| Oleh: Crossway – 14 Februari 2020
Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah istri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.
Contoh pertama dari penundukan umum (Ef. 5:21) diilustrasikan saat Paulus menasihati para istri untuk tunduk kepada suami mereka (Ef. 5:22–24, 33). Sebaliknya, para suami tidak diperintahkan untuk tunduk kepada istrinya, tetapi untuk mengasihi mereka (Ef. 5:25–33). Contoh pertama Paulus tentang penundukan umum dari Ef. 5:21 adalah urutan yang benar dalam hubungan pernikahan (lihat juga Kol. 3:18; 1 Pet. 3:1–7). Kepatuhan istri tidaklah seperti kepatuhan anak terhadap orang tua, dan teks ini tidak memerintahkan semua wanita untuk tunduk kepada semua pria (kepada suamimu sendiri, bukan kepada semua suami!). Laki-laki dan perempuan sama-sama diciptakan menurut gambar Allah (Kej. 1:26–28) dan bersama-sama menjadi pewaris kehidupan kekal (Gal. 3:28–29). Penundukkan ini merupakan penghormatan kepada kepemimpinan sang suami demi kesehatan dan keharmonisan dalam hubungan pernikahan.
Fokus dalam ayat-ayat ini adalah pada Kristus, karena suami tidak “menguduskan” istri mereka atau “membersihkan” mereka dari dosa, meskipun mereka harus melakukan segala yang mereka bisa untuk mendorong kekudusan istri mereka. “Menguduskan” di sini berarti “mengkhususkan mereka untuk menjadi pelayanan Tuhan melalui penyucian dan pembasuhan dengan air.” Hal itu mungkin merujuk kepada baptisan, karena Alkitab seringkali mengatakan dan menggambarkan hal-hal rohani yang tidak kelihatan (dalam hal ini, penyucian rohani) dengan menunjuk kepada tanda fisik yang tampak dari hal tersebut (lihat Rm. 6:3-4). Mungkin juga ada kaitannya di sini dengan Yehezkiel 16:1–13, saat Tuhan mencuci Israel yang masih bayi, membesarkannya, dan akhirnya mengangkatnya menjadi bangsawan dan menikahinya, yang berarti mempersembahkan gereja kepada diri-Nya dalam kemegahan pada perjamuan pernikahan-Nya (lihat juga Yeh. 36:25; Wahyu 19:7–9; 21:2, 9–11). Tanpa cacat. Kekudusan dan moral gereja yang sempurna akan disempurnakan saat kebangkitan yang mulia, tetapi itu berasal dari pengorbanan pengudusan Kristus di kayu salib.
TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”
“Tidak baik” merupakan kontras yang mencolok dengan Kej. 1:31; jelas, situasi di sini belum sampai pada “sangat baik.” “Aku akan menjadikan dia” juga dapat diterjemahkan “Aku akan menjadikan baginya,” yang menjelaskan pernyataan Paulus dalam 1 Kor. 11:9. Untuk menemukan seorang penolong yang sesuai, Tuhan membawa kepada Adam semua ternak, burung, dan binatang-binatang di padang. Namun, tidak ada satu pun yang terbukti “cocok” untuk Adam. “Penolong” (Ibrani ‘ezer’) adalah orang yang memberikan kekuatan pada bagian yang kurang dari “yang ditolong.” Istilah ini tidak mengimplikasikan bahwa penolong itu lebih kuat atau lebih lemah daripada yang ditolong. “Cocok untuknya” atau “sesuai dengannya” (lih. catatan kaki ESV) tidak sama dengan “seperti dia”: seorang istri bukan salinan suaminya melainkan melengkapinya.
Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”
“Apa yang telah dipersatukan Allah” mengimplikasikan bahwa pernikahan bukan sekadar kesepakatan manusia, melainkan suatu hubungan di mana Allah mengubah status pria dan wanita dari yang sebelumnya lajang (bukan lagi dua orang) menjadi pasangan suami istri (satu daging). Sejak saat mereka menikah, mereka dipersatukan dalam cara yang misterius yang tidak dimiliki oleh hubungan manusia lainnya, memiliki semua hak dan tanggung jawab pernikahan yang diberikan Allah, yang tidak mereka miliki sebelumnya. Menjadi “satu daging” mencakup penyatuan seksual antara suami dan istri (lihat Kej. 2:24), tetapi lebih dari sekadar itu, karena artinya mereka telah meninggalkan rumah orang tua mereka (“seorang pria akan meninggalkan ayahnya dan ibunya,” Kej. 2:24) dan telah membentuk keluarga baru, sehingga kesetiaan manusiawi mereka yang utama sekarang adalah kepada satu sama lain, sebelum siapa pun. Yesus menghindari argumen orang Farisi tentang alasan perceraian dan kembali ke awal penciptaan untuk menunjukkan maksud Allah bagi institusi pernikahan. Pernikahan seharusnya menjadi ikatan permanen antara seorang pria dan seorang wanita yang menyatukan mereka dalam suatu ikatan baru yang dikuduskan melalui hubungan fisik (Kejadian 2:24).
4. Kolose 3:18
Hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah istrimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.
Daripada menyuruh para istri untuk “taat” (Yunani hypakouō), seperti yang lazim dalam rumah tangga Roma, Paulus menghimbau mereka untuk “tunduk” (Yunani hypotassō), berdasarkan keyakinannya bahwa laki-laki memiliki peran kepemimpinan yang diberikan Allah dalam keluarga. Istilah ini mengusulkan suatu tatanan masyarakat di mana para istri seharusnya menyelaraskan diri dan menghormati kepemimpinan suami mereka (lihat Ef. 5:22–33). Paulus tidak memerintahkan para istri untuk mengikuti pola budaya yang berlaku saat itu tetapi untuk hidup sebagaimana mestinya di hadapan Tuhan. Tujuh kali dalam sembilan ayat ini (Kol. 3:18–4:1) Paulus mendasarkan instruksinya pada “Tuhan” atau istilah yang setara, dengan demikian menekankan pentingnya mengevaluasi segala sesuatu dalam terang Kristus dan ajaran-Nya.
5. 1 Petrus 3:7
Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan istrimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.
Nasihat Petrus kepada suami disampaikan secara singkat. Mungkin karena dia lebih banyak membahas orang-orang yang lebih mungkin diperlakukan buruk di bawah otoritas (para budak dan istri-istri). Kata “demikian pula” hanyalah sebuah transisi (lih. 1 Pet. 3:1; 5:5); kata ini tidak berarti suami harus tunduk kepada istrinya, karena Alkitab tidak pernah mengajarkan hal ini (lih. Ef. 5:21–33). “Untuk hidup … dengan cara yang penuh pengertian” kemungkinan berfokus pada hidup sesuai dengan kehendak Allah, termasuk memahami kebutuhan seorang istri. Para penafsir berbeda pendapat mengenai apakah bejana yang lebih lemah berarti lebih lemah dalam hal otoritas yang diberikan, emosi, atau kekuatan fisik. Petrus mungkin memikirkan fakta umum bahwa laki-laki secara fisik lebih kuat daripada wanita dan mungkin tergoda untuk mengancam istri mereka melalui kekerasan fisik atau verbal. Wanita dan pria memiliki takdir yang setara sebagai “ahli waris … akan anugerah kehidupan.” Petrus tidak menganggap wanita lebih rendah daripada pria, karena keduanya sama-sama diciptakan menurut gambar Allah (lih. Galatia 3:28). Jika suami tidak memperlakukan istrinya dengan cara yang saleh, Tuhan tidak akan mendengarkan doa mereka.
6. Ibrani 13:4
Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.
Pernikahan haruslah dihormati, dan kesucian dalam pernikahan dituntut, dengan peringatan bahwa Allah akan menghakimi siapa saja yang terlibat dalam perbuatan cabul (bahasa Yunani pornos, istilah umum yang merujuk kepada siapa saja yang melakukan hubungan seksual di luar pernikahan antara seorang pria dan seorang wanita) atau yang berzinah (bahasa Yunani moichos, merujuk kepada siapa saja yang tidak setia kepada pasangannya). Peringatan ini ditujukan kepada anggota gereja, dan jika mereka adalah orang Kristen yang sejati, penghakiman Allah ini tidak berarti penghukuman terakhir ke neraka (lih. Roma 8:1), tetapi akan mendatangkan penghakiman disiplin dalam kehidupan ini (lih. Ibrani 12:5–11) atau kehilangan pahala di hari terakhir, atau keduanya. Namun, berdasarkan peringatan-peringatan sebelumnya (Ibr. 3:12-14; Ibr. 6:4-8; Ibr. 10:26-31; Ibr. 12:14-17), bisa saja perbuatan cabul semacam itu merupakan suatu tanda bahwa orang yang melakukannya sebenarnya bukanlah orang percaya sejati dan belum dilahirkan kembali.
Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi celakalah orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!
Orang yang bijaksana akan bekerja berdampingan dengan orang lain, menikmati hasil yang baik, dan menemukan pertolongan pada saat dibutuhkan. Orang yang bijaksana akan mengejar usaha bersama daripada menyerah pada hasrat cemburu untuk menjadi yang pertama (berbeda dengan Pengkhotbah 4:8, 10, 11), suatu persaingan yang mengisolasi dirinya dari orang lain.
Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari Laki-laki.” Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.
Ketika tidak ditemukan pasangan yang sesuai di antara semua makhluk hidup, Allah menciptakan seorang wanita dari daging pria. Teks ini menekankan rasa kesatuan yang ada di antara pria dan wanita. Adam dengan gembira berseru, “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku.” Istilah ini digunakan di tempat lain untuk menyebut saudara sedarah (Kej. 29:14). Kalimat ini dan kisah penciptaan Hawa, keduanya menekankan bahwa pernikahan menciptakan hubungan manusia yang paling dekat. Penting pula untuk diperhatikan bahwa Allah hanya menciptakan satu Hawa untuk Adam, bukan beberapa Hawa atau Adam yang lain. Hal ini menunjukan monogami heteroseksual sebagai pola ilahi untuk pernikahan yang ditetapkan Allah saat penciptaan.
Selain itu, ikatan kekerabatan antara suami dan istri menciptakan kewajiban yang bahkan mengesampingkan kewajiban kepada orang tua (sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, Kej. 2:24). Di zaman Israel, anak laki-laki tidak pindah ketika mereka menikah, tetapi tinggal di dekat orang tua mereka dan mewarisi tanah ayah mereka. Mereka “meninggalkan” orang tua mereka dalam artian mendahulukan kesejahteraan istri mereka daripada kesejahteraan orang tua mereka. Istilah “bersatu” digunakan di tempat lain untuk menggambarkan kesetiaan pada perjanjian (misalnya, Ul. 10:20; lihat bagaimana Paulus menggabungkan teks-teks ini dalam 1 Kor. 6:16–17); dengan demikian, teks-teks Alkitab lainnya dapat menyebut pernikahan sebagai “perjanjian” (misalnya, Ams. 2:17; Mal. 2:14).
Ajaran Paulus tentang pernikahan dalam Ef. 5:25–32 didasarkan pada teks ini. Makna diciptakan untuk satu sama lain lebih jauh tercermin dalam permainan kata yang melibatkan istilah “laki-laki” dan “perempuan”; dalam bahasa Ibrani, kata ini masing-masing adalah ‘ish dan ‘ishshah. Akibat dari hubungan khusus ini, Kej. 2:24 mencatat bahwa ketika seorang laki-laki meninggalkan orang tuanya dan mengambil seorang istri, maka keduanya menjadi satu daging, yaitu satu kesatuan (persatuan laki-laki dan perempuan, yang disempurnakan dengan hubungan seksual). Yesus mengacu pada ayat ini dan Kejadian 1:27 untuk menjelaskan pandangannya tentang pernikahan (Matius 19:4–5).
9. Yesaya 62:5
Sebab seperti seorang muda belia menjadi suami seorang anak dara, demikianlah Dia yang membangun engkau akan menjadi suamimu, dan seperti girang hatinya seorang mempelai melihat pengantin perempuan, demikianlah Allahmu akan girang hati atasmu.
“Anak-anak kami” adalah penduduk setia Sion (di sini, kota abadi Allah; lih. Mazmur 87). Sebuah gambaran puitis yang menunjukkan bahwa penduduk Yerusalem akan mencintai dan menghargai kota mereka: penduduk Sion akan selamanya berkomitmen dan bergembira di tempat kediaman kekal mereka, karena umat Tuhan ada di sana, dan Tuhan sendiri ada di sana. Gambaran puitis dalam kitab Yesaya meninggalkan kesan yang luar biasa tentang sukacita, kegembiraan, kebenaran, keindahan, keamanan, dan kedamaian. Dengan berani menggunakan gambaran manusia yang familiar tentang sukacita dan kegembiraan yang tak terungkapkan, Tuhan berkata bahwa kegembiraannya terhadap umat-Nya akan seperti kegembiraan seorang mempelai laki-laki terhadap mempelai wanitanya. Yesaya menjelaskan bahwa dalam rencana besar keselamatan Allah, Dia tidak hanya mengampuni umat-Nya, melindungi mereka, menyembuhkan mereka, menyediakan kebutuhan mereka, memulihkan mereka ke rumah mereka, mendamaikan mereka satu sama lain, mengubah mereka sehingga mereka menjadi benar, menghormati mereka, mengangkat mereka di atas semua bangsa, dan menjadikan mereka berkat bagi semua bangsa, seperti yang Dia panggil mereka untuk menjadi—tetapi lebih dari semua hal ini, Dia benar-benar bersukacita atas umat-Nya.
10. 1 Korintus 7:2–5
Tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai istrinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri. Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap istrinya, demikian pula istri terhadap suaminya. Istri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi istrinya. Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak.
Jemaat Korintus diperintahkan untuk setia dalam pernikahan mereka, menghindari perceraian, dan merasa puas dengan panggilan mereka. Paulus memakai frasa “sekarang mengenai” untuk pertama kalinya di sini untuk beralih dari masalah yang ada dalam laporan lisan dari umat Kloe (1 Kor. 1:10–11) ke masalah yang tertulis dalam surat dari Korintus. Frasa yang sama diulang di sejumlah tempat sepanjang sisa surat 1 Korintus (lihat 1 Kor. 7:25; 1 Kor. 8:1; 1 Kor. 12:1; 1 Kor. 16:1, 12) di mana frasa tersebut memperkenalkan topik-topik tambahan dari surat jemaat Korintus. Beberapa orang Kristen Korintus tampaknya telah menganut pandangan bahwa hubungan seksual dalam bentuk apa pun, bahkan dalam pernikahan, harus dihindari. Paulus berusaha dengan hati-hati membantah pandangan ini di sepanjang pasal ini (lihat 1 Kor. 7:2, 5, 9, 10, 28, 36).
Allah merancang pernikahan sebagai tempat untuk mengekspresikan seksualitas manusia. Seks dalam pernikahan memiliki manfaat relasional dan spiritual (Kej. 2:24; Ef. 5:31; lihat juga 1 Kor. 6:17). Seks juga memiliki manfaat praktis dengan mengurangi godaan untuk terlibat dalam dosa seksual (lihat 1 Korintus 7:9).






