Apa yang Ditimbulkan Dosa Kita
Mungkin mustahil untuk membayangkan kengerian neraka dan keganasan murka yang adil dan benar yang menghempas mereka yang di luar Kristus di hari-hari terakhir. Mungkin kata seperti keganasan di sini membuat kesan seolah-olah murka Tuhan tidak dapat dikendalikan atau seakan dibesar-besarkan. Namun tidak ada sesuatu pun yang tidak terkendali atau tidak seimbang di dalam Tuhan.
Alasan mengapa kita merasa seakan-akan murka ilahi mudah dilebih-lebihkan adalah karena kita tidak merasakan beban dosa yang sebenarnya. Martyn Lloyd-Jones, merenungkan hal ini, berkata:
Anda tidak akan pernah membuat diri Anda merasa berdosa, karena dosa membuat suatu mekanisme di dalam diri yang akan selalu membela Anda dari setiap tuduhan. Kita semua memiliki hubungan yang baik dengan diri kita sendiri, dan kita selalu bisa memberikan pembelaan yang baik untuk diri kita sendiri. Meskipun kita berusaha membuat diri kita merasa berdosa, kita tidak akan pernah melakukannya. Hanya ada satu cara untuk mengetahui bahwa kita adalah orang berdosa, yaitu dengan memiliki pemahaman yang samar-samar tentang Allah. 1
Dengan kata lain, kita tidak merasakan beratnya dosa kita karena: dosa kita. Jika kita melihat dengan lebih jelas betapa berbahaya, mudah menyebarnya, dan memuakkannya dosa itu, seperti yang dikemukakan Lloyd-Jones, kita hanya dapat melihat hal ini ketika kita melihat keindahan dan kekudusan Allah—kita akan tahu bahwa kejahatan manusia mengakibatkan penghakiman ilahi yang serius. Bahkan seseorang yang memiliki hati yang Kristus yang penuh kasih seperti Thomas Goodwin, tidak kesulitan untuk menyatakan bahwa jika “murkaNya terhadap dosa adalah api”, maka “segala yang ada di bumi tidak akan . . . cukup memanaskan tungku murkaNya.” 2
Dan sama seperti kesulitan kita dalam memahami keganasan ilahi yang menanti mereka yang di luar Kristus, demikian pula kita juga sulit memahami kelembutan ilahi kepada mereka yang di dalam Kristus. Kita mungkin merasa sedikit malu atau tidak nyaman atau bahkan merasa bersalah jika menekankan kelembutan Tuhan secara intens seperti murka-Nya. Namun Alkitab tidak merasakan ketidaknyamanan itu. Renungkan Roma 5:20: “Di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah.” Rasa bersalah dan malu orang-orang yang ada di dalam Kristus selalu terlampaui oleh kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah. Ketika kita merasa seolah-olah pikiran, perkataan, dan perbuatan kita semakin memudarkan anugerah Tuhan terhadap kita, dosa-dosa dan kegagalan-kegagalan tersebut malah menyebabkannya semakin melonjak.
Rasa bersalah dan malu orang-orang yang ada di dalam Kristus selalu terlampaui oleh kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah.
Suatu Misteri yang Mendalam
Tetapi marilah kita menekankan prinsip yang tidak dapat diganggu gugat ini dalam penerapan Injil. Kita telah membicarakan kasih karunia Allah dan bagaimana kasih itu diberikan selalu disertai dengan pemenuhan kebutuhan yang berlimpah. Namun sejujurnya, tidak ada “hal” yang disebut anugerah. Itulah teologi Katolik Roma, di mana kasih karunia adalah semacam simpanan harta yang dapat diakses melalui berbagai cara yang dikontrol dengan cermat. Namun kasih karunia Allah datang kepada kita tidak lebih dan tidak kurang dari Yesus Kristus yang datang kepada kita. Dalam Injil alkitabiah kita tidak diberikan suatu barang; kita diberikan seseorang.
Mari kita telusuri lebih dalam lagi. Apa yang kita terima ketika kita diberi Kristus? Lebih tepatnya, jika kita berbicara bahwa kasih karunia akan selalu keluar ketika kita berdosa melalui Kristus, maka kita dihadapkan pada sebuah aspek penting dari siapa Kristus itu – sebuah aspek alkitabiah yang suka direnungkan oleh kaum Puritan: ketika kita berdosa, hati Kristus menjadi dekat dengan kita.
Hal ini mungkin membuat sebagian dari kita merasa aneh. Jika Kristus benar-benar kudus, bukankah Ia harus menjauhi dosa?
Di sini kita masuk ke dalam salah satu misteri terdalam tentang siapakah Allah di dalam Kristus. Bukan hanya kekudusan dan keberdosaan yang sama-sama eksklusif dan saling bertentangan, namun Kristus, yang kekudusannya sempurna, dapat mengetahui dan merasakan kengerian dan beban dosa lebih dalam dari yang bisa kita rasakan oleh siapa pun yang berdosa—sama seperti semakin murni hati seseorang, semakin dia akan merasakan kengerian atas pikiran bahwa tetangganya akan dirampok atau dianiaya. Sebaliknya, semakin rusak hati seseorang, semakin kecil pula pengaruh kejahatan di sekelilingnya kepada dirinya.
Mari bawa analogi ini lebih jauh lagi. Seperti halnya semakin murni hati seseorang, semakin takutlah ia terhadap kejahatan, demikian pula semakin murni hati, secara alamiah ia akan tertarik untuk membantu, meringanka, serta melindungi dan menghibur, sedangkan hati yang rusak akan diam saja dan acuh tak acuh. Begitu juga dengan Kristus. Kekudusan-Nya mendapati kejahatan sebagai pemberontakan yang lebih dalam dari apa yang kita dapat rasakan. Namun kekudusan itulah yang juga menarik hatinya untuk membantu dan meringankan serta melindungi dan menghibur. Sekali lagi kita harus mengingat perbedaan krusial antara mereka yang tidak berada di dalam Kristus dan mereka yang berada di dalam Kristus. Bagi mereka yang bukan milik-Nya, dosa menimbulkan murka yang kudus. Bagaimana Tuhan yang bermoral bisa memberikan tanggapan sebaliknya? Namun bagi mereka yang menjadi milik-Nya, dosa membangkitkan kerinduan yang suci, cinta yang suci, kelembutan yang suci. Dalam teks kunci mengenai kekudusan ilahi (Yes. 6:1-8), kekudusan itu (Yes. 6:3) secara langsung dan alami mengalir menjadi pengampunan dan belas kasihan (Yes. 6:7).
Begini cara Goodwin menjelaskannya saat ia menutup bukunya The Heart of Christ dengan serangkaian aplikasi penutup. Merenungkan “penghiburan dan dukungan” yang kita rasakan karena Kristus sendiri yang merasakan kepedihan akibat dosa dan penderitaan kita, ia menulis:
Ada penghiburan atas kelemahan-kelemahan itu, karena dosa-dosa Anda menggerakkan rasa belas kasihannya dibanding perasaan amarah. . . . Karena dia menderita bersama kita di dalam kelemahan kita, dan kelemahan yang dimaksud adalah dosa, serta kesengsaraan lainnya. . . . Kristus mengambil bagian bersama Anda, dan sama sekali tidak terprovokasi terhadap Anda, karena seluruh kemarahan-Nya diarahkan untuk menghancurkan dosa Anda; ya, rasa belas kasihanNya yang semakin besar kepada Anda, sebagaimana hati seorang ayah terhadap anaknya yang mengidap penyakit yang menjijikkan, atau seperti hati seorang ayah terhadap anggota tubuh anaknya yang menderita kusta, ia tidak membenci anggota tubuhnya, sebab itu adalah dagingnya, tapi penyakitnya, dan itu membuatnya merasakan belas kasihan pada bagian yang terkena dampaknya. Apa yang tidak akan terjadi pada kita, 3 apabila dosa-dosa kita, baik terhadap Kristus maupun terhadap diri kita sendiri, dijadikan sebagai motif agar Dia semakin mengasihani kita?
Semakin besar kesengsaraannya, semakin besar pula belas kasihan pada orang-orang yang dikasihiNya. Dari semua kesengsaraan itu, dosalah yang terbesar; dan ketika Anda melihatnya seperti itu, Kristus juga akan melihatnya seperti itu. Dan Dia, yang mencintai Anda dan hanya membenci dosa, semua kebenciannya akan jatuh hanya kepada dosa, untuk membebaskan Anda dari dosa itu melalui kehancurannya, namun kasih sayangnya akan semakin tertuju kepada Anda; dan hal ini terjadi ketika Anda berada di bawah dosa dan ketika Anda berada di bawah penderitaan lainnya. Oleh karena itu jangan takut. 4
Apa yang dikatakan Goodwin di sini? Jika Anda adalah bagian dari tubuh Kristus, dosa-dosa Anda membangkitkan hati-Nya yang terdalam, yaitu belas kasihan-Nya. Dia “mengambil bagian bersama Anda”—maksudnya, Dia ada di pihak Anda. Dia memihak Anda melawan dosa Anda, bukan melawan Anda karena dosa Anda. Dia membenci dosa. Tapi dia mencintai Anda. Kita memahami hal ini, kata Goodwin, ketika kita mempertimbangkan kebencian seorang ayah terhadap penyakit mengerikan yang menimpa anaknya—ayah membenci penyakit tersebut namun tetap mencintai anaknya. Memang benar, pada tingkat tertentu kehadiran penyakit tersebut semakin menarik hatinya kepada anaknya.
Hal ini tidak berarti mengabaikan sisi disiplin dari kepedulian Kristus terhadap umat-Nya. Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa dosa-dosa kita menghasilkan disiplin Kristus (misalnya, Ibr. 12:1–11). Dia tidak akan benar-benar mengasihi kita jika hal itu tidak benar. Namun ini pun merupakan cerminan hatinya yang besar terhadap kita. Ketika ada bagian tubuh yang terluka, maka dibutuhkan rasa sakit dan tenaga terapi fisik. Namun terapi fisik tersebut tidak bersifat menghukum; itu dimaksudkan untuk membawa kesembuhan. Terapi fisik diberikan untuk merawat anggota tubuh tersebut.
Catatan akhir:
- Martyn Lloyd-Jones, Seeking the Face of God: Nine Reflections on the Psalm (Wheaton, IL: Crossway, 2005), 34.
- Thomas Goodwin, Of Gospel Holiness in the Heart and Life, in The Works of Thomas Goodwin, 12 Jilid. (repr., Grand Rapids, MI: Reformation Heritage, 2006), 7:194.
- Artinya, apa yang tidak boleh digunakan untuk keuntungan dan kesejahteraan kita.
- Thomas Goodwin, The Heart of Christ (Edinburgh: Banner of Truth, 2011), 155–56.
Artikel ini diadaptasi dari Gentle and Lowly: The Heart of Christ for Sinners and Sufferers
Dane C. Ortlund adalah seorang pendeta senior di Naperville Presbyterian Church di Illinois, Amerika Serikat. Ia adalah penulis buku Gentle and Lowly: The Heart of Christ for Sinners and Sufferers dan Deeper: Real Change for Real Sinners. Dane dan istrinya, Stacey, memiliki lima orang anak.






