—seperti kita dalam segala hal kecuali dosa (Ibr. 2:17; 4:15).
Namun sebagaimana semua tipologi, Yesus mencerminkan tipe Perjanjian Lama dalam banyak hal. Seperti domba Paskah, Ia adalah seekor domba jantan dewasa (Lukas 3:23), tidak ada satu pun tulang-Nya yang patah (Kel. 12:46; Yohanes 19:36), Ia diperiksa dengan teliti dan didapati tidak bercacat (1 Petrus 2:22), dan Ia dibunuh karena dosa-dosa kita (1 Kor. 15:3; Wahyu 1:5). Kita bermegah bahwa kita telah ditebus, “bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat” (1 Pet. 1:18–19).
Itulah yang dimaksud Paulus ketika ia berkata bahwa “Anak Domba Paskah kita, Kristus, telah dikorbankan.” Keselamatan kita datang melalui penggantiannya. Itulah sebabnya Tuhan dapat berkata kepada kita, “Ketika Aku melihat darah-Nya, Aku akan melewatimu.”
Satu pertanyaan yang harus Anda renungkan.
Apakah Darah-Nya Dioleskan pada Anda?
Apakah Anda tertutupi oleh darah?
Ingat apa yang dikatakan Keluaran 12. Secara tegas, tidak cukup hanya dengan menyembelih Anak Domba Paskah. Agar Tuhan melewati mereka, darahnya harus dioleskan ke pintu mereka. Jika mereka tidak melakukan hal itu, anak domba itu tidak akan membawa manfaat mereka. Dengan cara yang sama, Yohanes Calvin pernah mencatat bahwa “selama Kristus tetap berada di luar kita, dan kita terpisah dari-Nya, semua yang telah Ia derita dan lakukan demi keselamatan umat manusia akan tetap tidak berguna dan tidak bernilai bagi kita” (Institutes III.1.1).
Anda harus memandang Anak Domba yang ditikam untuk Anda, dan menerima Dia dengan iman sebagai satu-satunya perlindunganmu dari murka Allah. Iman adalah sarana yang membuat darah-Nya berlaku secara pribadi bagi Anda. Jika Anda mengetuk pintunya dengan iman yang rendah hati, Anda akan menemukan ada banyak tempat di rumahnya untuk Anda. Dan ketika Tuhan melihat darah itu, Dia akan melewati Anda.
Keselamatan melalui penggantian.
Ini adalah pesan Paskah.
Itulah pesan Jumat Agung.
Dan itulah harapan seluruh dunia.
Justin Dillehay (MDiv, The Southern Baptist Theological Seminary) is a pastor of Grace Baptist Church in Hartsville, Tennessee, where he and his wife, Tilly, reside with their four children.






