1 Februari 2025 | Steven Lee
Sebagian besar dari kita begitu mengagungkan keunggulan dan berusaha mencapai kesempurnaan. Kita ingin dokter bedah kita menjadi yang terbaik di negara ini. Kita ingin para profesor kita menjadi yang paling unggul di bidangnya. Kita ingin para atlet Olimpiade mencetak rekor dunia baru. Kita ingin tampil semenarik mungkin, dengan bantuan tata rias, pewarna rambut, pemutih kulit, olahraga, dan bahkan filter kecantikan. Kita ingin rumah kita selalu bersih dan rapi.
Kita juga dikelilingi oleh orang-orang dan institusi yang memperkuat budaya mengagungkan keunggulan ini. Suara-suara ini menyuruh kita untuk meraih gelar yang lebih banyak, naik ke jenjang berikutnya dalam karier, menambahkan pencapaian baru pada resume kita. Kesuksesan adalah segalanya; kegagalan bukanlah sebuah pilihan.
Seruan yang tidak terduga di masyarakat modern kita telah menjadi, “Lakukan yang lebih baik! Teknologi yang lebih baik untuk meningkatkan kualitas kehidupan kita. Lebih banyak akuntabilitas institusional dan tanggung jawab korporat. Pengejaran tanpa henti untuk pengembangan diri. Keunggulan, kesuksesan, dan kemajuan berkelanjutan telah menjadi trinitas suci bagi para peraih prestasi tinggi.
Namun apa jadinya jika kita tidak memenuhi standar? Bagaimana jika saya benar-benar gagal? Apa yang terjadi jika saya mengecewakan diri sendiri dan bahkan tidak mencapai standar yang memadai? Lalu bagaimana?
Benar-benar Tidak Mungkin
Kita mungkin harus memulai dengan mengingat bahwa sebagai manusia yang pada hakikatnya berdosa, kita semua sudah sangat akrab dengan kegagalan.
Walaupun Allah memerintahkan, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (Imamat 11:45), kita semua telah kehilangan kemuliaan-Nya (Roma 3:23). Kita tidak memenuhi standar. Kita tidak secara alamiah menaati atau melakukan kehendak-Nya. Kita tidak bisa dengan usaha kita melakukan semuanya dengan benar. Kita tidak dapat mengatasi dosa hanya dengan kemauan keras dan tekad belaka. Kita tidak sempurna. Kita membutuhkan kasih karunia.
Ketidaksempurnaan kita mengingatkan kita akan kebutuhan kita akan kesempurnaanKristus. Kita membutuhkan kebenaran-Nya sebagai ganti keberdosaan kita (2 Korintus 5:21). Di luar diri-Nya, identitas dan apa yang kita lakukan hanyalah sebagai manusia yang telah kehilangan kemuliaan-Nya. Kita tidak dapat menyenangkan Allah dengan kekuatan kita (Ibrani 11:6). Ketidaksempurnaan kita berkhotbah bahwa kita bahwa membutuhkan Allah.
Kekecewaan merupakan aspek yang tidak dapat disangkal dari kehidupan di dunia yang telah jatuh ke dalam dosa. Kita menanam di kebun yang dapat dilahap habis oleh penyakit, serangga, tikus, dan rusa. Atau kita menangani proyek kerja yang pada akhirnya berakhir dengan kegagalan yang spektakuler. Atau kita menghafal, berlatih, dan belajar hanya untuk menjadi gagal. Kita mengecewakan diri kita sendiri dan orang lain. Kita bahkan tidak memenuhi standar hidup kita sendiri. Inilah kehidupan di dunia yang sudah jatuh. Dan itu hendaknya mengingatkan kita bahwa kita bukanlah Allah; Dialah Allah. Sekalipun kegagalan terjadi bukan karena kesalahan kita, hal itu dapat mengingatkan kita bahwa kita adalah orang berdosa, dan kita telah gagal. Hanya Dia yang sempurna, dan kita membutuhkan kasih karunia-Nya.
Di samping pengingat mendasar ini, Allah memiliki lebih banyak hal untuk diajarkan kepada kita disaat kita tidak layak. Pertimbangkan beberapa pelajaran lain yang dapat kita pelajari dari kegagalan kita.
1. Allah menunjukkan kuasa-Nya melalui kelemahan kita.
Rasul Paulus diangkat ke surga tingkat ketiga dan melihat kemuliaan yang tidak terkatakan, namun Allah memberikan duri dalam daging kepadanya supaya ia tidak menjadi sombong (2 Korintus 12:2–4, 7). Ini bukan sekadar penderitaan yang disebabkan karena tidak bisa tidur atau sakit punggung ringan, melainkan sebuah duri dalam daging yang menyiksa — utusan Setan yang mengganggu dan mengusik. Rasa sakit yang menusuk seakan-akan berasal dari jurang neraka.
Namun duri itu datangnya dari Allah untuk menggenapi tujuan baik-Nya di dalam diri Paulus: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Korintus 12:9). Allah membiarkan umatnya lemah untuk memperlihatkan kekuatan dan kekuasaan-Nya. Kita alergi terhadap kegagalan dan kelemahan. Kita memohon kepada Allah untuk membuat kita kuat. Kita memohon kepada-Nya untuk memberi kita kekuatan yang baru, agar kita dapat terus berlari dan tidak menjadi lelah (Yesaya 40:31). Namun sebaliknya Allah mungkin menjawab doa tersebut dengan menyingkapkan kelemahan dan keterbatasan kita. Duri yang dialami oleh Paulus memperlihatkan kebesaran Allah yang melampaui segala-galanya, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh kekuatan Paulus.
Jadi, janganlah membenci ketidaksempurnaan, kegagalan, dan kelemahan. Allah mungkin sedang mempertontonkan kasih karunia dan kebaikan-Nya kepada Anda pada saat-saat tersebut. Keterbatasan mengajarkan kepada kita sebuah pelajaran yang sulit mengenai ketergantungan yang penuh dengan kerendahan hati.
2. Allah memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengukur keberhasilan
Allah memiliki ukuran keberhasilan yang berbeda dari yang dunia miliki: rekening bank yang banyak uangnya, akomodasi yang mewah, plakat, piala, penghargaan, atau gelar. Yesus memperingatkan kita agar tidak memperoleh seluruh dunia — kekayaan, kesenangan, kenyamanan, ketenaran, dan kesuksesan — namun mengorbankan jiwa kita di dalam proses mendapatkanya (Matius 16:26). Kehilangan nyawa demi nama Kristus akan menuai imbalan yang tak terbayangkan. Kesuksesan duniawi bukanlah ukuran yang digunakan Allah.
Sebaliknya, Yesus berkata kepada hamba-hamba-Nya yang baik dan setia, “Aku akan mempercayakan banyak hal kepadamu. “Masuklah ke dalam sukacita tuanmu” (Matius 25:21). Allah mengukur kesuksesan berdasarkan kesetiaan: “Orang yang setia dalam perkara kecil, setia juga dalam perkara besar” (Lukas 16:10).
Apakah kita berupaya mencapai kesuksesan sesuai dengan ukuran Allah? Apakah kita berusaha untuk setia dengan semua yang telah Dia percayakan kepada kita — waktu, bakat, dan harta? Atau apakah kita lebih-lebih sudah mengadopsi timbangan dan ukuran dari dunia? Akankah jerih payah kita menghasilkan perkataan, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia” (Matius 25:23)?
Kesampingkanlah keinginan untuk mencapai penampilan yang sempurna dengan ukuran dunia.
3. Kasih karunia Allah yang menjadikan siapa diri kita.
Di dalam Kristus, kita tidak ditentukan oleh keberhasilan atau kegagalan kita. Nilai kita tidak terletak pada apa yang kita miliki. Reputasi, resume, atau uang pensiun kitapun tidak menentukan keberhargaan kita. Kita menjadi seperti ini karena anugerah Allah.
Paulus menulis, “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.” (1 Korintus 15:10) Mana yang benar Paulus? Apakah engkau bekerja keras, atau itu karena kasih karunia? Jawaban Paulus adalah ya, keduanya. Dia bekerja keras, namun dia melakukannya karena kasih karunia. Kita juga harus berusaha, berjerih lelah, dan bekerja — karena kita tahu bahwa Allahlah yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya (Filipi 2:12–13).
Kita tidak ditentukan oleh keberhasilan ataupun kegagalan. Kita didefinisikan oleh Allah dan kasih karunia-Nya yang bekerja di dalam kita. Kasih karunia ini menguatkan dan memberdayakan kita untuk bekerja keras, sekaligus mengingatkan kita bahwa kesuksesan hanya datang dari Allah. Jadi kita bekerja, tetapi harapan kita bukan pada kemampuan kita. Kita hidup dan bekerja karena kasih karunia Allah yang bekerja dalam diri kita.
4. Roh Allah mengilhami pekerjaan yang baik.
Meskipun kita tidak dapat menjadi sempurna, kita tidak dirancang atau menyerah pada mediokritas. Jangan puas dengan hasil pekerjaan yang buruk. Jangan memiliki tujuan untuk menjadi di bawah rata-rata. Jangan memproduksi sesuatu yang hanya lumayan saja. Ketika Kemah Suci hendak dibangun, Allah berfirman kepada Musa agar Ia memenuhi Bezalel dengan Roh Allah, “dengan kecerdasan dan pengetahuan, dengan segala macam pekerjaan, untuk membuat berbagai rancangan, untuk bekerja dari emas, perak dan perunggu, untuk mengasah batu permata supaya ditatah dan untuk mengukir kayu, untuk bekerja dalam segala macam pekerjaan” (Keluaran 31:3–5). Roh Allah mempersiapkan perajin terbaik untuk membangun tempat kediaman-Nya di bumi.
Demikian pula, Allah memperlengkapi anak-anak-Nya yang dipenuhi Roh untuk membangun, menciptakan, dan melaksanakan karya-karya yang besar. Allah memberikan keterampilan ini bukan untuk mendapatkan pujian duniawi, tetapi untuk mengungkapkan keindahan dari Dia yang menciptakan segalanya. Dialah arsitek utama yang memanggil kita untuk meniru-Nya dalam menguasai dunia yang besar ini.
Pekerjaan yang baik pada hakikatnya adalah untuk Allah. Dalam Kolose, Paulus mengingatkan para hamba bahwa pekerjaan mereka adalah “untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. . . . Kamu melayani Kristus, Tuhan” (Kolose 3:23–24). Kita kesampingkan tipuan tentang kesempurnaan, dan kita juga menolak kebohongan mengenai hal-hal mediokritas. Sebaliknya, kita bekerja dengan sepenuh hati — dengan segenap kekuatan, keterampilan, dan kerajinan kita — untuk menyenangkan Yesus.
Ketidaksempurnaan yang Sempurna
Allah tidak membutuhkan kesempurnaan kita. Upaya seperti itu merusak kasih karunia-Nya dan hanya memperkuat kemandirian kita. Sebaliknya, Allah menerima orang-orang yang rendah hati, yang akan ditinggikan-Nya pada waktunya (Yakobus 4:10; 1 Petrus 5:6). Dalam kegagalan kita, kita percaya bahwa Allah akan menggenapi tujuan-Nya bagi kita sesuai dengan kasih setia-Nya (Mazmur 138:8). Meskipun kita tidak sempurna, kita memiliki Juruselamat yang sempurna yang mengundang kita untuk menerima karya-Nya yang sempurna bagi kita. Dia memberikan Roh-Nya yang menguatkan untuk memampukan kita bekerja dalam kekuatan yang telah Dia sediakan demi kemuliaan-Nya. Kita bekerja bukan untuk pujian manusia atau penanda kesuksesan duniawi. Sebaliknya, kita bekerja untuk Kristus, menghasilkan apa yang indah untuk memuliakan-Nya.
Jadi, ketika kita mengecewakan diri kita sendiri — sekali lagi — kita bisa dengan senang hati mengabarkan kepada jiwa kita bahwa kita terselubung dalam kesempurnaan Kristus. Sebagai anak-anak yang dikaruniai Roh, kita bekerja keras dengan segenap kekuatan, keterampilan, dan pengetahuan kita untuk memuliakan Kristus dalam apa pun yang ada di hadapan kita. Kita beristirahat dalam ketidaksempurnaan, dikasihi, diselimuti oleh darah Kristus, dan dimampukan untuk memuliakan Allah dalam seluruh kehidupan kita.
Steven Lee is the Pastor of Preaching and Vision at The North Church in Mounds View, Minnesota, where he lives with his wife, Stephanie, and their five children. He is a graduate of Bethlehem College and Seminary.






