Ibu Rasa Sakitmu Nyata tetapi Penghiburan Tuhan Juga Nyata

Ibu, Rasa Sakitmu Nyata—tetapi Penghiburan Tuhan Juga Nyata

16 Januari 2023 — Katie Faris

Menjadi seorang ibu tidak berjalan persis seperti yang saya bayangkan. Ada tantangan dalam memberi makan, rawat inap di rumah sakit, diagnosis yang tak terduga, dan tes medis yang berulang. Suatu bulan September, ketika hasil laboratorium salah satu anak saya menunjukkan ketidaknormalan, intensitas respons emosional saya mengejutkan diri saya sendiri. Meskipun jumlah sel darah kembali normal dalam satu atau dua minggu, Tuhan menolong saya melihat bahwa angka-angka laboratorium yang aneh itu mewakili sesuatu yang jauh lebih besar—sesuatu yang tidak bisa saya kendalikan. Hal itu menunjuk pada luka hati yang lebih dalam dan kehancuran, sakit penyakit, masa depan yang tidak diketahui, serta ketakutan saya akan kehilangan terlalu dini.

Kita sebagai ibu bisa terlalu peka terhadap tantangan yang dihadapi anak-anak kita. Kita bisa setia mendoakan mereka dan bahkan meminta orang lain untuk turut mendoakan mereka. Namun, kita mungkin tetap tidak menyadari betapa dalamnya rasa sakit anak-anak kita mempengaruhi kita. Mengakui bagaimana penderitaan yang berkaitan dengan peran sebagai ibu menyentuh hati kita sering kali menjadi langkah penting untuk mengalami penghiburan Tuhan di ruang-ruang lembut dalam hati kita. Ketika kita mengenali pergumulan kita sebagaimana adanya dan berseru memohon pertolongan Tuhan, kita akan menemukan bahwa sama seperti penderitaan itu nyata, penghiburan Tuhan pun nyata.

Mengakui Rasa Sakit Itu

Mungkin ada anggota keluarga yang mengatakan bahwa keadaan sulit yang anda alami sebenarnya tidak terlalu buruk atau hanya ada di pikiranmu, seolah-olah anda hanya perlu melupakannya dan melanjutkan hidup. Bisa jadi seorang teman yang berniat baik mencoba memberikan solusi untuk memperbaiki situasi sulit, padahal yang anda butuhkan terlebih dahulu adalah empati dan kata-kata, “Aku sungguh turut berduka.” Atau mungkin anda sendiri telah mengabaikan suatu kesulitan, berharap itu akan hilang dengan sendirinya, tanpa menyadari dampaknya terhadap diri dan keluarga anda.

Saudari-saudariku, apa pun yang telah dikatakan orang lain kepadamu dan apa pun yang anda katakan pada dirimu sendiri, aku ingin anda mendengar penegasan ini tentang pergumulan dan rasa sakitmu: penderitaanmu itu nyata. Aku tidak tahu secara spesifik kesulitan apa yang anda hadapi, tetapi entah kita menyadarinya atau tidak ketika kita memilih untuk menjadi orang tua, penderitaan adalah teman yang pasti ada di perjalanan ini. Sejak kejatuhan manusia dalam dosa, perempuan mengalami rasa sakit yang berkaitan dengan melahirkan (Kej. 3:16)—dan itu tidak terbatas hanya pada proses persalinan.

Beberapa pergumulan lebih berat daripada yang lain. Ada yang sementara, dan ada pula yang tidak akan berakhir sampai kita berada di surga. Ada yang merupakan konsekuensi, langsung atau tidak langsung, dari dosa kita sendiri; ada yang merupakan akibat dari dosa orang lain terhadap kita; dan ada pula yang penyebabnya mungkin tidak pernah kita pahami sepenuhnya. Namun demikian, setiap jenis penderitaan yang kita alami berkaitan dengan dosa di dunia yang telah jatuh ini (Rm. 8:20–23):

“Entah kita menyadarinya atau tidak ketika kita memilih untuk menjadi orang tua, penderitaan adalah teman yang pasti ada di perjalanan ini.”

Kesedihanmu saat berjalan di lorong dengan tangan yang kosong.


Kekhawatiranmu saat terjaga di malam hari menunggu anak remaja laki-lakimu pulang.


Kursi roda, janji temu alergi, inhaler, dan kacamata.


Panggilan telepon dari polisi bahwa telah terjadi kecelakaan.


Program pendidikan individual (IEP) anak perempuan anda.


Pergelangan tangan yang patah saat bermain olahraga.


Ketakutan anakmu terhadap perundungan di sekolah.


Kekhawatiranmu terhadap anak laki-laki dewasamu yang belum mendapatkan pekerjaan.


Depresi pascamelahirkan yang anda alami.

Balitamu yang sedang melawan flu.
Anakmu yang memberontak.


Dan masih banyak lagi.

Kita sebagai ibu mengalami dampak nyata dari hidup di dunia yang rusak oleh dosa. Seberapapun baiknya niat kita, mengabaikan pergumulan tersebut atau menyangkal kenyataannya sangat berbeda dengan mempercayai Tuhan di dalamnya.

Bukan saja mengabaikan atau menyangkalnya menghambat proses pemulihan, tetapi juga membuat kita lebih rentan terhadap pencobaan untuk berbuat dosa dan lebih mudah mempercayai kebohongan Iblis. Setidaknya, hal itu menumbuhkan rasa kemandirian yang palsu dan membuat kita buta terhadap ketergantungan kita kepada Tuhan serta kepada saudara-saudari seiman kita. Namun, dengan rendah hati mengakui penderitaan dan rasa sakit kita, disertai dengan berseru kepada Tuhan, kita menempatkan diri kita pada posisi untuk menerima penghiburan yang Dia tawarkan.

Menerima Kenyataan

Rasul Paulus mengingatkan orang percaya bahwa “harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. ” (2 Kor. 4:7–9). Tetapi apa artinya menjadi bejana tanah liat?

Kita diciptakan dari urat dan daging, darah dan tulang, sel T dan kelenjar pituitari, progesteron dan estrogen. Sebagai perempuan, kita dirancang untuk mengandung dan melahirkan, tetapi bahkan ketika rahim tidak berfungsi sebagaimana mestinya dan kita tidak dapat memiliki anak, Tuhan tetap merancang kita sebagai bejana bagi kemuliaan-Nya. Dan meskipun kita diciptakan dengan dahsyat dan ajaib (Mzm. 139:14), ada alasan Paulus menyebut orang Kristen hanya sebagai “bejana tanah liat.”

Ketika saya mengisi toples kaca dengan saus apel buatan sendiri, keluarga saya tidak menjadi antusias terhadap toplesnya, melainkan terhadap isi di dalamnya. Kita tidak dirancang untuk menarik perhatian pada diri kita sendiri—pada kapasitas, daya tahan, atau kecukupan kita—melainkan pada harta yaitu Kristus yang hidup di dalam kita, kuasa Allah yang melampaui segalanya, dan karya Injil yang mengubahkan.

Sebagai bejana tanah liat, kita perlu menerima kenyataan kondisi kita. Adalah baik bagi kita untuk mengakui ketika kita ditindas, bingung, dianiaya, dan dijatuhkan. Dengan demikian, kita berada dalam posisi yang lebih baik untuk menyatakan kemuliaan Allah.

Menerima Penghiburan dari Allah

Kita tidak perlu menekan rasa sakit kita, menutupinya, atau membuktikan apapun melaluinya. Kita dapat berlari kepada Bapa surgawi kita, “Bapa segala belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami” (2 Kor. 1:3–4). Di hadapan-Nya, kita bisa jujur tentang pergumulan kita dan belajar apa arti penghiburan yang sejati.

Penghiburan menurut Alkitab bukan sekadar selimut hangat atau secangkir kopi panas (meskipun saya menikmatinya di pagi musim dingin). Penghiburan dari Allah menguatkan kita dan menolong kita tetap teguh dalam iman di tengah penderitaan, bukan hanya setelah kita melewatinya.

Penghiburan ini berkaitan dengan Yesus Kristus, yang lahir sebagai “penghiburan bagi Israel” (Luk. 2:25), Dia yang menjamin penghiburan kita dan melalui-Nya kita memiliki “dorongan yang kuat untuk menjangkau pengharapan yang terletak di depan kita. Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita” (Ibr. 6:18–19). Dan kita mengalami penghiburan Allah hari ini melalui pelayanan Roh Kudus, Sang Penghibur (Yoh. 14:16, 26; 15:26; 16:7).

Sejauh tingkat manapun anda mengalami penderitaan, penghiburan Allah juga nyata dan tersedia. Pemazmur menulis, “Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu” (Mzm. 119:71). Meskipun pada hari-hari sulit kita mungkin meragukan kebenaran pernyataan ini, ada kebenaran berharga di dalamnya: pergumulan kita memberi kesempatan untuk mengenal Allah dan firman-Nya dengan cara yang mungkin tidak kita alami dalam keadaan lain. Termasuk mengenal Allah sebagai Penghibur kita dan mengalami penghiburan-Nya di bagian-bagian tersulit dalam perjalanan menjadi seorang ibu.

Catatan editor: Artikel ini diadaptasi dari buku Katie Faris, God Is Still Good: Gospel Hope and Comfort for the Unexpected Sorrows of Motherhood (TGC/Crossway, Januari 2023).

Katie Faris adalah istri seorang pendeta dan ibu dari lima anak. Ia adalah penulis beberapa buku, termasuk Every Hour I Need You: 30 Meditations for Moms on the Character of God dan God Is Still Good: Gospel Hope and Comfort for the Unexpected Sorrows of Motherhood. Ia beribadah di Sovereign Grace Church di Marlton, New Jersey.

Langganan Dapatkan Berita Terbaru

Jangan lewatkan artikel, renungan yang mendalam, berpusat pada Injil, dan meninggikan Kristus. Kami hadirkan panduan untuk hidup Kristen Anda setiap minggu.

Layanan Pelanggan

Ikuti Kami

Dapatkan informasi terbaru dari Living Word melalui media sosial kami. Klik icon yang ada dibawah ini

Copyright ©Living Word (PT Berita Baik Indonesia). All Rights Reserved

Eksplorasi konten lain dari Living Word

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca